Ambisi Besar Program Sosialistik Presiden Prabowo, dalam Fenomena Fiscal “Lebih Besar Pasak dari pada Tiang”

0
597

Balinetizen.com, Jakarta –

 

Ambisi Besar Program Sosialistik Presiden Prabowo, dalam Fenomena Fiscal “Lebih Besar Pasak dari pada Tiang”.

Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan kecenderungan masa depan, Senin 3 Nopember 2025.

Dikatakan, dalam RAPBN tahu 2026 anggaran: MBG naik 371,83% menjadi Rp.335 T, Koperasi Merah Putih naik 418,75% menjadi Rp.83 T. Sedangkan anggaran fungsi pertahanan naik 101,89% menjadi Rp.335.257 T, anggaran fungsi ketertiban dan keamanan naik 13,99% menjadi Rp.239.778 T. Sedangkan Transfer ke Daerah turun 24,66% menjadi Rp.692.99 T.

Menurut Jro Gde Sudibya, Kenaikan Besar anggaran MBG dan pendirian Koperasi Merah Putih, tingkat produktivitas ekonominya dipertanyakan publik, dan kemampuan untuk mengungkit pertumbuhan ekonomi (multiplier effect) bagi kelas menengah yang ekonominya sedang terpuruk.

“Dalam fenomena fiscal yang “cekak”, pembayaran utang luar negeri yang hanya dapat dibelanjai dengan utang baru. Tamsilnya, ambisi besar pengeluaran yang lebih “besar pasak dari tiang”,” katanya.

Menurutnya, tingginya anggaran keamanan dan ketertiban yang kurang berelasi dengan peningkatan produktivitas ekonomi, yang menurut Aliansi Ekonom Indonesia sebagai misalokasi APBN bisa memicu terjadinya darurat ekonomi, jika tidak dilakukan koreksi terhadap kebijakan fical yang tidak prudent (tidak hati-hati).

Menurutnya, pengurangan dana Tranfer ke Daerah sebesar 24,66% mengurangi kemampuan Daerah dalam pembelanjaan fiscal daerah yang berdampak terhadap kelesuan ekonomi di banyak daerah, yang APBD nya sangat tergantung pada transfer dana pusat.

Menurut Jro Gde Sudibya, tantangan bagi Menkeu Purbaya sebagai bendahara negara untuk meyakinkan Presiden agar mengerem ambisi sosialistiknya dengan memotong anggaran: MBG dan pendirian Koperasi Merah Putih ke tingkat lebih layak dari sisi: kehati-hatian fiscal, penyiapan kelembagaan di lapangan untuk menjamin efektivitas program.

Baca Juga :  Putin dan Erdogan sepakat perkuat koordinasi masalah Afghanistan

“Sehingga dana MBG dan Koperasi Merah Putih bisa lebih diarahkan ke program peningkatan produktivitas ekonomi dan penciptaan kesempatan kerja bagi kelompok bawah dan kelas menengah. Sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi lebih inklusif: merata, mengangkat mobilitas ekonomi kelas menengah,” katanya.

Menurutnya, kembali ke kebijakan fiscal yang lebih prudent (hati-hati), diharapkan berdampak positif terhadap bertumbuhnya kembali kepercayaan para pelaku pasar uang dan modal, menekan turunnya IHSG di Bursa Efek Jakarta, membuat nilai rupiah lebih stabil, kredit rating Indonesia semakin membaik.

Dikatakan, ucapan filosofis dari ekonom ternama Inggris John M Keynes yang oleh sejarah ekonomi dalam bukunya “The General of Employment, Interest and Money” yang dianggap sebagai “dewa” penyelamat depresi ekonomi tahun1930’an.

“In the long run we all be died”, dalam jangka panjang semua kita akan mati, pesan moralnya setiap kebijakan ekonomi dengan target jangka panjang tetap harus memperhatikan kepentingan jangka pendek. Pesan yang pantas disimak oleh Presiden Prabowo dengan idealisme jangka panjangnya,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan kecenderungan masa depan.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here