Healing Art Universe: Ketika Seni Lukis Menjadi Terapi Batin di BIH Sanur

0
216

 

Balinetizen.com, Denpasar

Seniman lukis Sherry Winata kembali menghadirkan karya-karya reflektif yang memanifestasikan perjalanan batin dan spiritual dirinya melalui pameran bertajuk “Healing Art Universe”.

Pameran ini merupakan kolaborasi antara Sherry Winata, G3N Project, dan Bali International Hospital (BIH) Sanur, yang resmi dibuka pada Selasa sore, 16 Desember 2025.

Pameran yang digelar di Auditorium Lantai II BIH Sanur ini akan berlangsung selama lima bulan, menghadirkan tujuh karya lukisan yang merepresentasikan perjalanan personal Sherry Winata dalam menyelami alam bawah sadar, kesadaran diri, hingga kesadaran tertinggi manusia.

Kolaborasi ini sejalan dengan konsep Bali International Hospital sebagai rumah sakit internasional yang berfokus pada layanan jantung, kanker, dan ortopedi, serta menargetkan segmen pasien ekspatriat dan wisatawan medis yang mencari ketenangan dan kenyamanan di kawasan Sanur, Bali.

Bagi Sherry Winata, melukis bukan sekadar aktivitas artistik, melainkan medium untuk menyampaikan pengalaman batin yang tak mampu diungkapkan oleh bahasa verbal. Karya-karyanya lahir dari keheningan—saat pikiran mereda dan hati serta jiwa mulai berbicara.

“Rasa sakit, duka, kemarahan, dan bayangan diri bukanlah musuh, melainkan pesan jiwa. Di sanalah terjadi proses alkimia batin, ketika luka berubah menjadi kebijaksanaan dan rasa sakit menjelma kekuatan,” ungkap Sherry Winata, Selasa (16/12/2025).

Pemikiran Carl Jung tentang alam bawah sadar turut memengaruhi proses kreatifnya. Melalui permainan warna, tekstur, dan bentuk, Sherry menghadirkan emosi-emosi yang tak memiliki bahasa ke dalam ruang visual, menjadikan lukisan sebagai peta jalan pulang menuju jati diri.

Kedalaman makna karya Sherry Winata juga diperkuat melalui penggunaan material simbolis seperti batu permata, kristal, mineral, resin, dan material berlapis. Material tersebut tidak hanya berfungsi estetis, tetapi menjadi metafora perjalanan batin—dari luka, bayangan, hingga kejernihan dan cahaya. Pantulan cahaya yang dinamis menegaskan bahwa proses penyembuhan manusia bersifat terus bergerak dan tidak statis.

Baca Juga :  Meriah, Peringatan Hari Ibu di Jembrana Gelar Fashion Show dan Lomba Busana Berkebaya

Dalam pameran ini, keindahan dimaknai bukan sebagai kesempurnaan tanpa cela, melainkan keberanian untuk menerima seluruh bagian diri apa adanya. Seni, bagi Sherry, adalah ruang aman tanpa penghakiman—tempat setiap individu diingatkan bahwa dirinya adalah pencipta semesta batinnya sendiri.

General Manager G3N Project, Andry Ismaya Permadi, mengatakan kolaborasi ini merupakan kelanjutan dari berbagai pameran seni yang sebelumnya digelar di ruang-ruang nonkonvensional, termasuk fasilitas kesehatan. Menurutnya, seni tidak hanya layak hadir di galeri atau art fair, tetapi juga di ruang penyembuhan seperti rumah sakit.

“Pameran ini mengajak publik memandang seni sebagai proses refleksi dan penyembuhan. Seperti saat kami menghadirkan karya mendiang maestro Made Winata di BIH sebelumnya, kami melihat penyatuan teknologi medis modern dengan nilai estetika mampu menciptakan ruang penyembuhan yang lebih utuh,” jelas Andry.

Sementara itu, Direktur Bali International Hospital, Dr. Sheira A., MPH, FISQUA, menegaskan bahwa pihaknya berupaya menghadirkan lingkungan rumah sakit yang bersifat menyembuhkan, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan emosional.

“Kami ingin rumah sakit ini tidak terasa seperti rumah sakit pada umumnya. Kehadiran karya seni diharapkan dapat menurunkan kecemasan pasien, memberi rasa nyaman, dan menciptakan pengalaman penyembuhan yang lebih holistik,” ujarnya.

Melalui pameran Healing Art Universe, seni dan dunia medis berpadu, menghadirkan pengalaman penyembuhan yang menyentuh tubuh, pikiran, dan jiwa—sebuah pendekatan humanis dalam layanan kesehatan modern.

(Jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here