Balinetizen.com, Denpasar –
Tamsilnya “tidak ada hujan dan tidak ada angin” FKUB Bali dan kemudian didukung oleh Gubernur, pemimpin yang dalam kampanyenya mengklaim diri berada di garda terdepan untuk “nindihin gumi Bali, memutuskan secara sepihak takbir boleh dilakukan di tengah krama Bali menjalankan Catur Bratha Penyepian.
Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu, penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali, pengamat kecenderungan masa depan, Senin 9 Maret 2026.
Dikatakan, keputusan gegabah, layaknya petir di siang bolong, krama Bali tidak mampu menjaga “natah”nya, kalah dalam “pertempuran” dan kemudian kalah dalam “peperangan”.
“Tidak bermaksud “mengompori”, soal waktu saja, krama Bali tidak menjadi Tuan di rumahnya sendiri dan bahkan bisa menjadi “pengungsi”:di tanah leluhurnya,” katanya.
Menurut Jro Gde Sudibya, dari kasus ini, sudah semestinya krama Bali lebih mawas diri, lebih menjadi sadar, JAGRA, akan “musuh” yang menghadang, termasuk musuh dalam selimut yang bisa “menusuk” dari belakang.
“Wahai krama Bali, bangun kembali sikap JENGAH, keberanian dan kemampuan bersaing di tengah kehidupan yang semakin “kejam”,” katanya .
Jro Gde Sudibya mengajak umat Hindu Bali menata dan menemukan kembali keunggulan dalam kehidupan melalui kerja, proses kerja, proses belajar METAKSU.
Dikatakan, belajar dan bekerja terus menerus, menjadi unggul, meningkatkan kemampuan saing dalam merespons perubahan.
“Berhentilah (maaf), “ajum, ajum-ajuman, belog ajum, memuduh dan buduh-buduhan”,” katanya.
Menurutnya, dalam konteks kehidupan dewasa ini, nasehat dari Presiden Soekarno kepada sejumlah mahasiswa di Istana Negara Jakarta, minggu pertama Juli 1957 ” perjuanganku lebih ringan karena berhadapan dengan bangsa asing yang penjajah, perjuangan kalian lebih berat karena harus berhadapan dengan bangsa sendiri”. Ucapan Soekarno benar adanya, masih segar dalam ingatan kita bersama, gerakan reformasi 28 tahun yang lalu sekarang dikhianati secara terang-terangan tanpa rasa malu dan tanpa rasa bersalah.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

