Keyakinan Konsumen Bali Masih Kuat pada Mei 2026, Bank Indonesia Perkuat Stabilitas Harga

0
42

 

 

Balinetizen.com, Denpasar

 

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Provinsi Bali pada Mei 2026 tetap berada pada zona optimistis dengan capaian 121,9 atau masih berada di atas ambang optimisme (indeks >100). Meski mengalami penurunan dibandingkan April 2026 yang mencapai 124,09, tingkat keyakinan konsumen di Bali masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang tercatat sebesar 120,9.

Berdasarkan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia, optimisme masyarakat Bali ditopang oleh meningkatnya keyakinan pada sejumlah kelompok pengeluaran. Peningkatan tertinggi terjadi pada kelompok pengeluaran Rp6–7 juta yang naik 21 persen secara bulanan (month to month/mtm), disusul kelompok Rp5–6 juta sebesar 11 persen, Rp2–3 juta sebesar 9 persen, dan Rp3–4 juta sebesar 8 persen.

Selain itu, optimisme juga tercermin dari tingkat keyakinan masyarakat yang bekerja di sektor informal dengan indeks 124,7 dan sektor formal sebesar 119,3.

Namun demikian, perlambatan IKK dibandingkan bulan sebelumnya dipengaruhi oleh melemahnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE). Pada Mei 2026, IKE turun menjadi 117,5 dari sebelumnya 120,7 pada April atau menurun 2,7 persen secara bulanan.

Penurunan tersebut dipengaruhi oleh melemahnya seluruh komponen utama, yakni persepsi terhadap konsumsi barang tahan lama saat ini dibandingkan enam bulan lalu yang berada di level 105,0, ketersediaan lapangan kerja sebesar 125,0, serta penghasilan saat ini dibandingkan enam bulan lalu yang berada di angka 122,5. Sementara itu, komponen kegiatan usaha relatif stabil di level 100,0.

Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) juga mengalami penurunan tipis menjadi 126,3 atau turun 0,9 persen dibandingkan April 2026. Penurunan terutama terjadi pada komponen prakiraan penghasilan dan kegiatan usaha. Meski demikian, optimisme terhadap ketersediaan lapangan kerja enam bulan mendatang masih meningkat menjadi 126,0 atau naik 0,8 persen secara bulanan.

Baca Juga :  Wabup Suiasa Buka Sosialisasi Pembentukan Desa Getting To Zero di Kecamatan Mengwi

Bank Indonesia Provinsi Bali menjelaskan bahwa penurunan keyakinan konsumen pada awal hingga pertengahan Mei dipengaruhi sejumlah faktor eksternal maupun domestik. Salah satunya adalah meningkatnya kekhawatiran terhadap kenaikan harga pangan global serta perlambatan kunjungan wisatawan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Selain itu, inflasi Bali pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,42 persen (mtm). Kenaikan harga terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, khususnya komoditas beras, cabai rawit, dan cabai merah yang memengaruhi persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini.

Sebagai langkah menjaga stabilitas ekonomi daerah, Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi maupun kabupaten/kota se-Bali terus memperkuat sinergi melalui operasi pasar, pengawasan harga komoditas strategis, serta penguatan distribusi pangan.

Di saat yang sama, Bank Indonesia juga mempertahankan bauran kebijakan moneter dengan menetapkan BI-Rate sebesar 5,50 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,50 persen, dan Lending Facility sebesar 6,25 persen. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Bali.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, menegaskan bahwa sinergi pengendalian inflasi dan kebijakan moneter yang konsisten diharapkan mampu memperkuat daya beli masyarakat serta menjaga optimisme konsumen di tengah berbagai tantangan ekonomi global.(rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here