Jro Gde Sudibya, intelektual kebangsaan dan pengamat kecenderungan masa depan.
Dalam perspektif sejarah pemikiran dan kemudian sejarah gerakan kebangsaan, api kebangsaan telah memerdekan negeri dari penghinaan dan kehinaan sebagai negara jajahan.
Dari Soekarno kita bisa banyak belajar tentang paham kebangsaan, “the art of the nation”, patriotisme, kecintaan pada negeri, visi besar bangsa ke depan, dengan optimisme besar untuk membangun negeri dengan cita-cita mulya yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana sering disampaikan Soekarno, kemerdekaan politik merupakan jembatan emas untuk mencapai cita-cita kemerdekaan, dalam retorika Soekarno melalui “nation and character building”, membangun bangsa dan karakternya.
Dari Pak Hatta kita bisa belajar tentang disiplin keimanan dalam melakoni perjuangan hidup dan kehidupan, dalam “nation state” Indonesia untuk mencapai kesejahteraan bersama, melalui demokrasi ekonomi dan politik.
Dari Soetan Sjahrir, kita bisa belajar banyak tentang demokrasi yang memulyakan manusia dan kemanusiaan Sebagai pondamen dasar dalam membangun negeri.
Dari Muhammad Yamin, putra Minang yang begitu gandrung dan “kesengsem” tentang budaya Nusantara, pelontar gagasan Bhineka Tunggal Ika Sebagai sesanti negara, sebagai batu penjuru di sebuah negeri yang bernama Indonesia.
Dari Sri Sultan Hamengkubowono ke IX, Kita bisa banyak belajar, visi kebangsaan, “sense of nation hood”, patriotisme buat negeri, dengan rela dan besar hati meninggalkan sejumlah privilege, hak-hak istimewa dan juga mengorbankan hartanya untuk mendanai Republik di usia mudanya.
Kontras dengan sejarah pemikiran dan keteladan di atas, realitas negeri ini, “jauh panggang dari api” dibandingkan idealisme para pendiri bangsa.
Terjadi paradoks, paradoks yang dalam antara idealisme para pendiri bangsa yang tertuang dalam Konstitusi UUD 1945 yang mereka rumus-perjuangkan. Indonesia ‘paradox in history perspective-.
Korupsi kekuasaan telah menjadi budaya, meminjam ramalan dalam Jangka Jayabaya, “sak iki zaman edan, sopo sing edan orang kaduman”. Sekarang zaman gila, siapa yang tidak gila tidak kebagian.
Membenarkan kritik satire yang disampaikan Pak Hatta di awal kemerdekaan, dengan merujuk pendapat filosof Jerman Schler, “suatu abad besar telah lahir, tapi ia (abad itu) hanya ditemukan manusia-manusia kerdil”.
Manusia-manusia kerdil yang serakah, haus kuasa, penuh tipu muslihat, membodohi dan memproduksikan kedunguan.
Keserakahan yang mengantarkan negeri ke jurang kehancuran.
Dirgahayu 81 Tahun Indonesia Merdeka.

