Yayasan Mahima Indonesia Menggelar SLF Bertemakan “Stri Sasana : Energi Keseimbangan Semesta”, Hadirkan Puluhan Penulis Dari Indonesia Dan Mancanegara

0
45

 

Balinetizen.com, Buleleng

 

Yayasan Mahima Indonesia menggelar Singaraja Literary Festival (SLF) bertemakan “Stri Sasana : Energi Keseimbangan Semesta”, yang akan berlangsung pada tanggal 3–5 Juli 2026 Di Singaraja.

Untuk kali keempat pagelaran ini, menghadirkan puluhan penulis dari Indonesia dan mancanegara. Dalam artian Kota Singaraja kembali bersiap menjadi panggung pertemuan para penulis, filolog, akademisi, dan pegiat budaya.

Singaraja Literary Festival akan menghadirkan puluhan program yang mempertemukan sastra, manuskrip, dan berbagai gagasan kebudayaan dalam satu ruang yang berpusat di kawasan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng.

Sejumlah nama besar dipastikan hadir dalam festival yang memasuki tahun keempat penyelenggaraannya ini. Filolog Sugi Lanus, sastrawan Oka Rusmini, Romo A. Setyo Wibowo, Ratih Kumala, JS Khairen, Sasti Gotama, Prof. I Nyoman Darma Putra, I Ketut Eriadi Ariana, hingga sejumlah penulis muda lainnya akan berbagi pemikiran dalam berbagai forum diskusi, lokakarya, hingga pertunjukan seni.

Di tengah semakin sempitnya ruang publik berbasis pengetahuan, kehadiran para penulis tersebut bukan sekadar menjadi daya tarik festival, melainkan bagian dari upaya menghubungkan kembali warisan pengetahuan masa lalu dengan konteks masyarakat hari ini.

Tahun ini, Singaraja Literary Festival mengangkat tema “Stri Sasana: Energi Keseimbangan Semesta”, yang diambil dari salah satu khazanah lontar Bali yang tersimpan di Gedong Kirtya Singaraja. Tema tersebut menjadi pintu masuk untuk membaca ulang warisan pengetahuan Bali sekaligus menempatkan perempuan sebagai bagian penting dalam bangunan peradaban.

Pendiri dan direktur Festival, Kadek Sonia Piscayanti, mengatakan tema tersebut lahir dari keinginan menghadirkan dialog antara masa lalu dan masa kini melalui warisan manuskrip.

“Substansi Stri Sasana tidak dimaksudkan hanya untuk perempuan dan tidak pula menempatkan perempuan sebagai objek pasif dalam peneguhan patriarki. Pustaka ini justru mengandung nilai agar perempuan tangguh menghadapi tantangan, mampu memainkan berbagai peran, bijak, dan bermartabat sesuai kedudukannya di masyarakat,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin 22 Juni 2026.

Singaraja Literary Festival secara serius ingin menghidupkan kembali Gedong Kirtya sebagai pusat peradaban manuskrip dunia yang menjadi potensi kebaruan SLF.

Baca Juga :  DPRD Badung Bahas RTRW 2025-2045: Gerindra Tekankan Keseimbangan Lingkungan

“Di samping itu, Singaraja Literary Festival juga akan mempromosikan potensi sastra dan potensi kota Singaraja, sehingga bisa membuat dampak ekonomi seperti meningkatkan hunian hotel, dan menarik perhatian orang luar Bali ke Singaraja.” Tambah Made Adnyana Ole, pendiri SLF. Dia mengatakan SLF menjadi daya tarik lain yang menambah alasan orang datang ke Singaraja.

Singaraja sendiri memiliki posisi penting dalam sejarah intelektual Bali dan Nusantara. Kota ini pernah menjadi ibu kota Sunda Kecil dan dikenal sebagai tempat lahirnya banyak cendekiawan Bali. Salah satu penopang penting tradisi intelektual tersebut adalah Gedong Kirtya, perpustakaan pertama dan tertua di Bali yang menyimpan ribuan manuskrip lontar, prasasti, dan naskah kuno.

Koleksi tersebut merekam berbagai sistem pengetahuan, mulai dari sastra, sejarah, pengobatan tradisional, etika, hukum, hingga kosmologi. Namun, kekayaan pengetahuan itu kini menghadapi tantangan besar.

Modernisasi, perubahan pola literasi, serta menyusutnya ruang publik berbasis pengetahuan membuat manuskrip-manuskrip tersebut semakin jauh dari pembacanya. Banyak naskah tersimpan rapi, tetapi tidak lagi menjadi bagian dari percakapan masyarakat.

Kondisi itulah yang mendorong lahirnya Singaraja Literary Festival pada 2023. Festival ini dirancang sebagai strategi kebudayaan untuk memperluas akses publik terhadap warisan pengetahuan lontar sekaligus menghidupkan kawasan cagar budaya sebagai ruang publik yang inklusif dan berkelanjutan.

“Peta persebaran sejarah manuskrip di Nusantara dan dunia sebenarnya berangkat dari Kirtya. Karena itu kami memiliki proyeksi sepuluh tahun ke depan untuk menjadikan Gedong Kirtya sebagai pusat peradaban manuskrip dunia,” kata Sonia.

Tema “Stri Sasana: Energi Keseimbangan Semesta” dipilih dengan mengambil inspirasi dari lontar Stri Sasana yang diwariskan dalam bentuk tutur atau prosa serta geguritan.

Secara etimologis, kata stri dalam bahasa Jawa Kuno berarti perempuan, sedangkan sasana berarti ajaran, aturan, etika, dan landasan moral. Dengan demikian, Stri Sasana dapat dipahami sebagai ajaran mengenai perempuan yang memuat nilai etika, moral, dan tata kehidupan.

