Balinetizen.com, Denpasar –
Realitasnya orang Bali semakin hari semakin tidak menjadi tuan di rumahnya sendiri. Di Masa Depan Krama Bali tidak akan Mampu Membeli Rumah, karena Harga Properti Ditentukan oleh Kekuatan Pasar Properti Global.
Hal itu dikatakan ekonomi, pengamat ekonomi dan kecendrungan masa depan Jro Gede Sudibya, Minggu 1 Februari 2026.
Kenapa orang Bali semakin hari semakin tidak menjadi tuan di rumahnya sendiri ini bisa terjadi?
Menurut Jro Gede Sudibya, salah satu faktor penyebabnya, pariwisata budaya “bertriwikrama” menjadi kapitalisme pariwisata dalam bentuknya yang paling buruk.
“Motif kapitalisme pariwisata utama adalah mencari laba, merusak lingkungan, semua yang ada di Bali nyaris menjadi “komoditas” terutama tanah yang di masa lalu disakralkan,” katanya.
Dikatakan, sebagian masyarakat “memuja” benda materi, sebagai satu-satunya simbol “kemajuan” zaman.
“Di sini Negara tidak hadir untuk “menjinakkan” keganasan kapitalisme pariwisata, bahkan di sana-sini lahir kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih “brutal”,” kata Jro Gede Sudibya.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tinggi, justru memberi andil ikut merusak alam dan sarat dengan manipulasi.
Dikatakan, UU Cipta Kerja dan turunannya, yang merupakan liberalisasi brutal perekonomian, bertentangan dengan pasal 33 UUD 1945, sangat merugikan Bali.
Menurut Jro Gede Sudibya, dengan OSS , dugaan kolusi penguasa-pengusaha dengan mudah menguasai tanah Bali dan menjual properti kepada asing, dalam wadah mekanisme pasar yang dilindungi aturan formal.
” Tuan-puan penguasa membiarkan proses “penjarahan” atas nama: formalisme hukum, mekanisme pasar dan mengejar “peradaban”,” katanya.
Menurutnya, UU Cipta Kerja seharusnya dimintakan legislatif review ke MK, bisa saja oleh anggota DPR, DPD atau gerakan masyarakat sipil yang peduli.
Dikatakan, proses penghancuran dashyat Bali sedang berlangsung, baik karena bencana ekologi akibat krisis iklim plus keteledoran manusia, aturan hukum formal yang mengabaikan rasa keadilan masyarakat Bali.
“Dalam tantangan besar kehidupan ini, masyarakat Bali semestinya tidak sekadar ngomong “saru gremeng” atau berteriak di “karang suwung”,” kata Jro Gede Sudibya.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

