Balinetizen.com, Buleleng
Sejumlah pokok-pokok pemikiran yang disampaikan dalam Bulfest (Buleleng Festival), Selasa, 18 Agustus 2026 antara lain penemuan di Titik 0, “Windhu Segara” Singaraja.
Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, penasehat For HATI Bali, Forum Pemerhati Pembangunan Bali, anggota MPR RI Utusan Daerah Bali 1999 – 2004, bermukim di Desa Tajun, Rabu 19 Agustus 2026.
Dikatakan, penemuan kembali Titik 0 kota Singaraja, memberikan indikasi revitalisasi kepemimpinan Den Bukit/Buleleng ke depan berangkat dari kearifan kepemimpinan raja besar Den Bukit, Ki Barak Panji Sakti, pendiri kota Singa “Umbara” Raja, yang sekarang populer dengan Singaraja.
Menurut Jro Gde Sudibya, dalam perspektif sejarah kepemimpinan Ki Barak Panji Sakti, Titik O adalah Windhu, ekspresi kekuatan Tuhan di Den Bukit, pertemuan “nemu guru” antara jejer kemiri Bukit dari Bantiran sampai Tejukala, DEN BUKIT yang “diwakili” Bukit Wanagiri, Pura Tirtha Ketipat dengan bentangan Segara Bali Utara sepanjang 160 km yang “diwakili” oleh Segara Penimbangan, Pura Segara Penimbangan.
Dikatakan, kosmologi ruang Den Bukit/Buleleng merupakan lintasan ruang spiritual, menurut catatan di era Bali Pertengahan dengan kepemimpinan Gunapriya Dharmapatni – Udayana Warmadewa menjadi tujuan “metirtha yatra” orang-orang suci.
Menurut Jro Gde Sudibya, dalam lintasan sejarah Buleleng, nama Buleleng berasal dari sejenis Jagung yang ditemukan di Desa Sukasada, berelasi dengan kepemimpinan Ki Barak Panji Sakti, kota pelabuhan sejak era pemerintahan Hindia Belanda, NICA (Nederland Indie Civil Admistration).
Dikatakan, Pelabuhan Buleleng mencatat dan menjadi “point of export – import” Bali dalam kurun waktunya yang panjang, sampai dasa warsa 1970’an.
Dalam catatan itu, disebutkan bahwa wisatawan Belanda yang pertama mendarat sekitar tahun 1920’an, mengunjungi Tejakula dan kemudian Cintamani.
Selanjutnya, pengelana Spanyol Michel Covarobias mendarat tahun 1929 naik sepeda ke Selatan Badung, dan kemudian menerbitkan buku “Island of Bali”yang melegenda, promosi pertama tentang Bali ke masyarakat dunia yang komprehensif dan berkualitas.
“Titik 0, merupakan kantor dari Resident Bali dan Lombok yang dalam laporannya ke Batavia secara implisit memuat Wilayah Den Bukit punya potensi besar berkembang dan maju jika dikelola dengan tepat,” kata Jro Gde Sudibya.
Menurut Jro Gde Sudibya, penunjukan kota Singaraja sebagai Ibu Kota Soenda Ketjil pasca kemerdekaan, direlasikan dengan program pemerintahan Hindia Belanda untuk sebagian kawasan Indonesia Timur, dengan menggunakan Surabaya sebagai Titik pertumbuhan, membentang dari Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT.
“Oleh pemerintah Hindia Belanda, Bali Utara direncanakan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi Bali karena masyarakatnya paling siap menerima perubahan,” katanya.
Dikatakan, sekapur sirih tentang sejarah Singaraja dan Den Bukit/Buleleng di atas, menjadi tantangan bagi kepemimpinan Buleleng untuk menemukan kembali kepemimpinan otentik Den Bukit yang bercirikan: berintegritas, demokratis dan penuh pengabdian.
” Ini tantangan bagi warga Den Bukit untuk membangkitkan kembali erhos kerja yang hebat di masa lalu, terutama di sektor pertanian, dan juga latar belakang sejarahnya,” katanya.
Dikatakan, sebagian leluhur mereka meninggalkan kerajaan Gelgel pasca pembrontakan, tidak mau tunduk kepada pembrontak, para kesatrya sejati, mengungsi dari Gelgel dan kemudian bermukim di Den Bukit sampai hari ini.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

