Foto: Tokoh Publik Bali yang juga pecinta sepak bola tanah air, Agung Manik Danendra (AMD).
Balinetizen.com, Denpasar
Keputusan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, memecat Shin Tae-Yong (STY) dari posisinya sebagai pelatih Timnas Indonesia, seperti petir yang menyambar di tengah hari bolong. Kabar ini mengguncang dunia sepak bola tanah air, menorehkan luka mendalam di hati para pencinta Garuda. Hampir lima tahun lamanya, STY berjuang mengukir sejarah bersama Timnas Indonesia, membawa asa yang sempat pudar kembali menyala.
Namun, harapan itu kini terasa retak. Di media sosial, tagar #SaveSTY dan #GarudaBersamaSTY menggema. Para pendukung mengungkapkan kekecewaan mereka dengan penuh emosi, menyebut keputusan ini sebagai langkah mundur bagi sepak bola Indonesia.
“PSSI seperti menutup mata terhadap progres yang sudah diraih. Kami kehilangan pelatih yang telah menghidupkan semangat Garuda!” tulis seorang warganet di Twitter, disertai gambar STY yang memeluk pemain Timnas dengan penuh kebanggaan.
Di Bali, suara keberatan juga datang dari tokoh publik dan pecinta sepak bola, Agung Manik Danendra (AMD). AMD, yang dikenal vokal dalam isu-isu olahraga, menyoroti keputusan ini sebagai tindakan yang tidak adil dan sarat kontroversi. Dia mencium aroma ketidakberesan di tubuh PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir.
“Pemecatan Shin Tae-Yong adalah keputusan yang mengecewakan dan berpotensi merusak fondasi prestasi yang telah dibangun. Ada sesuatu yang terasa tidak beres, seperti ‘bau amis’ konspirasi busuk di balik langkah ini,” ungkap saat dihubungi pada hari Jumat 10 Januari 2025, Jumat Berkah berbagi nasi bungkus di bilangan Sesetan Denpasar. AMD yang berkantor di AMD Center Renon ini menegaskan kembali agar warganet berbicara demi kebanggaan sepak bola Indonesia.

Menurut AMD yang pernah menjadi Manajer Team Sepak Bola Kampus Universitas Udayana Bali era tahun 1990an ini, pemecatan STY di tengah perjuangan Timnas Indonesia untuk lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 adalah kesalahan fatal. “Ini bisa menjadi bumerang besar, petaka yang menghancurkan masa depan sepak bola kita. Bagaimana bisa kita memutuskan kerja sama dengan seseorang yang telah membawa kita ke jalur yang benar?” tambahnya dengan nada getir.
“Keputusan ini seharusnya dibarengi dengan pernyataan PSSI yaitu apabila dengan penggantian ini tidak bisa membawa Timnas ke Piala Dunia 2026, seluruh tim di organisasi PSSI mundur termasuk ET. Jadi yang seharusna dipecat itu ET karena banyak yang tidak beres di PSSI bukan STY yang telah membawa prestasi untuk timnas. Kami harapkan Bapak Presiden Prabowo berani bersih-bersih di tubuh PSSI dan menyelamatkan timnas dari keputusan-keputusan salah yang diambil PSSI,” tegas Tokoh Publik Bali yang bernama lengkap Dr. Anak Agung Ngurah Manik Danendra, S.H., M.H., M.Kn., ini.
AMD yang juga seorang pakar hukum dan masih aktif berprofesi sebagai Notaris-PPAT dan Pengusaha ini yang sebelumnya sempat berprofesi sebagai Advokat di era Orde Baru itu merasa ada yang janggal dalam keputusan pemecatan STY ini dan mempertanyakan mengapa STY, yang telah membawa Timnas Indonesia hampir mencapai puncak prestasi, justru diberhentikan. Perjalanan STY di Timnas Indonesia, meskipun diwarnai dengan banyak tantangan, telah memberikan fondasi penting bagi perkembangan tim nasional ke depannya.
“STY salah apa? Beliau yang membawa Timnas Indonesia menuju puncak, tinggal selangkah lagi kita punya kebanggaan dunia. Kok tiba-tiba dipecat? Ada apa ini?!” kata tokoh sentral Puri Tegal Denpasar Pemecutan ini dengan nada kecewa.

