Balinetizen.com, Denpasar
Inflasi Provinsi Bali pada April 2026 tercatat tetap terkendali. Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali pada 4 Mei 2026, inflasi bulanan (month to month/mtm) Bali hanya sebesar 0,01 persen, lebih rendah dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 0,50 persen (mtm), serta di bawah inflasi nasional sebesar 0,13 persen (mtm).
Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Bali juga menunjukkan tren penurunan dari 2,81 persen pada Maret 2026 menjadi 2,08 persen pada April 2026, menandakan stabilitas harga yang tetap terjaga di tengah dinamika global.
Inflasi April 2026 terutama dipicu oleh kenaikan harga: Angkutan udara, Beras,
Minyak goreng, Canang sari, Nasi dengan lauk.
Selain itu, kenaikan harga BBM dan LPG nonsubsidi serta pergerakan harga komoditas global turut memengaruhi dinamika inflasi, meskipun ketersediaan sejumlah komoditas pertanian membantu menahan lonjakan harga.
Di sisi lain, tekanan inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga beberapa komoditas seperti: Cabai rawit, Daging ayam ras, Sawi hijau, Buncis dan Emas perhiasan.
Secara spasial, hanya Kota Denpasar yang mengalami inflasi bulanan pada April 2026, yakni sebesar 0,19 persen (mtm) atau 2,51 persen (yoy), masih dalam kisaran target inflasi nasional 2,5±1 persen.
Sementara itu, daerah lain mengalami deflasi:
Singaraja: -0,09 persen (mtm), inflasi tahunan 2,51 persen
Tabanan: -0,17 persen (mtm), inflasi tahunan 1,40 persen
Badung: -0,17 persen (mtm), inflasi tahunan 1,41 persen
Kondisi inflasi yang stabil ini dinilai mampu menjaga daya beli masyarakat Bali, meskipun dunia tengah menghadapi ketidakpastian akibat konflik geopolitik global.
Kepala Kanwil Bank Indonesia Provinsi Bali, R. Erwin Soeradimadja mengapresiasi langkah Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Bali dalam menjaga stabilitas harga, terutama melalui penguatan pemantauan harga dan operasi pasar.
“Meski terkendali, terdapat sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, antara lain: peralihan musim hujan ke kemarau dan potensi El Nino, kenaikan harga minyak dan komoditas global, Peningkatan permintaan saat Hari Besar Keagamaan Nasional seperti Iduladha, dan Lonjakan konsumsi saat long weekend, terutama dari sektor pariwisata,” ungkapnya di Denpasar.
Ke depan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah akan terus memperkuat pengendalian inflasi melalui tiga pilar utama: Menjaga stabilitas pasokan, Meningkatkan efisiensi distribusi
Memperkuat regulasi, Strategi ini diimplementasikan melalui: operasi pasar berbasis 3T (tepat waktu, lokasi, dan sasaran), kerja sama antar daerah (intra dan luar Bali) dan penguatan ekosistem ketahanan pangan berbasis lokal.
Langkah tersebut juga melibatkan BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi, serta didukung regulasi pemanfaatan produk pangan lokal oleh pelaku usaha.
Dengan berbagai upaya tersebut, inflasi Bali sepanjang 2026 diproyeksikan tetap berada dalam kisaran target 2,5±1 persen, menjaga stabilitas ekonomi daerah dan daya beli masyarakat.(rls)

