Ekonom dan Pengamat Pariwisata Budaya I Gde Sudibya: Musibah Pelaga Adalah Wake Up Call, Jangan Korbankan Kontur Sakral Bukit Bon – Bukit Mangu Demi Glamping

0
59

Balinetizen.com, Badung

Bencana tanah longsor yang menerjang kawasan Eco Park Pelaga Glamping Retreat di Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung, Senin (2/11/2026), yang menyebabkan dua orang hilang, tidak hanya menyisakan duka. Peristiwa ini menjadi momentum refleksi dan koreksi total bagi arah pengembangan pariwisata perdesaan di Badung Utara.

Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta dan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa telah turun langsung ke lokasi, memastikan operasi pencarian korban oleh tim gabungan Basarnas, BPBD, TNI dan Polri berjalan optimal. Namun di balik upaya kemanusiaan tersebut, muncul pertanyaan mendasar tentang tata kelola wisata alam.

Ekonom, pengamat ekonomi pariwisata dan kebudayaan, I Gde Sudibya, yang akrab disapa Jro Gde Sudibya, menyebut musibah ini sebagai “Peringatan Wake Up Call untuk Wisata Perdesaan Badung Utara.”

Pariwisata Paras-Paros yang Terciderai

Menurut Jro Gde, selama ini semua pihak sedang berjuang bersama mewujudkan pariwisata perdesaan yang bersahabat dengan lingkungan, mengandung unsur pemerataan berkeadilan.

“Menemukan kembali tradisi sosialistik religius, berangkat dari keyakinan Niskala mengembangkan ekonomi berkeadilan, paras-paros untuk kesejahteraan bersama,” ujar Jro Gde Sudibya kepada MetroBali, Senin pagi (3/11/2026).

Cita-cita mulia itu, kata dia, terciderai ketika pembangunan akomodasi wisata alam abai terhadap daya dukung lingkungan.

Keunikan Jejer Kemiri Bukit Bon – Bukit Mangu

Jro Gde mengingatkan, Daerah Badung Utara, terutama perdesaan Kecamatan Petang punya kontur alam nan indah dan kaya secara spiritual. Ini merupakan modal kultural yang tidak ternilai dalam pengembangan pariwisata perdesaan.

“Jejer kemiri Bukit, mulai dari Bukit Bon, Bukit Mangu yang terus membentang ke Selatan sampai kawasan Mangupura, memberikan penjelasan tanpa penjelasan – unexplain explanation – untuk menggambarkan keunikan dan kekhasan kawasan Badung Utara,” jelasnya.

Baca Juga :  Pergantian Tahun ditengah Pandemi COVID-19, Wagub Cok Ace Minta Warga Bali Jaga Diri

Kontur perbukitan yang memanjang sakral tersebut, menurutnya, tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai lahan komersial untuk vila dan glamping tanpa perhitungan geologi dan spiritual yang mendalam.

Amdal Kredibel dan Pengawasan Profesional yang Dipertanyakan

Jro Gde secara tegas menyoroti aspek perizinan dan pengawasan proyek.

“Peristiwa longsor di Eco Park Pelaga, patut disesalkan dan semestinya tidak terjadi, jika proyek ini disertai Amdal (Analisis Dampak Lingkungan) yang kredibel dengan pengawasan lapangan dalam pengerjaan proyek yang profesional,” kritiknya.

Ia menegaskan, musibah ini semestinya menjadi pelajaran berharga bagi Pemda Badung untuk melakukan langkah koreksi total.

“Melakukan pengawasan lapangan yang profesional dan bertanggung-jawab atas semua vila perdesaan di Badung Utara,” tegas Jro Gde.

Pemkab Badung Akan Evaluasi Total

Senada dengan kritik tersebut, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dalam peninjauan di lokasi bencana menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh.

“Berangkat dari kejadian ini, tentu kami akan melakukan evaluasi terhadap kondisi di lapangan. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali, meskipun dari sisi perizinan sudah ada pengaturan dan proses yang telah ditempuh. Namun demikian, evaluasi tetap perlu dilakukan agar tidak kembali menimbulkan korban,” ujar Adi Arnawa.

Wagub Giri Prasta juga menekankan, Pemprov Bali dan Pemkab Badung berkomitmen memperkuat mitigasi bencana di kawasan wisata berbasis alam. Pencarian dua korban tetap menjadi prioritas dengan operasi SAR selama tujuh hari ke depan.

Musibah Pelaga menjadi cermin. Di satu sisi Badung Utara menyimpan potensi pariwisata perdesaan berbasis budaya dan spiritualitas yang luar biasa. Di sisi lain, tanpa Amdal yang jujur dan pengawasan yang berintegritas, keindahan itu bisa berubah menjadi petaka.

“Panca Baya” di Desa Pelaga pada saat “puja wali” ring Pura Puncak Mangu, longsor di Pura Kehen menjelang puja wali raina Pagerwesi, sejumlah longsor yang terjadi ring raina Coma Ribek pemujaan Tuhan Wisnu yang membawakan “Panca Baya” semestinya membuat krama Balj terlebih-lebih para pemimpinnya pada semua lapisan untuk mawas diri dan melakukan koreksi diri dan koreksi bersama. “Care sesonggan Baline, apang sing gangsar tindak kuang daya”, “kedroponan” dalam melangkah.

Baca Juga :  Pedagang Pasar Kandang Tolak Pemberlakuan Satu Jalur, Ini Aspirasi Para Pedagang

Penulis: Tim Balinetizen
Editor: I Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here