AMD lantas memberikan pandangannya mengenai kontrak STY yang belum selesai seharusnya menjadi pertimbangan untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan. “Eric Thohir nggak menyebut ada kesalahan fatal dari STY, kan? Dan kontrak STY belum selesai, kan?” tambah AMD yang menyayangkan sikap PSSI yang dinilai kurang mempertimbangkan aspek-aspek penting dalam pengambilan keputusan strategis yang berpengaruh bagi nasib dan masa timnas Indonesia di kancah sepak bola global.
AMD yang dikenal tokoh muda Bali yang tidak suka pamer, low profile dan gemar berbagi, membantu pembangunan pura di nusantara hingga viral dengan sebutan The Real Sultan Dermawan Bali ini juga menyarankan agar reformasi besar dilakukan di tubuh PSSI untuk memastikan arah sepak bola Indonesia menuju perkembangan yang lebih baik. AMD kemudian mengajak publik untuk lebih terbuka dalam memberikan pendapat mengenai langkah yang diambil oleh PSSI.
“Perlu tokoh sekelas Amien Rais untuk mereformasi PSSI, bro. Yang perlu direformasi PSSI ini, STY salah apa?!” seru AMD yang dikenal sebagai tokoh yang lahir dari keluarga Puri yang dekat dengan semua lapisan masyarakat dan Cucunda tokoh legenda dua jaman I Gusti Ngurah Oka Pugur Pemecutan ini.
Kekecewaan ini juga menggema di kalangan suporter yang merasa keputusan ini berpotensi merusak momentum yang telah dibangun oleh STY. “Publik bicara dong!!! Kami kecewa atas sikap ET”, seru AMD yang sempat mengecam keras tindakan Gubernur Bali periode tahun 2018-2023 Wayan Koster saat gelaran Piala Dunia U-20 batal di Bali sehingga menjadi viral di seluruh dunia.

Ketika ditanya mengenai dampak pemecatan STY terhadap nasib Timnas Indonesia, AMD menjawab tegas. “Sudah pasti dampak negatif pergantian pelatih di tengah jalan, harmonisasi antara pelatih dan pemain terpengaruh,” tegas AMD yang selama ini dikenal sebagai sosok yang humanis, namanya harum dan viral berkat berbagai aksi sosial kemanusiaan dengan tidak henti-hentinya berbagi dan beryadnya, memiliki pengalaman organisasi, intelektual tinggi dan disegani kaum milenial.
Menurutnya, perubahan pelatih di waktu yang tidak tepat dapat merusak kestabilan tim yang sedang membangun hubungan solid antara pelatih dan para pemain. “Pelatih sudah bagus kok tiba-tiba diganti di tengah jalan dan perjuangan timnas Indonesia untuk masuk Piala Dunia. Ini sangat aneh,” kata AMD yang merupakan putra dari tokoh pendidikan Bali, Ayahndanya adalah pejuang kemerdekaan RI sebagai Ketua Legium garis depan dengan mendapatkan bintang gelar kehormatan dari Presiden ke-2 Republik Indonesia Soeharto.
Di tengah kekecewaannya, AMD juga menilai langkah PSSI seharusnya bukan hanya tentang pergantian pelatih semata, melainkan lebih kepada upaya konkret untuk mendongkrak prestasi timnas. Menurutnya STY masih memiliki banyak potensi untuk membawa Timnas Indonesia mencapai hasil terbaik.
“Kembalikan STY dong, beliau sudah membuktikan dirinya. Masih ada beberapa laga tersisa dan akan menghadapi lawan-lawan berat,” seru AMD dengan nada reflektif.
AMD juga menawarkan pandangannya tentang langkah yang seharusnya dilakukan PSSI. Baginya, fokus utama seharusnya pada konsistensi pembinaan pemain muda, transparansi dalam pengambilan keputusan, dan memaksimalkan peran pelatih yang sudah terbukti kapasitasnya.
“Jika PSSI benar-benar ingin mengangkat prestasi Garuda di level dunia, mereka harus mendengarkan suara rakyat, menghormati pencapaian pelatih, dan membangun sistem yang solid tanpa intervensi politik atau kepentingan pribadi,” tegasnya.

Sementara itu, ketika ditanya tentang pandangannya terhadap pengangkatan Patrick Kluivert sebagai pelatih baru Timnas Indonesia, AMD mengungkapkan keraguannya. Ia bahkan menyebut mantan pemain Timnas Belanda tersebut dari segi prestasi dalam melatih belum secemerlang STY.
“Patrick Kluivert dari Belanda, mantan pemain bola dan pelatih, belum secemerlang STY. Nah, ini yang perlu dipertanyakan, ada apa PSSI ini? Penjelasan nggak jelas?!” kata AMD.
Ia juga menekankan bahwa Timnas Indonesia bukan hanya milik PSSI, melainkan milik seluruh rakyat Indonesia yang menjadikannya kebanggaan nasional. Di tengah ketidakpuasan yang meluas terhadap keputusan PSSI, AMD menyarankan agar ada langkah nyata untuk memperbaiki sepak bola Indonesia.
Ia bahkan meminta Presiden Prabowo untuk turun tangan membereskan masalah yang ada di tubuh PSSI. AMD merasa bahwa perubahan besar perlu dilakukan agar sepak bola Indonesia bisa kembali ke jalur yang benar dan memberikan kebanggaan bagi seluruh rakyat Indonesia.
“Reformasi PSSI, Presiden Prabowo turun tangan, ada yang tidak beres ini?!” pungkas AMD.
Kini, luka di hati Garuda menganga lebar. Akankah keputusan pemecatan STY ini menjadi awal kehancuran, atau justru cambuk bagi sepak bola Indonesia untuk bangkit lebih tinggi?
Hanya waktu yang akan menjawab. Satu hal yang pasti, cinta rakyat kepada Timnas Indonesia tak akan pernah pudar, meski badai keputusan mengguncang kapal Garuda. (dan)

