Festival Buleleng, Momentum Revitalisasi Pariwisata Berbasis Sejarah Budaya

0
219

 

Balinetizen.com, Buleleng

Festival Buleleng dari tanggal 18 Agustus 2025 – 23 Agustus berlangsung meriah dengan partisipasi publik Buleleng yang luas. Menjadi surprise, di hari terakhir dikunjungi Presiden ke lima Megawati Soekarnoputri, yang di usianya 77 tahun tampil tenang, ramah berseri dengan spirit kepemimpinan yang kuat. Pemimpin dengan kemampuan determinasi yang kuat.

Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi pariwisata, lahir di Desa Tajun, Minggu 24 Agustus 2025.

Dikatakan, pariwisata Buleleng akan memasuki era baru, dengan perencanaan komprehensif kepemimpinan dr.Sutjidra – Bro Supriatna, yang merencanakan untuk menata ulang, menyempurnakan dan membangun kembali 3 titik bersejarah Buleleng.

Dicontohkan, kawasan bersejarah di Monumen Singa “Umbara” Raja, Titik O Pusat Pemerintahan Kabupaten Buleleng, Pelabuhan Buleleng yang Melegenda, dan Pantai Lovina ternama yang ditemukan raja Buleleng terakhir cum sastrawan ternama AA.Pandji Tisna.

Menurutnya, kawasan bersejarah ini, perlu inovasi yang merupakan kerja sama Pemda Buleleng dengan PHRI Buleleng, berupa paket program wisata “SINGARAJA SIGHT SEEING TOUR, yang diharapkan unik dan kompetitif sebagai paket produk wisata, yang dimulai dari rumah tuanya Ni Nyoman Rai Srimben (Ibunda Bung Karno) di Banjar Bale Agung, SD Satu Singaraja, tempat dimana R.Soekemi (ayahnya Soekarno pernah menjadi kepala sekolah), Taman Bung Karno di Desa Sukasada.

Lanjut ke kantor Bupati, yang menyimpan catatan sejarah yang kaya. Menyebut beberapa: kantor Resident Bali Lombok, kantor Gubernur Soenda Ketjil (Bali, NTB, NTT).

Dikatakan, mengunjungi Gedung Kerthya yang bersejarah, tersimpan lontar, karya sastra tentang sejarah budaya Bali dalam kurun waktu ratusan tahun, bahkan lebih dari 1 000 tahun.

“Bernostalgia di Pelabuhan Buleleng yang bersejarah. Tahun 1920 turis Belanda mendarat di Pelabuhan ini, dan kemudian mengunjungi Tejakula dan Cintamani,” katanya.

Baca Juga :  Aksara Bali Ditetapkan Sebagai "Nama Domain Tingkat Dua", Pertama di Nusantara

Dikatakan, tahun 1935, pengelana Spanyol Michel Robias mendarat, naik sepeda menuju Badung, menyusun buku yang melegenda “Island of Bali”, sebagai instrument pertama untuk memperkenalkan Bali di Eropa.

Menurutnya, pelabuhan Alam ini, menjadi “point of export” Bali di tahun 1950 – 1970, untuk kopi dengan pasar Eropa, Sapi untuk pasar Singapura dan Hong Kong. Komoditas ekspor ini menjadi penggerak utama ekonomi Bali di era tsb.

Dikatakan, mengunjungi pantai LOVINA – Love in Indonesia -, pantai Bali Utara yang indah nan tenang. Menyimak perjalanan sejarah sang penemu, AA Pandji Tisna, Raja Buleleng terakhir (sebelum Indonesia Merdeka), sastrawan ternama, pengarang novel: I Suasta Setahun di Bedahulu, Nyi Rawit Ceti Penjual Orang, Sukreni Gadis Bali (novel yang difilmkan) dan Made Widiadi.

“Singaraja sifat seeing tour, dengan “break” makan siang di Pantai Buleleng, dan makan malam di Lovina,” kata Jro Gde Sudibya.

Diharapkan tamu menginap di Lovina dan sekitarnya untuk besok pagi menjalani tour lumba-lumba – Dolphin Tour -, Menyimak pemandangan alam di ufuk Timur dengan siraman sinar Matahari, jejer kemiri Bukit dari Tejakula – Bukit Sinunggal – Wanagiri sampai di Barat “jejer kemiri bukit ring sawewengkon” Pulaki.

Selanjutnya, menyaksikan Trumbu Karang nan indah di seputaran Lovina dengan puncaknya “tarian” alami barisan lumba-lumba yang timbul tenggelam, datang dan pergi yang sangat mempesona.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here