Ilustrasi : Demo di Gedung DPR Jakarta
Balinetizen.com, Jakarta
Rangkaian demokrasi besar di Jakarta 25 Agustus – 28 Agustus telah memakan korban, pemuda berusia 21 tahun Affan Kurniawan pengemudi ojol dilindas mobil Brimob di Pejompongan, Jakarta Pusat, dan dikabarkan meninggal.
Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi politik dan kecenderungan masa depan, Jumat 29 Agustus 2025.
Menurut Jro Gde Sudibya, demo besar, sebut saja merupakan kelanjutan demo-demo sebelumnya bertema Indonesia Gelap plus jargon “kabur aja dulu akh”, yang dimotori oleh BEM seluruh Indonesia.
Dikatakan, Lusinan demokrasi, yang merupakan puncak dari ketidakpuasan rakyat, paling tidak pada 3 isu utama.
a.Rendahnya legitimasi etis dari Presiden Prabowo dan Wapres Gibran, serta kinerja Presiden dalam 10 bulan pemerintahannya sangat mengecewakan publik.
b.Kinerja DPR yang buruk, berbarengan dengan melimpahnya pendapatan mereka. Sebuah kontradiksi, penghasilan melimpah minus kinerja. Kinerja buruk karena terkooptasi oleh korupsi kekuasaan, dimana DPR merupakan bagian dari sistem yang korup tsb.
c.”Pesta” korupsi merajalela, prilaku korupsi telah menjadi budaya tanpa rasa malu, dan rasa bersalah, sehingga UU Perampasan Aset plus pembersihan aparat hukum yang korup, menjadi tuntutan yang mendesak.
“Secara falsafah, sejarah telah mengetuk “pintu” perubahan, di hari-hari ke depan kita akan menyimak kemana arah sejarah akan ditulis, paling tidak untuk ke tiga isu utama di atas,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi politik dan kecenderungan masa depan.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

