Balinetizen.com, Buleleng
Indonesia sebagai sebuah negara, memiliki keberagaman suku, agama, ras dan adat istiadat (Sara). Oleh sebab itu, moderasi beragama perlu digaungkan, guna mencegah konflik horizontal yang berpotensi timbul akibat gesekan antar umat beragama.
Demikian disampaikan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Buleleng Komang Kappa Tri Aryandono dalam kegiatan “Dialog Mahasiswa dengan Tokoh Lintas Agama” di Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan, pada Selasa, (22/8/2023).
Dalam acara tersebut, menghadirkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Buleleng sebagai narasumber.
Lebih lanjut dikatakan moderasi beragama merupakan cara pandang dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem. Dimana tolak ukur moderasi beragama yang pertama adalah kemanusiaan. Sehingga, jika ada paham yang mengatasnamakan agama, namun merendahkan harkat, derajat dan martabat kemanusian bahkan menghilangkan sesama manusia, maka tindakan tersebut sudah berlebihan atau ekstrem.
“Melalui kegiatan ini, kami mengajak para mahasiswa untuk bersatu dan bekerjasama untuk memelihara moderasi beragama. Sehingga, ancaman terhadap Bangsa Indonesia terkait paham ekstrem dapat dihindari.” ajak Kappa
“Extremisme, radikalisme, ujaran kebencian, hingga retaknya hubungan antar umat beragama merupakan masalah yang harus dihadapi bersama oleh Bangsa Indonesia saat ini,” ujarnya menambahkan di hadapan 50 orang mahasiswa peserta dialog.
Menurut Kappa, moderasi beragama yang berorientasi pada kemuliaan manusia, sangat tepat untuk Bangsa Indonesia yang majemuk. Maka, kaum moderat dan pemimpin lintas agama harus lebih aktif mengisi ruang-ruang spiritualitas umat.
Sementara itu, Ketua Jurusan Dharma Duta di STAHN Mpu Kuturan I Nyoman Suardika juga mengajak mahasiswa untuk merawat dan menumbuhkan sikap toleransi melalui penerapan moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari.
“Pemahaman yang positif terhadap perbedaan agama dapat menghasilkan harmoni sosial.” ucap Kappa.
Ia menegaskan kendati keyakinan agama beragam, tapi tujuan akhir yang sama yaitu kebaikan dan kedamaian harus senantiasa dijaga. GS

