Bali, Kepemimpinan dan Kerusakan Alam Berkelanjutan

0
3008

Balinetizen.com, Denpasar

“September Kelabu”, banjir bandang yang menerjang sebagian Bali 10 September 2025 membuka kotak pandora besaran krisis lingkungan yang dihadapi Bali. Pernyataan Menteri Lingkungan Hidup, 97 persen DAS Tukad Ayung setara dengan 48,000 ha telah beralih fungsi, sebagian besar menjadi kawasan wisata dengan kerusakan lingkungan yang menyertainya.

Diperkirakan DAS yang lain: Tukad Pakerisan, Telaga Waja, Tukad Sah, Tukad Unda mengalami nasib yang sama dengan derajat keparahan yang berbeda.

Bali mengalami darurat lingkungan sebagai akibat: RTRW yang “memble” mudah “ditelikung”, konversi lahan sawah yang kebablasan, perizinan yang amburadul plus komersialisme dalam penerbitannya.

Jika menyimak pemberitaan di media sosial dan menyimak kondisi riil di lapangan, menyebut beberapa, kawasan lingkungan di empat danau: Batur, Beratan, Buyan, Tamblingan, sangat tampak kerusakan lingkungan berlangsung.

Konversi lahan yang tidak bertanggung-jawab, perizinan pariwisata yang ngawur destruktif terhadap lingkungan, termasuk lingkungan kesucian, komunitas yang semestinya berada di garda terdepan menjaga lingkungan “milu-milu tuung” merusak lingkungan dengan alasan pragmatisme pariwisata tanpa rasa bersalah.

Tidak peduli terhadap ancaman lingkungan yang bisa memporak-porandakan kehidupan dan lingkungan. Yang sangat mencolok pendakian wisata di Gunung Batur yang tidak bertangung-jawab, nyaris abai terhadap sistem keyakinan “Gunung Mraga Lingha Widhi”.

Pemda Bangli membiarkannya, Pemda Bali “tutup mata” padahal dengan jargon Sat Kerthi Loka Bali. Jargon yang layaknya “pepesan kosong” di tengah proses kerusakan @ Alam Bali yang tidak tertahankan, tidak mampu dikendalikan -unavoidable-, mencapai titik “no point to return”, titik kerusakan yang tidak bisa dipulihkan.

PEMULIHAN LINGKUNGAN BALI NYARIS MUSTAHIL.

Rekaman video yang memberikan penggambaran pembangunan bentangan villa dan sejenisnya dari Labuan Sait menuju Bukit Uluwatu, dalam kosmologi ruang kesucian Bali berada di wilayah Barat Daya (Nreti) Pulau Bali, tempat “berstananya” Tuhan Rudra di Pura Luur Uluwatu

Baca Juga :  Ajak lindungi satwa langka, Bupati Tamba Lepas Liarkan Belasan Penyu Hijau Selundupan

Video tersebut memberikan penggambaran sample/contoh proses perusakan lingkungan tidak terkendali, barangkali nyaris sistemik dan terstruktur dari prilaku kekuasaan yang kejam pada alam, berfokus ke siklus kepentingan politik 5 tahunan, tidak lagi peduli terhadap masa depan: Alam, Peradaban dan Kebufayaan Bali.

Tidak peduli lagi, manusia Bali bakal musnah dari perspektif keotentikan Peradaban dan Kebudayaan Bali yang telah berlangsung ribuan tahun. Kekuasaan yang dihinggapi “penyakit” buta akan masa depan, nir empati pada alam dan masa depan kehidupan.
Miris.

Oleh : Jro Gde Sudibya, pemerhati lingkungan dan kebudayaan Bali, pengamat kecenderungan masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here