Cegah Bali Jadi Endemik Virus Corona, Stop Sementara Kunjungan Wisman

0
379

 

 

Balinetizen.com, DENPASAR  –

 

Anggota Komisi IX DPR RI asal daerah pemilih (Dapil) Bali, I Ketut Kariyasa Adnyana, meminta untuk menyetop sementara kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Pulau Bali. Itu sebagai langkah antisipasi dan mencegah Pulau Bali menjadi endemik wabah virus corona.
“Pemprov Bali kan sudah bentuk Satgas. Ini juga sesuai dengan arahan ketua DPR RI. Kita lebih bagus mulai mengambil sikap penolakan dulu terhadap wisatawan. Jangan sampai terjadi seperti di Italia, Lockdown total itu,” ujar Kariyasa Adnyana, Jumat (13/3).
Menurutnya, semua pihak perlu bekerja serius untuk menanggulangi wabah virus corona di Bali. Ia mengapresiasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali yang sudah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanggulan Virus Corona.
Politisi PDI Perjuangan asal Busungbiu, Buleleng ini meminta agar penanggulangan virus corona di Bali mengutamakan keselamatan nyawa manusia. Karena itu, walaupun harus berdampak terhadap pariwisata, ia meminta Pemerintah untuk menghentikan sementara kunjungan wisatawan dari luar negeri ke Bali sampai Pulau Dewata ini benar-benar steril dari virus corona.
Kata dia, walaupun penyebaran virus ini tergantung pada kondisi tubuh, tapi tidak semua orang daya tahan tubuhnya bagus. Karena itu, menurut Kariyasa Adnyana, harus diambil kebijakan untuk menghentikan kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali.
Menurutnya, pemerintah tak bisa mengandalkan pemeriksaan wisatawan di bandara untuk menangkal wabah virus corona masuk ke Bali. Dikatakan, kendati pemeriksaan di bandara tidak ada tanda-tanda terinfeksi virus corona, bukan jaminan mereka benar-benar bebas dari virus corona.
“Tidak menjamin apa yang dideteksi di bandara bahwa mereka tidak terkena Corona. Buktinya ini (warga negara Inggris postitif Corona yang meninggal di RSUP Sanglah) tidak terdeteksi di bandara,” tegas Kariyasa.
Mantan Ketua Komisi IV DPRD Bali ini meningatkan bahwa hampir semua negara menerapkan kebijakan untuk menghentikan kedatangan orang luar negeri ke negaranya. Menurutnya, Pemerintah Indonesia juga sudah mengambil kebijakan serupa, tapi terbatas pada negara-negara yang menjadi sumber endemi virus corona, seperti China, Korea, Jepang, Iran, dan Italia. Namun, karena yang positif corona dan meninggal justru warga negara Inggris, negara yang bukan endemik virus corona, maka kebijakan menghentikan kedatangan wisman itu berlaku untuk semua negara.
“Jadi kita harus berani ambil sikap distop dulu (wisman datang ke Bali-red). Karena sekarang hampir semua negara sudah menyetop. Kalau tidak melakukan seperti itu takutnya berat nanti kita dalam melakukan proses identifikasi, biar tidak jadi endemik. Jangan sampai nanti virus corona seperti terjadi pada babi di Bali, banyak yang mati, jadi mewabah,” katanya.
Kariyasa mengakui, kebijakan tersebut tentu berdampak pada pariwisata. Tapi kebijakan ini harus diambil untuk mencegah dampak yang lebih buruk bagi Bali. Kata dia, Arab Saudi saja berani mengambil kebijakan seperti itu, padahal itu terkait dengan kegiatan keagamaan. “Di Bali ini urusan pariwisata. Urusan agama saja distop oleh Arab Saudi, kan. Mereka nyetop juga untuk umroh, dsb. Apalagi ini pariwisata,” tandasnya.
Dikatakan, menghentikan sementara kunjungan wisatawan itu bisa menjadi masa jeda untuk pariwisata Bali. Apalagi saat ini kunjungan wisatawan sudah menurun drastis semenjak isu virus corona ini merebak. Kunjungan wisatawan tentu dibuka kembali ketika Bali sudah benar-benar terbebas dari virus tersebut.
“Kondisi pariwisata ini tentu kalau istilah Bali Mulat Sarira, membersihkan diri dulu. Apalagi kita mau merayakan hari raya Nyepi, momen membersihkan diri. Dalam konteks sekarang di Bali dibersihkan dulu penyakitnya. Baru nanti dalam keadaan steril, lihat perkembangan dunia internasional,” tambahnya.
Kariyasa juga meminta untuk segera dilakukan pengambilan sampel masyarakat di Bali, apalagi yang pernah berinteraksi dengan pasien, untuk memastikan di kemudian hari bahwa Bali steril dari virus corona. “Yang terpenting pengambilan sampel harus mulai dilakukan secepatnya. Karena ini masa inkubasinya 14 hari, masa menyebarkan virus. Di Inggris itu sekarang tiap hari 10 ribu diambil sampel,” katanya.(yum)

Baca Juga :  Sidang MK, Hakim Tidak Temukan Bukti Ketidaknetralan Aparat Polri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here