Dorong Jurnalisme Solutif, Wartawan di Bali Dibekali Pelatihan Peningkatan Kapasitas Peliputan Bencana Alam

0
315

Foto ilustrasi: jurnalis sedang meliput bencana (ist)

Balinetizen.com, Denpasar

Bali sebagai destinasi pariwisata dunia memiliki karakteristik geologis dan geografis yang rawan terhadap berbagai bencana alam. Ancaman gempa bumi dan tsunami selalu mengintai akibat keberadaan zona subduksi di selatan Jawa-Bali, sementara perubahan iklim global juga memperburuk potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanah longsor.

Meski potensi bencana tinggi, tingkat kesiapsiagaan masyarakat masih dinilai belum optimal. Minimnya sosialisasi, latihan simulasi, serta keterbatasan akses informasi yang mudah dipahami menjadi tantangan utama. Dalam konteks inilah media massa dinilai memegang peran vital untuk menyebarkan informasi yang akurat, edukatif, dan mendorong partisipasi publik dalam pengurangan risiko bencana.

Ketua Panitia Pelatihan, M. Ridwan, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk membekali jurnalis dengan kemampuan yang relevan dalam meliput bencana.

“Peliputan bencana yang akurat, berimbang, dan edukatif sangat urgen untuk membangun kesadaran kolektif di tengah publik. Namun wartawan sering menghadapi tantangan, mulai dari keterbatasan pemahaman teknis, akses data valid, hingga tekanan memberitakan secara sensasional,” ujar Ridwan yang juga Pemred radarbali.id dan Jawa Pos TV Bali, Rabu (1/10/2025).

Menurutnya, tujuan utama pelatihan ini adalah:

Meningkatkan pemahaman wartawan terkait jenis bencana di Bali (gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor) serta dampaknya.

Mengasah keterampilan peliputan agar jurnalis mampu mengumpulkan data, melakukan wawancara, menulis berita, hingga memproduksi konten multimedia dengan akurat.

Mengenalkan etika peliputan bencana, seperti menghindari sensasionalisme, menjaga privasi korban, serta menyebarkan informasi yang menenangkan publik.

Membangun jaringan komunikasi antara jurnalis dengan pemangku kepentingan kebencanaan seperti BMKG, BPBD, Basarnas, akademisi, hingga NGO.

Direktur Jawa Pos TV Bali, Ibnu Yunianto, menilai pelatihan ini sangat relevan untuk meningkatkan kapasitas wartawan di Bali.

Baca Juga :  Jelang Idul Fitri, Polres Jembrana Akan Bangun Pos Penyekatan Pemudik

“Kita ingin mendorong Jurnalisme Solutif, yakni tidak sekadar memberitakan bencana, tetapi juga mengangkat upaya mitigasi, kesiapsiagaan, dan rekonstruksi pascabencana secara edukatif,” tegas Ibnu yang juga Wakil Direktur Jawa Pos Radar Bali.

Menurutnya, jurnalisme adalah pilar utama dalam membangun kesadaran publik terhadap isu krusial, termasuk perubahan iklim. “Jurnalis kontemporer harus mampu menerjemahkan data ilmiah yang kompleks menjadi informasi yang mudah dipahami publik. Ini bukan sekadar soal wawasan, tetapi menyangkut penyelamatan nyawa dan peningkatan kualitas hidup,” tambahnya.

Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III, Cahyo Nugroho, juga menegaskan pentingnya peran jurnalis dalam menyampaikan informasi kebencanaan.

“Bagi kami di BMKG, jurnalis adalah ujung pena sebagai pencerah informasi yang benar tentang potensi bencana, khususnya di Bali sebagai destinasi wisata dunia. Jurnalis harus dibekali pengetahuan yang mumpuni agar pesan mitigasi dan penanggulangan bencana tidak bias saat sampai ke masyarakat,” jelasnya.

Cahyo mengingatkan, secara geografis Bali berada di jalur rawan, baik subduksi megathrust di selatan maupun patahan di utara. Ia mencontohkan tsunami di Banyuwangi dan Sumbawa, serta gempa Seririt, sebagai bukti nyata potensi ancaman. Bahkan banjir bandang pada 10 September 2025 lalu disebut sebagai dampak pancaroba ekstrem dengan dua siklus musim hujan.

“Media tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga berperan memberi edukasi yang benar kepada masyarakat,” pungkasnya.

Pelatihan ini menghadirkan sejumlah narasumber berkompeten, di antaranya:

1. Kadis Lingkungan Hidup Provinsi Bali sekaligus mantan Kalaksa BPBD Bali, Made Rentin

2. BMKG Wilayah III Denpasar (Meteorologi Early Warning System & Meteorologi Publik), Kadek Setiya Wati

3. Stasiun Klimatologi Bali (Prakiraan Musim Bali), Made Dwi Wiratmaja, S.Si., M.P.

Baca Juga :  Belasan Titik Bencana Alam di Gianyar Sabtu Kemarin, Tidak Sebabkan Listrik Padam

4. Stasiun Meteorologi Ngurah Rai Bali (Meteorologi Penerbangan), Putu Eka Tulistiawan

5. Stasiun Geofisika Denpasar (Potensi Gempa Bumi dan Tsunami serta Mitigasinya), Ni Luh Desi Purnami, S.Tr.

Pelatihan ini diharapkan mampu memperkuat peran jurnalis sebagai garda terdepan dalam menyebarkan informasi yang akurat, solutif, dan edukatif demi meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat Bali menghadapi bencana. (Jp/rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here