Balinetizen.com, Denpasar
Subak mungkin sudah jenuh di puja puji. Subak memiliki kapasitas untuk konservasi air. Namun eksistensi subak saat ini sangat dipinggirkan dan dan para pelaku subak yakni para petani hidupnya meradang.
Hal tersebut dikatakan Prof. Ir. Windia ahli subak Universitas Udayana, Jumat (17/2/23) menanggapi pidato Gubernur Bali Wayan Koster tentang Pemuliaan Sumber Air melalui Upakara Tumpek Uye di Kick-Off Meeting 10th World Water Forum mendapatkan apresiasi dan sambutan antusias oleh 1.500 peserta dari 56 negara yang hadir pada, Rabu (Buda Paing, Krulut) 15 Februari 2023 di Jakarta Convention Center.
Menurutnya, Pemda bali yang sebelumnya memberi bansos 50 juta per tahun diturunkan menjadi hanya 10 juta. Kalau alasan bahwa pemda pendapatannya menurun, kenapa bansos ke desa adat bisa naik menjadi 300 juta?
” Keadaan subak saat ini nyaris seperti pohon kakap yang merambat di batu karang. Hidup segan matipun tidak mau,” kata Prof. Windia ketus.
Ia mengatakan, buktinya petani sebagi anggota subak, NTP nya kurang dari 100, sejak ber tahun-tahun yang lalu. Sumbangan sektor pertanian pada PDRB bali terus merosot. Kini hanya tinggal 12 persen.
“Oleh karenanya setelah pak gub memuji peran subak dalam forum internasional, maka kini tiba saatnya pemda bali, membuat kebijakan agar subak di bali tidak mati,” pintanya.
Menurutnya, subak tidak saja penting untuk menjaga ketahanan pangan, tetapi juga penting untuk menopang kebudayaan bali. Tentang hal tersebut semua orang paham. Tetapi tidak elit yanv membela subak dan sektor pertanian. Ia hidup dalam kondisi autopilot.
“Sampai kapan petani di Bali bisa tahan. Perlu segera tindakan nyata. Puja dan puji sudah cukup. Bahkan sudah tak tanggung-tanggung pujian sudah diberikan oleh Unesco.
Sebelumnya diberitakan, memasuki Hari ke-2 pelaksanaan Kick-Off Meeting 10th World Water Forum, Kamis (Wraspati Pon, Krulut) 16 Februari 2023 di Jakarta Convention Center, Honorary President, World Water Council asal Brazil, Benedito Braga mendatangi langsung Gubernur Bali, Wayan Koster dengan menyampaikan sangat terkesan dan tersentuh oleh pidato Bapak Wayan Koster.
Honorary President, World Water Council, Benedito Braga mengungkapkan Bapak Gubernur Bali saat berpidato menyampaikan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi yang salah satunya mengambil nilai Danu Kerthi dengan memiliki arti penyucian dan pemuliaan sumber air.
Masyarakat Bali di dalam melaksanakan penyucian dan pemuliaan sumber air juga disebutkan oleh Bapak Gubernur Bali, menggunakan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Bali untuk menghargai air, salah satunya melalui Upakara Tumpek Uye.
Masyarakat Bali juga memiliki budaya pengaturan air dalam sistem pertanian yang dikenal dengan Subak. Subak adalah sistem irigasi yang dikelola dengan prinsip-prinsip keadilan, keterbukaan, harmoni, dan kebersamaan melalui suatu organisasi masyarakat yang menjadikan masyarakat petani di Bali serasi dengan alam untuk mencapai hasil panen organik yang optimal. (SUT-MB)

