Jelang Penutupan TPA Suwung, TPS-3R Seminyak Beli Alat Canggih Bersihkan Sampah, Seperti Apa?

0
36
Ket foto : Pemilik TPS3R Seminyak, I Komang Ruditha Hartawan (Koming)

Balinetizen.com, Badung –

 

Pengelolaan sampah di Bali tengah memasuki babak baru yang krusial. Menghadapi rencana penutupan TPA Sarbagita (Suwung) pada 30 Juli 2026, TPS-3R Desa Adat Seminyak melakukan langkah berani dengan mentransformasi sistem operasionalnya. Tidak tanggung-tanggung, mereka menggabungkan kekuatan hukum adat (Pararem) dengan teknologi uap panas (steam) mutakhir dari Denmark.

​Ketua TPST-3R Desa Adat Seminyak, Komang Ruditha Hartawan (yang akrab disapa Koming), mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menyiapkan transisi menuju teknologi modern yang ramah lingkungan. Teknologi ini dirancang untuk mengolah sampah organik maupun anorganik tanpa melalui proses pembakaran.

​Keunggulan Teknologi Steam Denmark di Seminyak, antara lain Nilai Investasi: Mencapai lebih dari Rp33 miliar, Kapasitas Tinggi: Mampu mengolah hingga 30 ton sampah per hari dan Minim Residu.

“Dari total 30 ton input, hanya menyisakan sekitar 100 kg residu,” ungkapnya ditemui belum lama ini.

​Nilai Ekonomi Sirkular: Hasil olahan berupa material kering yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif (RDF) pengganti batu bara untuk pabrik semen dan PLN.

​Meski dikenal sebagai garda terdepan, TPS-3R Seminyak tidak luput dari tantangan berat. Saat ini, fasilitas tersebut mengalami penyesuaian signifikan akibat penyusutan cakupan layanan yang kini hanya berfokus pada wilayah Desa Adat Seminyak.

​”Dulu pendapatan kami bisa menyentuh Rp500 juta per bulan karena menangani hotel dan restoran besar di luar wilayah. Sekarang, orientasi kami bukan lagi profit, melainkan menjaga kebersihan lingkungan,” ujar Koming

​Beberapa kendala yang tengah dihadapi antara lain: Krisis Tenaga Kerja: Jumlah pekerja menyusut dari 52 orang menjadi 26 orang karena sulitnya mencari SDM di sektor sampah.

​Armada Terbatas: Dari 28 unit armada yang dimiliki, kini hanya 6 unit yang aktif beroperasi.

Baca Juga :  Donald dan Melania Trump positif COVID-19

​Efisiensi Biaya: Biaya operasional yang sebelumnya mencapai Rp390 juta per bulan harus ditekan demi keberlangsungan fasilitas.

​Transformasi teknologi di Seminyak dipastikan tidak akan berjalan tanpa dukungan sistem sosial yang kuat. Koming menegaskan bahwa kunci keberhasilan mereka terletak pada kedisiplinan warga yang diatur melalui Pararem (Aturan Adat).

​Sistem ini mewajibkan setiap rumah tangga dan pelaku usaha (hotel/restoran) untuk memilah sampah menjadi tiga kategori utama: Organik Basah,nOrganik Kering dan Anorganik (Botol plastik, kaca, logam, dll.)

​”Sampah yang tidak dipilah tidak akan kami angkut. Masalah sampah harus selesai dari rumah tangga. Itu kuncinya,” tegasnya.

​Langkah Desa Adat Seminyak ini membuktikan bahwa fasilitas canggih harus dibarengi dengan edukasi masif di tingkat hulu. Dengan perpaduan sistem sosial-adat dan adopsi teknologi hijau, Seminyak memposisikan diri sebagai model percontohan pengelolaan sampah mandiri di Bali.

​Visi ini diharapkan mampu memutus ketergantungan pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan menciptakan siklus ekonomi baru yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal maupun industri.

(Jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here