
Balinetizen.com, Denpasar –
Gubernur Bali, Wayan Koster, memberikan instruksi khusus kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar untuk memperketat tata kelola lingkungan. Koster meminta tingkat kesadaran masyarakat dalam memilah sampah ditingkatkan hingga melampaui angka 90 persen.
Instruksi ini disampaikan langsung oleh Koster dalam acara Sosialisasi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan yang digelar di Gedung Dharma Negara Alaya (DNA) Denpasar, Jumat (8/5/2026).
Koster mengapresiasi capaian Denpasar yang saat ini berada di angka 87 persen. Namun, bagi orang nomor satu di Bali ini, angka tersebut belum cukup untuk menjadikan Bali sebagai destinasi kelas dunia yang bersih.
”Pak Wali saya minta tingkatkan kesadaran pilah sampah jadi di atas 90 persen, kalau lebih bagus lagi 100 persen,” tegas Koster.l, Jumat (8/5).
Ia menjelaskan bahwa urusan sampah bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan urusan “perut” masyarakat Bali yang bergantung pada pariwisata. Jika sampah dikelola dengan baik, citra Bali di mata dunia akan melesat.
”Kalau sampah ini bagus kita kelola, citra pariwisata Bali akan naik, tingkat hunian hotel akan naik. Sehingga PAD dan PHR-nya akan meningkat,” tambahnya.
Lebih lanjut, Koster mengingatkan bahwa persaingan destinasi wisata saat ini bukan lagi antarprovinsi di Indonesia. Bali kini tengah “berperang” memperebutkan wisatawan dengan negara-negara maju di Asia.
”Kita tidak lagi bersaing dengan daerah di Indonesia, tapi luar negeri seperti Thailand, Jepang, dan Korea,” kata Koster mengingatkan.
Gubernur juga menargetkan ambisi besar: Bali Bersih Sampah pada Tahun 2028. Untuk mencapai itu, ia meminta sektor usaha seperti hotel, restoran, kafe, hingga katering (Horeka) wajib melakukan pemilahan sampah dari sumbernya.
Di lokasi yang sama, Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara memaparkan data terkini dari Dashboard Survey program Denpasar Prama Sewaka. Hasilnya, mayoritas warga Denpasar sebenarnya sudah mulai disiplin.
Dari 55.986 responden (setara 30 persen total KK di Denpasar), tercatat:
87% (48.628 responden): Sudah memilah sampah di rumah.
13% (7.349 responden): Masih belum melakukan pemilahan.
79% (44.051 rumah tangga): Sudah mengelola sampah organik secara mandiri.
Jaya Negara juga merinci bahwa sistem pengelolaan sampah berbasis sumber sudah masuk ke dunia pendidikan dan pemerintahan.
Sekolah: 248 sekolah telah menggunakan 648 teba modern dan 253 tong komposter.
Pemerintahan: 37 instansi perangkat daerah sudah menerapkan sistem serupa dengan 283 teba modern.
Upaya ini diharapkan menjadi modal kuat bagi Denpasar untuk menjawab tantangan Gubernur Koster dalam mewujudkan Bali bebas sampah dua tahun mendatang.
(Jurnalis : Tri Widiyanti)
