Balinetizen.com, Jakarta –
Penangkapan Presiden Venezuela Maduro oleh pasukan khusus AS atas perintah Presiden Donald Trump dengan tuduhan bertanggungjawab terhadap perdagangan narkoba di AS, telah menimbulkan geger.
Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan kecenderungan masa depan, Jumat 9 Januari 2026.
Dikatakan, buntut dari penangkapan presiden Venezuela Maduro muncul berbagai protes dari anggota Senat AS karena penyerbuan ke negara lain tanpa persetujuan Senat, demo di banyak kota di AS salah satunya dengan tema: “no blood for oil”, tidak ada darah tumpah untuk minyak.
“Protes dari banyak negara, menyebut beberapa: Rusia, China, dan sejumlah negara Eropa, dan PBB merencanakan sidang Dewan Keamanan untuk Penangkapan Presiden Venezuela ini,” kata Jro Gde Sudibya.
Dikatakan, tidak sedikit para pengamat berpendapat, setelah penangkapan Presiden Maduro ini terbuka jalan bagi naiknya kandidat presiden yang dicurangi oleh Maduro dalam pemilu sebelumnya, atau aktivis demokrasi Venezuela yang memenangkan hadiah Nobel Perdamaian tahun 2025.
Menurut Jro Gde Sudibya, di sini pengamat kecele, Trump dari tempat peristirahatannya menyatakan akan mengambil langkah-langkah untuk menguasai minyak Venezuela.
“Ini merupakan preseden sangat buruk dalam tata hubungan internasional, negara adi kuasa untuk mengamankan pasokan energinya dengan melakukan anektesi ke negara lain, menangkap sang Presiden dengan melanggar hukum internasional tentang kedaulatan wilayah satu negara. Preseden yang sangat buruk dan sangat membahayakan tata hubungan dunia ke depan,” katanya.
Menurutnya, Venezuela negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia: 330 milyar barel, disusul oleh Arab Saudi 267 milyar barel dan kemudian Iran 208 milyar barel.
Dengan kapasitas terpasang 3 juta barel per hari, dengan produktivitas harian 300 ribu barel, Kompas (5/1/2026).
Dikatakan, cadangan minyak sangat besar, dengan kapasitas produksi besar membuat Trump “gelap mata” berambisi menguasai Venezuela dengan melakukan pelanggaran terhadap konstitusi AS dan konvensi hukum internasional.
Dikatakan, hikmah yang bisa dipetik dari “geger” Maduro dalam konteks politik dalam negeri, pemerintahan yang korup, masa bodo kepada kepentingan publik, melahirkan sistem yang rapuh termasuk moral dari sistem keamanan sang presiden, sehingga begitu mudah ditembus oleh musuh dan menyandra sang presiden.
“Peristiwa memalukan dalam perspektif kehidupan berbangsa yang sehat,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan kecenderungan masa depan.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

