Tangkapan layar : Rekaman video kedatangan turis manca negara yang merapat di pelabuhan Benoa, pada Kamis (3/11/2022) yang lalu
Rekaman video kedatangan turis manca negara yang merapat di pelabuhan Benoa, pada Kamis (3/11/2022) yang lalu begitu terkesan bahwa pariwisata Bali akan bangkit kembali. Harapan ini muncul tentu ukurannya kedatangan jumlah wisatawan membludak. Apalagi dengan adanya KTT G20 di Bali.
Namun berbeda dengan pandangan, kajian dan pengamatan Jero Gde Sudibya. Justru Jero Gde Sudibya balik bertanya. KTT G20 bagi Ekonomi Bali, Harapan yang Layak atau Fatamorgana semata?
Menurut pengamat dan ekonomi Jero Gde Sudibya, panitia lokal menyambut menggebu-gebu perhelatan ekonomi global ini, termasuk tindakan yang dinilai berlebihan oleh sebagian kalangan. Misalnya, “pembrangusan” spanduk kuliner paling populer rakyat Bali, Bali Guling, pemasangan penjor perhiasan senilai Rp.3,5 M dan peristiwa lainnya yang sensitif keagamaan.
Dikatakan, penyambutan menggebu-gebu, dengan optimisme tinggi bahwa ekonomi Bali akan segera pulih pasca G20. Tetapi tidak pernah diberikan penjelasan secara teknokratis ekonomi, pemulihan ini karena apa?
Pertumbuhan belanja masyarakat, belanja modal pemerintah, ekspor netto (baca : membanjirnya tamu) atau ekspansi kredit perbankan? Dan apa skenario kebijakan Pemda Bali menyongsong optimisme tersebut? Supaya tidak terjebak menjadi Fatamorgana, khayalan yang tidak menjadi kenyataan.
“Tidak seperti kedatangan Gubernur Jendral Hindia Belanda Johan Paul van Limburg Stirum tahun 1918., mengunjungi Singaraja, tempat peristirahatan di Tejakula dan juga Kintamani, dan kemudian tidak berdampak apa-apa buat ekonomi rakyat Bali,” dia mencontohkan.
Dikatakan, optimisme ekonomi Bali akan segera pulih pasca G20, boleh saja, tetapi apa skenario kebijakan Pemda Bali untuk mendukung optimisme tersebut? Tanpa harus menganggap enteng (under estimate) dari resesi ekonomi dunia, satu tahun ke depan. Diperkirakan negara-negara pemasok tamu untuk Bali, seperti: China, Korea Selatan, India dan Jepang akan mengalami resesi.
“Pada sisinya yang lain para pengusaha di Bali terutama kelompok UMKM, akan dihadapkan pada persoalan keuangan yang serius, akibat akan berakhirnya restrukturisasi/perpanjangan kredit per 31 Maret 2023,” katanya.
Berdasarkan data yang beredar di medsos jumlah hutang yang harus dimulai angsuran pelunasan plus bunganya senilai Rp.27 T. Tanpa perpanjangan restrukturisasi, banyak UMKM akan mengalami kesulitan bayar, sehingga asetnya akan dilelang. Semestinya Pemda Bali juga fokus menyiapkan paket kebijakan untuk menghindarkan terjadi krisis keuangan UMKM. (RED-MB)
Editor : Nyoman Sutiawan
