Balinetizen.com, Denpasar
Terobosan Prambanan sebagai sebuah “komoditas” dalam fenomena baru “industri” agama. Lebih fulgar dari motif pendirian candi Prambaban sebagai ekspresi fisik dari puncak kekuasaan sekaligus peradaban.
Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, pengamat politik, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan, Kamis 12 Februari 2026.
Menurutnya, ketika spiritualitas bersentuhan dengan kekuasaan atau mendekati kekuasaan, maka kebijaksanaan murni berlalu digantikan dengan keserakahan, dan menjadi antek penguasa.
Jro Gede Sudibya menyitir bahwa tetua Bali mengajarkan, (dalam bahasa ke kinian), sistem kehidupan yang penuh kepalsuan dengan bungkus luar “modern”, bisa menjebak manusia tidak bisa pulang ke rumah asalnya. Nirwana, Lapisan Sapta Sorga Lokha. Re, “prasasti” yang berelasi dengan Bukit Sinunggal.
Dikatakan, sejarah Bali mengajarkan, sinkretisasi diperlukan, dalam artian ajaran yang datang belakangan, memperkaya kearifan kehidupan yang datang duluan.
“Bukan sebaiknya,”mematikan” keyakinan terdahulu yang menjadi “monumen” kehidupan -living monument-,” katanya.
Menurutnya, serangan semakin dashyat terhadap sistem keyakinan masyarakatnya Bali, datang dari berbagai front: internal, prilaku sebagian orang yang “kropos” dari etika moral pada tingkat (maaf) “buduh” dan “memuduh”.
Dikatakan, “serangan” dari luar paling tidak dalam 3 dimensi: “janji sorga” dari pengetahuan yang datang dari luar menafikan kearifan lokal, tetapi tetap dengan menghirup udara, air dan beras yang dihasilkan oleh sistem Subak di Bali.
Menurut Jro Gede Sudibya, prilaku agama sebagai dogma dan terang-terangan sebagai alat, instrumen politik kekuasaan. Front terakhir yang tidak kalah “ganas”nya, laku agama sebagai “komoditas” industri, model “pemasaran” murahan dan gampang untuk mencapai Sorga, Nirwana dan bahkan Sorga tertinggi di lapis ke 7.
“Ini tantangan besar yang dihadapi masyarakat Bali dalam sejarah panjang peradabannya. Bali Kuno, Bali Mula, Bali Pertengahan, Bali dengan Pengaruh Majapahit dan Bali Pasca Kemerdekaan,” kata Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

