Ilustrasi
Balinetizen.com, Denpasar
Pengkhianatan terhadap Amanah Kekuasaan, harus Dilawan Melalui Kekuatan Rakyat (People Power). Kekuatan oligarki harus dilawan oleh kekuatan rakyat yang jumlahnya ratusan juta orang melalui proses pemilu 2024.
Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, “juru bicara” spiritualisme dan pemikiran intelektual Sang Putra Fajar, Senin 30 Oktober 2023 menanggapi tiga poros Capres dan Cawapres Pemilu 2024.
Dikatakan, perlawanan Kekuatan Rakyat di bilik suara, melalui kegiatan gotong royang seluruh anak-anak bangsa selama 3,5 bulan ke depan. Kalau tidak?
“Alam Bumi Nusantara yang telah rusak akan semakin rusak, jutaan tanah hak ulayat milik masyakat adat akan semakin diambil alih “atas nama” UU, “lautan” kemiskinan yang berjumlah 112 juta orang bisa berubah menjadi “samudara” kemiskinan,” kata Jro Gde Sudibya.
Menurutnya, jumlah penduduk 168 juta tidak cukup gizi “4 sehat 5 sempurna”, sulit beranjak naik, akibat cengkraman dashyat oligarki yang super serakah.
Dalam konteks perjuangan rakyat ini, kata Jro Gde Sudibya, pemikiran Soekarno menjadi semakin relevan: “Berjuanglah dengan Kegembiraan”, karena perjuangan ini tanpa pamrih pribadi, orang per orang atau golongan atau kepentingan oligarki. Akan tetapi semuanya itu, untuk keselamatan bangsa dan masa depannya, menuju cita-cita bersama yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, karya cerdas visioner Bapak Ibu Pendiri Bangsa.
Dikatakan, sejarah negara bangsa sering mengajarkan, negara bangsa yang mengalami krisis, membuka “kotak pandora” penyebab krisis, walapun krisis ini dicoba dikemas rapi, dengan “dasa muka” pencitraan, lengkap dengan penyebaran “uang receh” bagi rakyat dengan politik populisme.
Dikatakan, masyarakat sejenak merasa terhipnotis dengan bagi bagi sembako, sehingga membuat rakyat yang minim informasi dan juga lugu, menjadi begitu percaya dan menganggap pemimpin ini dianggap “dewa” penyelamat
Menururnya, rakyat dininabobokan denga uang receh, tanpa menyimak dengan baik tentang: dashyatnya korupsi yang telah menjadi budaya, besarnya magnitude proyek infrastrutur yang direncanakan tidak matang, efisiensi dan efektivitasnya rendah, dan diduga menjadi “bancakan” korupsi skala raksasa, karena sebagian besar bersifat penunjukan, tanpa proses lelang transparan.
Dikatakan, kekuatan riil oligarki, kolusi oligarki politik dan oligarki ekonomi, diduga menintervensi keputusan pengambilan keputusan publik penting seperti UU: perubahan UU Minerba, UU Omnibus Law Cipta Kerja, dan sejulah kebijakan publik lainnya, yang sementara pengamat menilain bertentangan dengan konstitusi.
“Dugaan fenomena ini, seakan-akan dibenarkan oleh hakim MK Syarief Hidayat (berbusana hakim, tanda berkabung) yang menyatakan kuasa politik yang keblasan dapat mendominasi: ekskutif, legislatif dan yudikatif. Ini berarti Trias Politica dikhianati, “cheks and balance” sirna, memberikan penggambaran krisis hukum yang kemudian menjalar serius ke bidang : politik dan ekonomi,” kata Jro Gde Sudibya.
Kalau rencana kaum oligarki ini, tidak diwaspadai, lanjtut Jro Gde Sudibya akan melahirkan prahara buat negeri, yang bisa melahirkan perlawanan kekuatan rakyat -people power movement.
Menurutnya, tanggal 14 Februari 2024 Pilpres dan Pileg tinggal 3,5 bulan, diperlukan kerja bersama anak-anak bangsa ini yang masih bersetia tegak lurus dengan konstitusi, tidak mengkhianati gerakan reformasi yang “berdarah-darah”.
“Dari para filosof kita bisa belajar, sejarah “mengetuk” pintu bangsa ini, kekuasaan yang cendrung korup yang mengingkari idealisme cita-cita pembukaan UUD 1945, di sebuah negeri yang dilahirkan melalui perjuangan rakyat, dengan pengorbanan: jiwa dan raga, darah, air mata,” katanya.
Dikatakan, di sini arti penting kekuatan rakyat -people power- untuk melawan: keculasan politik, pengkhinatan terhadap kesetiaan dan “pat gulipat” kolusi jahat oligarki politik ekonomi, dengan memberikan dukungan penuh kepada putra terbaik bangsa GP – MM.
Menurut pengamat, bukan hasil “perkawinan” politik yang dipaksakan, tetapi pengambilan keputusan cerdas, untuk memecahkan masalah bangsa yang fundamental di hari-hari ini dan menyongsong masa depan yang lebih cerah.
Menurutnya, Presiden Soekarno pernah menggalang kekuatan intra nasional, poros: Jakarta – Hanoi- Pyongyang – New Delhi- Beiing untuk mengimbangi kekuatan Dunia Pertama yang mendominasi kekuatan barat yang kapitalistik. Jujur harus dikatakan Indonesia kalah jauh tertinggal dari China dan India dalam: ekonomi indusrri dan iptek.Dengan rekam jejak GP -MM dengan idealismenya, dengan dukungan “partai jangkar” PDI Perjuangan yang terbukti tangguh dalam sejarah perjuangannya, plus PPP, Hanura dan Perindo mampu mengejar ketertinggalan dari China dan juga India. (Adi Putra)

