Ket foto : Manager Dewi Penglipuran, I Wayan Sumiarsa (no 2 tengah tanpa kacamata), saat simakrama media di Denpasar, Senin (22/6).
Balinetizen.com, Denpasar
Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, bersiap menggelar Penglipuran Village Festival ke-13 pada 9 Juli – 11 Juli 2026. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, festival kali ini lebih menitikberatkan pada peningkatan kualitas kegiatan dan pengalaman wisatawan dibanding mengejar jumlah kunjungan semata.
Manager Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, mengatakan tema yang diusung tahun ini menitikberatkan pada nilai keharmonisan dan keseimbangan kehidupan masyarakat Penglipuran sebagai fondasi pariwisata berkelanjutan.
“Untuk tahun 2026 ini memang kami lebih banyak fokus pada peningkatan kualitas festival. Wisatawan yang datang tidak hanya melihat, tetapi juga bisa melakukan aktivitas, belajar, menikmati atraksi, dan membeli produk lokal. Jadi ada something to do, something to learn, something to see, dan something to buy,” ujarnya, Senin (22/6).
Menurut Sumiharsa, konsep tersebut diharapkan mampu memberikan pengalaman yang lebih mendalam bagi wisatawan sekaligus memperkuat manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Selain dampak ekonomi, keberadaan festival juga dinilai membantu pelestarian adat dan budaya yang selama ini menjadi identitas Desa Penglipuran.
“Pariwisata secara langsung mendukung kegiatan adat istiadat kami, termasuk dari sisi pembiayaan berbagai kegiatan budaya dan tradisi masyarakat,” jelasnya.
Pada Penglipuran Village Festival tahun lalu, jumlah kunjungan tercatat mencapai sekitar 5.000 orang dan bahkan melebihi kapasitas yang diharapkan panitia.
Karena itu, tahun ini pengelola memutuskan menurunkan target kunjungan menjadi sekitar 3.000 hingga 4.000 orang.
“Tahun lalu sudah mencapai sekitar 5.000 pengunjung dan bisa dikatakan over kapasitas. Sekarang kami lebih fokus pada kualitas, sehingga target kami turunkan menjadi sekitar 4.000 pengunjung,” katanya.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kenyamanan wisatawan sekaligus menjaga kualitas penyelenggaraan festival.
Di tengah tantangan kondisi ekonomi global dan persaingan destinasi wisata, Penglipuran Village Festival 2026 diarahkan untuk menarik wisatawan dari segmen menengah ke atas.
Menurut Sumiarsa, saat ini wisatawan mancanegara yang banyak berkunjung ke Desa Penglipuran berasal dari kawasan Eropa dan China.
“Kalau tahun lalu lebih didominasi wisatawan Asia, sekarang mulai banyak wisatawan dari Eropa. Selain itu wisatawan China juga mulai meningkat berkunjung ke desa kami,” ungkapnya.
Meski demikian, wisatawan domestik masih mendominasi kunjungan ke Desa Penglipuran dengan porsi sekitar 80 persen dari total wisatawan.
Melalui Penglipuran Village Festival ke-13, pihaknya berharap wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati keindahan desa dan berfoto, tetapi juga mendapatkan pemahaman lebih dalam mengenai adat, tradisi, dan kehidupan masyarakat Bali.
“Kami ingin wisatawan mendapatkan pengalaman dan edukasi tentang adat istiadat yang ada di Penglipuran. Harapannya, pengalaman itu menjadi kenangan yang tak terlupakan dan mereka bawa pulang setelah berkunjung ke sini,” pungkas Sumiarsa.
Penglipuran Village Festival 2026 diharapkan menjadi salah satu agenda wisata budaya unggulan Bali yang tidak hanya mendukung sektor pariwisata, tetapi juga memperkuat pelestarian tradisi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
(Jurnalis : Tri Widiyanti)

