Menjaga Warisan ‘The Father of Balinese Studies’, Unud Didorong Abadikan Nama Prof. IGN Bagus

0
53

Balinetizen.com, Denpasar

Ketua Fraksi Demokrat NasDem DPRD Provinsi Bali, Dr. Somvir, mendorong Universitas Udayana (Unud) memberikan penghargaan yang layak kepada almarhum Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus. Tokoh ini dikenal luas sebagai salah satu peletak dasar kajian kebudayaan Bali di tingkat internasional hingga dijuluki “The Father of Balinese Studies”.

​Dorongan tersebut disampaikan Dr. Somvir usai mengikuti rapat Komisi I DPRD Provinsi Bali di Gedung DPRD Bali, Senin (13/7/2026). Menurutnya, jasa Prof. Gusti Ngurah Bagus terhadap perkembangan Universitas Udayana, dunia akademik, pelestarian kebudayaan Bali, hingga penguatan ajaran Hindu sangat besar dan layak dikenang melalui penghormatan resmi dari almamaternya.

​Dr. Somvir mengaku memiliki kedekatan emosional yang erat dengan almarhum. Ia mengenang Prof. Gusti Ngurah Bagus sebagai sosok senior ketika dirinya pertama kali datang ke Bali sebagai dosen tamu di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Baginya, Prof. Bagus merupakan akademisi visioner yang berperan penting dalam membangun fondasi intelektual Unud sejak awal berdirinya.

​”Universitas Udayana berawal dari Fakultas Sastra. Beliau merupakan salah satu tokoh utama yang membangun fondasi akademik dan intelektual kampus ini. Pemikirannya melampaui zamannya dan hingga kini masih relevan bagi pembangunan Bali,” ujar Dr. Somvir.

​Ia menilai kontribusi Prof. Gusti Ngurah Bagus tidak hanya berhenti pada dunia pendidikan. Berbagai gagasan yang diperjuangkan almarhum juga memberi pengaruh besar terhadap penguatan kelembagaan adat dan kehidupan keagamaan di Bali. Bahkan, sejumlah konsep yang berkembang saat ini, termasuk penguatan Majelis Desa Adat (MDA), tidak dapat dilepaskan dari pemikiran besar Prof. Bagus.

​Selain dikenal sebagai antropolog dan budayawan, Prof. Gusti Ngurah Bagus juga memiliki jejaring akademik internasional yang sangat luas. Banyak murid dan koleganya kini menjadi profesor di berbagai universitas di Indonesia maupun luar negeri. Kiprah tersebut semakin mengukuhkan reputasinya sebagai salah satu ilmuwan Bali yang berhasil memperkenalkan kebudayaan dan kajian Hindu Indonesia ke panggung dunia.

Baca Juga :  Antisipasi TPPO, PJ Bupati Buleleng Dorong Upaya Keberangkatan PMI Secara Legal

​Dr. Somvir mengungkapkan bahwa kontribusi Prof. Bagus dalam memperkuat hubungan akademik internasional Universitas Udayana juga sangat signifikan. Salah satunya melalui penyelenggaraan Seminar Internasional Ramayana dan Mahabharata yang menghadirkan berbagai tokoh nasional, termasuk Megawati Soekarnoputri saat masih menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.

​Momentum seminar internasional tersebut turut mendorong percepatan penyelesaian pembangunan auditorium Universitas Udayana di Kampus Bukit Jimbaran, sekaligus memperluas jejaring kerja sama akademik dengan berbagai institusi luar negeri.

​Di mata Dr. Somvir, Prof. Gusti Ngurah Bagus adalah teladan sejati bagi dunia pendidikan yang tidak pernah berhenti membaca, belajar, dan menulis. Semangat intelektual ini dinilai patut diwariskan kepada generasi akademisi muda di Bali.

​Sebagai langkah nyata, Dr. Somvir mengajukan tiga usulan konkret kepada pihak Universitas Udayana:

​Mengabadikan Nama Gedung: Mengabadikan nama almarhum sebagai nama salah satu gedung di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud.

​Pusat Dokumentasi Pemikiran: Menghimpun dan melestarikan seluruh karya ilmiah, buku, manuskrip, serta hasil penelitian Prof. Gusti Ngurah Bagus dalam perpustakaan Unud.

​Seminar Kebudayaan Rutin: Menyelenggarakan seminar kebudayaan secara rutin setiap tahun untuk mengkaji kembali gagasan-gagasan besar almarhum.

​”Beliau mencintai budaya dan agama Hindu Bali dengan sepenuh hati. Pemikiran dan keteladanannya harus terus hidup melalui kegiatan akademik, penelitian, dan pelestarian karya-karyanya agar dapat menjadi inspirasi bagi generasi penerus,” tegasnya.

​Dr. Somvir juga mengingat peran besar Prof. Gusti Ngurah Bagus dalam memperkenalkan kajian Hindu Indonesia kepada dunia internasional, termasuk keterlibatannya dalam penyusunan buku Hinduism in Modern Indonesia yang diterbitkan oleh Leiden University.

​Sebelumnya, sosok akademisi senior ini kembali dikenang melalui diskusi bertajuk “93 Tahun Prof. IGN. Bagus: Sebuah Catatan Pinggir Antara Kiprah dan Kaprah Perjuangannya” yang digelar di Mahalo Cafe, Renon, Denpasar, Minggu (12/7/2026).

Baca Juga :  Tim Penyidik Jaksa Tetapkan Tersangka Bendesa dan Bendahara Desa Adat Tista

​Forum yang diprakarsai I Ketut Ngastawa tersebut menghadirkan Putu Suasta dan Prof. Dr. I Gede Mudana, M.Si., sebagai narasumber, dengan moderator Nyoman Baskara. Diskusi ini dihadiri oleh sejumlah akademisi, tokoh masyarakat, serta perwakilan keluarga besar almarhum.

​Melalui forum tersebut, berbagai pihak menegaskan kembali bahwa pemikiran dan perjuangan Prof. Gusti Ngurah Bagus bukan sekadar bagian dari sejarah masa lalu Universitas Udayana, melainkan warisan intelektual Bali yang harus terus dijaga dan diwariskan ke masa depan.(IVN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here