Balinetizen.com, Jakarta –
Harga minyak di pasar dunia telah naik menjadi 110 dolar per barel, naik 57% dari harga asumsi APBN 2026 70 dolar per barel. Defisit APBN akan membesar, di tengah APBN yang “cekak”, pilihannya harga BBM dalam negeri diperkirakan akan naik.
Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi politik dan kecenderungan masa depan, Rabu 11 Maret 2026.
Menurutnya, kenaikan harga BBM dalam negeri, akan mendorong terjadinya kenaikan harga harga yang lain di dalam negeri, kenaikan biaya produksi dan distribusi menaikkan harga “cost push inflation”.
Dikatakan, berbarengan melemahnya rupiah, sudah di kisaran Rp.17 ribu per 1 dolar AS, akan mendorong kenaikan harga dari barang impor -import inflation-.
“Kombinasi antara “cost push inflation” dan “import inflation” bisa membuat Inflasi “terbang” tinggi -run away inflation-,” kata Jro Gde Sudibya.
Menurutnya, komponen impor untuk bahan baku industri dalam negeri tinggi, seperti: mesin, “spare part”, chemical input, resin, baja, dan komponen bahan baku lainnya.
Dikatakan, tanpa pengelolaan ekonomi secara hati-hati, “jokes”nya “dijogedin aja”, perekonomian bisa terjebak ke kondisi stagflasi, kemacetan dalam produksi dengan Inflasi tinggi.
“Kondisi ekonomi yang sangat berbahaya, yang bisa terjadi di sebuah negara bangsa yang gagal merespons fenomema ekonomi perang,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi politik dan kecenderungan masa depan.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

