Refleksi Raina Purnama Sadha, Tradisi Spiritualitas yang Merosot, Alam Bali Hancur Lebur “Benyah Latig”

0
43

 

Oleh : Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan.

 

Hari ini, Minggu, 31 Mei 2026 “nemu” Raina Purnama Sadha, Icaka 1948. Kembali diingatkan banjir bandang yang menerjang Denpasar, Badung dan Gianyar, 10 September 2025 “nemu” raina Buda Kliwon Pagerwesi telah membuka kotak pandora krisis lingkungan yang menerpa Bali. “Gumine benyah latig” dengan kerusakan lingkungan yang dashyat, kerusakan yang nyaris tak terpulihkan. Simak saja kerusakan lingkungan di empat danau: Batur, Beratan, Buyan, Tamblingan. Gunung Tampurhyang yang rusak parah, nyaris sangat sulit untuk dipulihkan. DAS Tukad Ayung dengan tutupan hutan 49,000 ha, sekarang tinggal 1,500 ha. Siap-siap saja ke depan, Gianyar, Denpasar dan Badung mengalami banjir bandang yang semakin membesar. DAS lainnya mengalami “nasib” yang sama dengan derajat keparahan yang berbeda, DAS: Telaga Waja, Tukad Unda, Tukad Aya dan DAS lainnya.
Empat hutan utama: Pengejaran (Kintamani Barat), Penulisan (Kintamani Utara), kawasan hutan yang “menyelimuti” Gunung Agung dan Gunung Batukaru, mengalami alih fungsi yang dashyat lengkap dengan proses peng”rusak”an.
Kawasan Pesisir “setali tiga uang”, ditambah oleh “dasa muka” fasilitas wisata yang melanggar aturan tata ruang dan ketentuan Amdal.
Temuan Pansus TRAP DPRD Bali telah membuka dengan sangat telanjang dari kehancuran Alam Bali yang tidak terpanai.
Terjadi paradoks besar di sini, kearifan kehidupan Tri Hita Karana terus digabungkan, Pemda Bali mencanangkan visi Sad Kerthi Loka Bali, Sat Kerthi Loka Bali (baca dalam bahasa orang awam, melahirkan sorga di dunia), tetapi realitasnya Alam Bali rusak parah, kerusakan parah tertinggi semenjak era Bali Mula, lebih dari 1,000 tahun yang lalu.
Timbul pertanyaan, kenapa paradoks besar ini terjadi, yang merupakan titik-titik hitam dalam sejarah Bali-the dark numbers of Bali’ history-?.
Jawabannya sederhana, tradisi spiritualitas Bali ditinggalkan dan bahkan dicampakkan.
Tradisi spiritualitas manusia Bali yang membumi, tidak abstrak “mengukir langit abstrak rokhani”dalam sistem nilai yang melahirkan rujukan prilaku, menyebut beberapa, pertama, pemimpin adalah pemberi teladan, sipat siku”, “sesuduk kayun” bagi masyarakatnya. Kedua, manusia yang dekat dengan alam, “berguru” dari Alam, kehidupannya bersahaja, jujur, tidak serakah dan tidak munafik. Ketiga, memilih kehidupan “Jalan Tengah” DUMALADA, keseimbangan Skala – Niskala, jasmani – rokhani, material- spiritual, pantang untuk “memuja” benda dengan segala ornamennya: kekayaan, kekuasaan, bentuk-bentuk luar yang memperdaya dan menipu.
Alam rusak parah, manusia Bali gamang merespons perubahan, dalam fenomena “menunda” kekalahan peradaban dan kebudayaan, tampil dalam ornamen luar yang “wah”, ekspresi dari sikap “belog ajum” dan “ajum-ajuman”, sehingga mudah menjadi “mangsa” dari berbagai pihak yang tidak bertanggung-jawab. Merujuk pemikiran Soetan Takdir Alisjahbana tentang kebudayaan, kebudayaan ekspresif (seni budaya, spiritualitas) mengalami kemerosotan, kebudayaan progresif (ekonomi dan iptek) mandek, kebudayaan organisational (politik dan kekuasaan) menuju ke titik nadirnya. Slogan Ajeg Bali dan seluruh ornamen yang menyertainya, sekadar upaya menunda kekalahan, lari dari kenyataan, ilusi fata morgana yang berakhir dengan kekecewaan dan juga putus asa sosial.

Baca Juga :  Pemkab Tabanan Serahkan LKPD T.A 2020 Kepada BPK RI Perwakilan Bali

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here