Balinetizen.com, Jembrana
Keberagaman dan toleransi beragama kembali terpancar kuat dari bumi Jembrana. Umat Hindu dan Muslim yang tergabung sebagai petani pengempon Subak Babakan Bayuh, Desa Sangkaragung, menggelar tradisi lima tahunan Tasyakuran Mushola At-Taqwa di Subak Babakan Bayuh Kelurahan Sangkaragung, Jembrana, Minggu ( 25/10).
Kegiatan ini menjadi simbol nyata harmonisasi dua agama dalam menjaga kelestarian alam, tradisi gotong royong, serta keberlanjutan sektor pertanian lokal.
Panitia Tasyakuran Mushola At-Taqwa sekaligus Wakil Kelian Subak Babakan Bayuh, Airul Umam, menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur atas rezeki, kesehatan, dan hasil pertanian yang melimpah. Lebih dari itu, tradisi ini menegaskan eratnya sinergi antara umat Hindu dan Muslim di Subak Babakan Bayuh.
“Maknanya kita bersyukur bahwa kami sebagai petani telah diberikan kesehatan dan hasil pertanian yang baik. Umat Hindu dan Muslim di sini tetap bersinergi sudah terjalin sejak lama, mengutamakan gotong royong dan kebersamaan,” ujar Airul Umam.
Menurutnya tradisi ini digelar setiap lima tahun sekali sebagai warisan leluhur yang terus dilestarikan. Sementara pengempon subak tidak hanya dari umat Hindu tapi juga umat Muslim yang anggotanya mencapai sekitar 100 kepala keluarga (KK).
Selain perbaikan dan perawatan Mushola At-Taqwa, kebersamaan juga terjalin saat pelaksanaan upacara di Pura Hulun Danu Batur Bangli, dimana umat Muslim turut hadir dan berpartisipasi menjaga keharmonisan.
“Nilai utama dari perjuangan para tokoh terdahulu ini diwariskan kepada generasi muda agar semangat bertani dan mencintai tanah air tetap menyala, ” terangnya .
Lebih lanjut, Umam menjelaskan ditengah tantangan alih fungsi lahan serta ancaman abrasi, luas areal Subak Babakan Bayuh saat ini mengalami penyusutan dari 56 hektar menjadi 52 hektar akibat tergerus air pasang.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, menyampaikan apresiasi mendalam dan rasa terima kasih kepada seluruh petani serta masyarakat Subak Babakan Bayuh atas konsistensi menjaga hubungan harmonis lintas agama dan kelestarian alam secara turun-temurun.
“Atas nama pimpinan daerah, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menjaga hubungan baik ini secara turun-temurun. Hubungan harmonis dengan sesama manusia dan alam harus terus dirawat, termasuk tidak membuang sampah sembarangan,” tegas Bupati Kembang.
Bupati Kembang menambahkan bahwa di tengah tantangan dan situasi keuangan daerah yang terbatas, kepedulian masyarakat dalam menjaga lingkungan merupakan tindakan yang sangat luar biasa.
“Kepedulian masyarakat dalam menjaga lingkungan adalah tindakan yang sangat luar biasa untuk mencegah dampak yang tidak diinginkan seperti bencana alam, sekaligus mendukung pembangunan,” ujar Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan. (Prokopim)

