Kini Terjadi Ancaman Masa Depan Peradaban dan Kebudayaan Bali, Atas Nama Investasi Kolusi Pengusaha – Penguasa

0
33

 

Balinetizen.com, Denpasar

Ancaman terhadap Masa Depan Peradaban dan Kebudayaan Bali, Atas Nama Investasi Kolusi Pengusaha – Penguasa. Kolusi penguasa – pengusaha begitu “powerful”,tanpa konsolidasi kekuatan masyarakat sipil, kehancuran Bali paripurna -Sandhya kalining Bali- menunggu waktu.

Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, penasehat Forum Pemerhati Pembangunan Bali – For HATI Bali, Sabtu 11Juli 2026.

Jro Gde Sudibya mengatakan, semeton Nusa Penida mengalami “perampasan” tanah adat hanya 250 ha, menurut laporan KPA (Konsorsium Pembaruan Agraria) dalam beberapa dasa warsa terakhir, masyarakat adat Kalimantan “dirampas” tanah adatnya sekitar 5 juta ha untuk kepentingan oligarki tambang.

Menurut Jro Gde Sudibya, kasus lain yang sedang berlangsung di Tanah Papua, terutama di Kabupaten Merauke, “perampasan” tanah adat seluas sekitar 2,2 juta ha untuk proyek ambisius penanaman tebu dan padi. Digambarkan dengan apik dalam Film Dokumenter “Pesta Bali”.

Bencana ekologis Sumatera juga menggambarkan kondisi yang sama dengan derajat keparahan yang berbeda. Laporan jurnalisme Kompas memuat, dalam 30 tahun terakhir, konversi hutan untuk industri sawit seluas 900,000 ha setara dengan luas Pulau Bali.

Dalam konteks ini, Prof.Emil Salim mengemukakan, pembabatan hutan luar biasa ini terjadi karena tidak adanya perencanaan tata ruang wilayah, sehingga pemberian izin industri sawit srampangan dan kemudian meluluh-lantakkan Aceh, Sumut dan Sumbar.

Menurut Jro Gde Sudibya, malapetaka lingkungan juga sedang menimpa Bali, atas nama investasi pariwisata.

“Kolusi penguasa – pengusaha begitu “powerful”,tanpa konsolidasi kekuatan masyarakat sipil, kehancuran Bali paripurna -Sandhya kalining Bali- menunggu waktu,” katanya.

Dikatakan, Generasi Bali dewasa ini akan dicatat dalam Sejarah Bali sebagai generasi yang paling memalukan, sebagai penghancur tanah, peradaban dan budaya Bali.

Baca Juga :  Wagub Cok Ace Paparkan Kesiapan Bali Apabila Pariwisata Dibuka Untuk Wisatawan Mancanegara Dalam Waktu Dekat

“Kita mesti belajar dari sejarah kontemporer di Suriah, perang bersaudara yang berlangsung telah mengakibatkan terjadinya pembasmian etnis terhadap suku asli yang beragama Kristen dengan bahasa Ibu, Jesus dari Nazareth,” katanya.

Dikatakan, PBB, lembaga-lembaga kemanusiaan dan negara yang bertikai dalam krisis Suriah tidak mampu menghentikan pembasmian etnis.

” Padahal Suriah, dalam perjalanan panjang sejarahnya, menjadi model sangat ideal dari dihargainya toleransi.
Krama Bali mari Kita belajar dari sejarah,” kata Jro Gde Sudibya, penasehat Forum Pemerhati Pembangunan Bali – For HATI Bali.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here