Bayar Rp 140 Juta dan Ditinggal Nakhoda, 16 WNA Uzbekistan Terdampar Misterius di NTT

0
179

 

Balinetizen.com, Kupang

 

Sebanyak 16 Warga Negara Asing (WNA) asal Uzbekistan ditemukan terdampar di pesisir Pantai Kampung Air Panas, Desa Bandar, Kecamatan Pantar, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Rombongan pria tersebut pertama kali ditemukan oleh masyarakat pesisir pada 3 Juli 2026 sekitar pukul 06.00 WITA dalam kondisi kelelahan setelah kapal yang mereka tumpangi mengalami kerusakan mesin.

​Setelah sempat diamankan di Tamala Homestay, Kalabahi, Polres Alor secara resmi menyerahkan ke-16 WNA tersebut ke Kantor Imigrasi Kelas I TPI Kupang pada 9 Juli 2026 melalui Pelabuhan SDP Bolong untuk menjalani pemeriksaan intensif.

​”Kapal yang mereka tumpangi mengalami kerusakan mesin di perairan sekitar Pantar. Mereka memutuskan menyusuri pantai karena tidak ada pertolongan,” ujar Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi NTT, Dr. Saroha Manulang, SE, MM, dalam konferensi pers di Kupang, Selasa (10/7/2026).

​Pihak Imigrasi NTT menemukan sejumlah kejanggalan besar yang mematahkan asumsi bahwa rombongan ini adalah wisatawan biasa:

​Dokumen Tidak Selaras: Paspor mereka mencantumkan alamat kantong yang berbeda-beda, mulai dari Jakarta Pusat, Bandung, Bali, hingga Kendari, dengan penjamin yang bervariasi.

​Tidak Saling Mengenal: Meskipun berada dalam satu kapal, sebagian besar dari 16 WNA ini mengaku tidak mengenal satu sama lain secara personal.

​Manifestasi Palsu: Nama-nama penumpang yang berada di kapal tidak sesuai dengan daftar manifest resmi.

​Hasil pemeriksaan awal mengungkap bahwa setiap WNA Uzbekistan ini merogoh kocek hingga 8.000 dolar AS (setara Rp 140 juta). Uang fantastis tersebut digunakan untuk menyewa kapal dan jasa agen perjalanan ilegal.

​Rute perjalanan mereka dimulai melalui jalur udara dari Bandara Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai Bali, dilanjutkan lewat jalur laut menuju Kendari. Mereka berencana keluar dari wilayah Indonesia menuju Australia/Timor Leste melalui perairan Rote. Namun, rencana tersebut gagal total setelah kapal mengalami kerusakan di perairan Alor, dan nakhoda kapal melarikan diri dengan dalih mencari bantuan.

Baca Juga :  Bupati Tamba Apresiasi Masyarakat, Pembatasan Berjalan Lancar

​”Uang sebanyak itu bukan untuk paket wisata normal. Ini menunjukkan ada koordinator atau agen yang mengorganisir perjalanan mereka. Aktor intelektual di balik ini masih kami selidiki,” tegas Saroha Manulang.

​Dari hasil pemeriksaan administratif, 14 dari 16 WN Uzbekistan diketahui telah overstay (melebihi izin tinggal) hingga puluhan hari. Hanya dua orang yang memiliki dokumen aktif hingga 19 Juli 2026.(RLS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here