Dari Seminar National Prambanan FDA UHN Sugriwa ‘ Dirumuskan Odalan Candi Prambanan, Wrespati Tolu atau Pananggal 11 Margasira

0
676

 

Balinetizen.com, Denpasar-

Odalan Candi Prambanan dirumuskan pada Wrespati Wage Tolu (setiap 210 hari) atau Suklapaksa 11 Margasira (setahun sekali). Odalan ini dirumuskan berdasarkan perhitungan Kalender Hindu dan Kalender Lokal, sehingga ditemukan saat yang tepat untuk melakukan Odalan sesuai Prasasti Shivagraha.
“Saya sudah check berdasarkan Kalender Hindu dan pawukon dengan berdasarkan prasasti,” kata Dosen UHN Sugriwa Denpasar dan penyusun Kalender, Dr. I Gede Sutarya, SST.Par.,M.Ag di Denpasar, Jumat (13/10) pada Seminar Nasional Pemuliaan Candi Prambanan yang diselenggarakan Fakultas Dharma Duta, UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar bekerjasama dengan PHDI Pusat. Seminar nasional ini dipuja Ketut Umum PHDI Pusat, Wisnu Bawa Temaja disampingi Rektor UHN IGB Sugriwa Denpasar, Prof.Dr.Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. Hadir sebagai pemakalah dalam seminar ini Prof.Dr. Arismunandar, Sugilanus, Nurkesava, dan Dr. I Gede Sutarya, SST.Par.,M.Ag.
Sutarya menjelaskan, Prasasti Shivagraha menyebutkan Candi Prambanan diresmikan pada Wrespati Wage Wurukung, Suklapaksa 11 tahun 778 Saka. Pananggalan prasasti ini kemudian dicek berdasarkan perhitungan Kalender Hindu menggunakan aplikasi Jaganathhora yang umum digunakan para archeolog untuk menentukan pananggalan prasasti. Dengan aplikasi ini ditemukan Suklapaksa 11 Margasira tahun 778 Saka jatuh pada 11 November 856 Masehi, tetapi prasasti juga menyebutkan Wrespati Wage Wurukung. Wrespati Wage Wurukung tersebut kemudian dicek dengan menggunakan kalender pawukon dibandingkan dengan kalender Hindu maka Wrespati Wage Wurukung jatuh pada 12 November 856 Masehi. Karena itu, abhiseka yang telah ditetapkan pada 12 November sudah sesuai.
Pananggalan ini, katanya, jika ditelusuri lebih jauh menemukan pananggalan Abhiseka Prambanan jatuh pada Wrespati Wage Wurukung Tolu, Suklapaksa 11 Margasira. Karena itu, jika memiliki odalan ditawarkan dua alternatif yaitu Wrespati Wage Tolu (setiap 210 hari) atau Suklapaksa 11 Margasira (Kalima). “Dua alternatif ini silahkan dipilih berdasarkan berbagai pertimbangan,’katanya.
Dosen yang menerbitkan kalender Hindu ini menjelaskan, Raja Mataram Kuno, Shri Lokapala menentukan hari abhiseka berdasarkan pertimbangan astrologi yang sangat baik. Bulan Margasira dipilih karena sudah jelas disampaikan pada Bhagavad Gita X.35 bahwa diantara bulan-bulan Aku adalah Margasira, karena itu Margasira adalah bulan yang utama. Suklapaksa 11 dipilih karena merupakan hari baik untuk melakukan kebajikan untuk memuja Wisnu. “Pertimbangan astrologi sangat bagus,”ujarnya.
Wrespati Wage Wurukung, lanjutnya, juga adalah perhitungan yang sangat matang. Wrespati adalah guru dengan Dewa Shiva, sedangkan Wage adalah posisi utara dengan Dewa Wisnu. Wurukung berarti belajar, yang berkonotasi Saraswati. Karena itu, penentuan ini mengandung kekuatan Tri Murti yang sangat sempurna. “Luar biasa sekali, ini perhitungan astrologi yang sangat matang yang merupakan ko binasci perhitungan Hindu dengan lokal yang sangat matang,”katanya.
Perhitungan matang ini, katanya, tak terlepas dari kehadiran Mahaguru Agastya yang dipatungkan pada Candi Shiva pada relung selatan. Rsi Agastya adalah penerima wahyu Weda pada Mandala I Reg Veda. Pada Itihasa Ramayana, rsi ini diberitakan berjalan ke selatan sehingga terus menuju kepulauan Indonesia sekarang. Rsi ini meninggalkan kitab suci yang disebut Agastya Parwa di Indonesia. Pada Kakawin Hariwangsa disebutkan Rsi Agastya adalah penuntun Raja Kediri, Jayabhaya. “Perjalanan ini merupakan jejak-jejak Tirtayatra Umat Hindu dunia yang harus dipromosikan,”katanya.
Keberadaan Rsi Agastya ini pada Candi Prambanan merupakan sentral destinasi tirtayatra, sebab dengan narasi ini, Prambanan memiliki rujukan kitab suci Veda sebagai tempat tirtayatra. Narasi ini didukung mitos lokal yang percaya bahwa Prambanan merupakan stana Nyi Roro Jonggrang yang mampu menyelematkan kesuciannya dari kekuatan yang paling kuat. Nyi Roro Jonggrang adalah nama Jawa untuk Durga Mahisasuramardini yang senantiasa suci di dalam pertarungannya di dunia ini.
Rujukan narasi dan mitos ini, tegasnya, harus dilengkapi dengan pantangan untuk memasuki candi untuk menjaga kesakralannya. Ia mengusulkan untuk menjaga kesucian dan perlindungan terhadap kelestarian candi agar tidak semua pengunjung diizinkan untuk memasuki relung-relung candi. Pengunjung cukup menikmati keindahan candi dari bawah dengan bantuan keterangan-keterangan yang diberikan dengan aplikasi bagi orang-orang yang memasuki candi. “Saya moon ketua umum memperjuangkan hal ini,”katanya.
Menurutnya, peserta tirtayatra juga seharusnya tidak diperkenankan untuk menaiki candi. Peserta cukup diwakili pinandita atau pemimpin kelompok untuk menaiki candi demi keperluan menaruh persembahan dan memohon air suci. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesucian dan kelestarian candi. “Secara tradisi, memang tak ada umat biasa yang memasuki palinggih, hanya pinandita yang masuk,”katanya.
Dijelaskan, pemerintah harus membantu menerapkan pantangan ini sebab tanpa itu maka upacara penyucian tak akan berarti. Selain itu, kelestarian bangunan candi juga akan terancam. Karena itu, kepentingan menjaga kesucian dan menjaga kelestarian berjalan searah sehingga Prambanan memenuhi syarat sebagai destinasi pilgrimage umat Hindu dunia. “Saya semangat dengan hal ini. Ini monumen besar Hindu,”ujarnya.

Baca Juga :  Danrem Merauke Pimpin Acara Tradisi Korps dan Sertijab Kasi Intel Kasrem 174/ATW

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here