Balinetizen.com, Jakarta
Yayasan Puri Kauhan Ubud menggelar Peluncuran dan Diskusi Buku “Tandur Taru Urip: Mengakar Kuat, Menjulang Tinggi” dan “Panca Kertha: Manifesto Pemikiran tentang Transformasi PHDI” di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, Minggu (13/9/2026).
Acara diawali dengan keynote speech Gubernur DKI Jakarta yang diwakili oleh Dr. Nasruddin Djoko Surjono, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta. Selanjutnya, kedua buku dibedah oleh tiga Rektor Perguruan Tinggi Agama Hindu, yakni Prof. Dr. I Gede Suwindia, Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja; Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, Rektor UNHI Denpasar; dan Prof. Dr. I Wayan Wirata, Rektor IAHN Gde Pudja Mataram. Diskusi dimoderatori Teddy C. Putra, M.Sos.
Turut hadir dalam peluncuran buku tersebut Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba, Dharma Adhyaksa PHDI Pusat, Bhikkhu Vimala Mahathera, Dr. Fajar Riza Ul Haq, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI; I Nengah Dana, Ketua Sabha Welaka PHDI Pusat, Mayjen TNI (Purn) Wisu Bawa Tanaya, Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat, Prof. Dr. I Nengah Duija Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI, Irjen. Pol. (Purn.) Drs. Sang Made Mahendra Jaya, Inspektur Jenderal Kementerian Dalam Negeri; Ni Made Ayu Marthini, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata; I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandhi, Komisioner DKPP RI ; serta tokoh-tokoh umat Hindu tingkat nasional.

Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud sekaligus penulis kedua buku, AAGN Ari Dwipayana, mengatakan peluncuran tersebut tidak semata-mata memperkenalkan dua buku, tetapi diharapkan menjadi “pasamuan gagasan” untuk membaca perjalanan, mendiskusikan keadaan hari ini, serta memikirkan masa depan umat Hindu dan Indonesia.
Tandur Taru Urip merupakan kumpulan orasi ilmiah yang mempertemukan ilmu pengetahuan, agama, dan kebudayaan. Metafora taru atau pohon kehidupan menggambarkan pentingnya memiliki akar kuat pada Dharma, sejarah, kebudayaan dan kearifan Nusantara, sekaligus berani menjulang tinggi memasuki dunia ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan perubahan zaman. “Mengakar kuat bukan berarti kembali ke masa lalu. Menjulang tinggi juga bukan berarti meninggalkan akar,” kata Ari.
Sementara itu, Panca Kertha berbicara tentang masa depan PHDI sebagai rumah bersama umat Hindu Indonesia. Menjelang Mahasabha XIII PHDI, Ari mengajak umat tidak hanya memperdebatkan siapa yang akan memimpin, tetapi menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: PHDI seperti apa yang dibutuhkan umat Hindu hari ini dan di masa depan?
Dari pertanyaan tersebut lahir Panca Kertha Transformasi PHDI: Pulihkan Marwah, Satukan Umat, Rawat Kebhinnekaan, Benahi Tata Kelola, dan Berdayakan Umat. Lima agenda tersebut merupakan undangan untuk berdialog dan bekerja bersama, bukan agenda seorang figur atau kelompok tertentu.
Ari menegaskan bahwa persatuan Hindu Nusantara tidak boleh dimaknai sebagai penyeragaman. Keragaman tradisi, dresta, tata titi, komunitas, dan ekspresi kebudayaan justru merupakan kekayaan yang harus dirawat dalam rumah bersama. “Eka Twa, Aneka Twa, Swalaksana Bhatara—satu dalam hakikat, beragam dalam ekspresi dan jalan pengabdian.”
Menurut Ari, benang merah kedua buku tersebut sederhana: Tandur Taru Urip berbicara tentang akar, sedangkan Panca Kertha berbicara tentang rumah. Umat Hindu membutuhkan akar yang kuat agar tidak tercerabut sekaligus rumah yang kokoh agar seluruh keragaman Hindu Nusantara dapat tumbuh bersama.
“Mari kita rawat akar, kita kuatkan rumah bersama, dan kita tumbuhkan masa depan Hindu Nusantara. Mengakar kuat, menjulang tinggi. Pulihkan marwah, satukan umat, rawat kebhinnekaan, benahi tata kelola, dan berdayakan umat,” pungkas Ari. (rls)