Namun, menurut Sonia, pemaknaan terhadap naskah tersebut tidak boleh berhenti pada pembacaan yang sempit. Dalam perspektif yang lebih luas, Stri Sasana justru menunjukkan bahwa perempuan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari bangunan pengetahuan Bali.

Baca Juga :  Cok Ace : Begitu Pariwisata Dibuka, Bali Tetap Optimis Raih Peluang Menjadi Destinasi Pariwisata yang Unggul

“Ini menunjukkan bahwa kedudukan perempuan menjadi bagian yang sejajar dalam peradaban pengetahuan Bali,” katanya.

Melalui tema tersebut, festival ingin menunjukkan bahwa feminisme tidak selalu bertentangan dengan tradisi. Sebaliknya, tradisi dapat menjadi sumber untuk membaca kembali martabat perempuan dan memperkuat nilai-nilai kesetaraan.

Tema ini juga dimaksudkan untuk membuka ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Bukan untuk mengkultuskan seluruh isi naskah ataupun menghakiminya dengan ukuran zaman sekarang, melainkan memahami bagaimana masyarakat masa lalu memandang perempuan dan bagaimana nilai-nilai itu dapat ditafsirkan ulang agar lebih relevan dengan kehidupan masa kini.

Dalam kosmologi Bali, perempuan memiliki posisi penting sebagai daya penciptaan, pemeliharaan, dan keberlanjutan kehidupan. Energi feminin dipandang sebagai bagian dari keseimbangan semesta, sehingga kepemimpinan dan suara perempuan menjadi bagian penting dalam menjaga harmoni sosial, budaya, dan lingkungan.

Salah satu daya tarik utama SLF 2026 adalah hadirnya para penulis dan pemikir dari berbagai latar belakang.

Nama Sugi Lanus akan membawa pembacaan filologis terhadap berbagai naskah klasik Nusantara. Penulis dan pengajar Universitas Udayana, I Ketut Eriadi Ariana, akan mengulas hubungan antara sastra klasik dan sastra modern serta relevansinya dengan perkembangan zaman.

Sastrawan Oka Rusmini, yang selama ini dikenal melalui karya-karya yang kritis terhadap persoalan perempuan dan budaya Bali, juga akan hadir berbagi pandangan. Kehadiran Oka menjadi salah satu magnet penting karena karya-karyanya banyak berbicara mengenai tubuh perempuan, identitas, dan relasi kuasa dalam masyarakat.

Prof. I Nyoman Darma Putra akan menghadirkan perspektif akademis mengenai sastra dan kebudayaan Bali dalam konteks global. Sementara Romo A. Setyo Wibowo akan membawakan berbagai refleksi mengenai keseimbangan, kesehatan mental, dan kejujuran semesta.

Penulis novel populer Ratih Kumala turut dijadwalkan hadir dalam festival. Nama Ratih semakin dikenal luas setelah sejumlah karyanya diadaptasi ke layar lebar dan serial televisi. Kehadirannya menjadi ruang perjumpaan antara sastra serius dengan sastra populer yang dekat dengan generasi muda.

Baca Juga :  Bhakti Penganyar Pemkab Bangli di Pura Mandara Giri Semeru Agung Lumajang

Sementara itu, JS Khairen yang memiliki basis pembaca kuat di kalangan muda akan menjadi salah satu pembicara yang diprediksi menarik perhatian peserta festival. Karya-karyanya yang ringan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari menjadikan penulis ini memiliki penggemar yang luas.

Penulis muda Sasti Gotama juga akan meramaikan berbagai forum diskusi. Kehadiran para penulis lintas generasi tersebut menunjukkan bahwa festival ini tidak hanya berbicara mengenai masa lalu, tetapi juga membuka ruang bagi perkembangan sastra kontemporer.

Selain mereka, sejumlah penulis, akademisi, pegiat budaya, dan pelaku industri kreatif lainnya akan hadir dalam 42 program yang disiapkan panitia.

Berbagai kegiatan yang digelar meliputi panel diskusi, kuliah umum, bedah buku, workshop, laboratorium promotor sastra, refleksi kesehatan mental, pameran, pertunjukan seni, hingga ruang pertemuan bagi komunitas.

Sejak pertama kali digelar pada 2023, Singaraja Literary Festival berkembang menjadi salah satu festival sastra terbesar di Bali Utara.

Festival ini tidak hanya menjadi ruang pertemuan para penulis dan pembaca, tetapi juga membuka akses masyarakat terhadap kekayaan manuskrip yang selama ini tersimpan di Gedong Kirtya.

Berbeda dengan festival sastra pada umumnya, SLF menggabungkan sastra dengan warisan pengetahuan lokal, manuskrip, seni pertunjukan, dan ruang dialog lintas disiplin.

Model tersebut membuat festival ini menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan modernitas.

Melalui tema “Stri Sasana: Energi Keseimbangan Semesta”, Singaraja Literary Festival 2026 tidak hanya menghadirkan parade penulis dan pemikir nasional, tetapi juga menghidupkan kembali percakapan tentang manuskrip, perempuan, dan masa depan kebudayaan.

Di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat, festival ini seakan mengingatkan bahwa lembar-lembar lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Di dalamnya terdapat pengetahuan, ingatan, dan nilai-nilai yang masih dapat dibaca ulang untuk menjawab tantangan masa kini.

Dan selama tiga hari pada awal Juli nanti, Singaraja kembali akan menjadi ruang tempat berbagai gagasan bertemu, para penulis berbicara, dan warisan pengetahuan lama menemukan pembacanya yang baru. GS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here