Balinetizen.com, Denpasar
Optimisme konsumen di Bali pada Desember 2025 tercatat mengalami perlambatan dibanding bulan sebelumnya. Perlambatan ini dipengaruhi oleh cuaca yang tidak menentu dengan curah hujan tinggi, serta normalisasi konsumsi setelah Hari Raya Galungan dan Kuningan yang berlangsung pada November 2025.
Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di angka 139,42, turun 1,5% (mtm) dibanding bulan sebelumnya. Meski melambat, angka IKK tersebut masih berada pada level optimis karena berada di atas indeks 100.
Optimisme konsumen berdasarkan kelompok usia tetap terlihat kuat, terutama didorong oleh responden usia produktif, yaitu:
20–30 tahun: 150,5
41–50 tahun: 147,0
31–40 tahun: 130,2
51–60 tahun: 127,4
>60 tahun: 110,4
Dari sisi pekerjaan, optimisme juga tercermin pada responden dimana sektor formal: 144,6 dan sektor informal: 133,7.
Survei Konsumen BI sendiri merupakan survei bulanan untuk mengukur tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini, serta ekspektasi ekonomi ke depan.
Komponen yang paling menahan laju optimisme adalah Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang turun dari 152,3 menjadi 147,8 atau melemah 3,0% (mtm).
Penurunan tersebut dipicu oleh dua faktor utama yakni Indeks penghasilan 6 bulan mendatang turun 6,7% (mtm) menjadi 152,5 dan Indeks ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang turun 4,6% (mtm) menjadi 144,5.
Menurut responden, pelemahan terjadi karena kondisi cuaca yang buruk menyebabkan pendapatan masyarakat, khususnya pelaku usaha skala mikro, ikut menurun.
Peningkatan curah hujan ini sejalan dengan data BMKG yang mencatat frekuensi kejadian hujan lebat ekstrem di Bali meningkat 20% (mtm) pada Desember 2025.
Meski optimisme melambat, indikator kondisi ekonomi saat ini justru mengalami kenaikan moderat.
“Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) naik dari 130,8 menjadi 131,0 atau meningkat 0,1% (mtm),” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Bali, R. Erwin Soeriadimadja, dalam keterangannya di Denpasar, Kamis (15/1/2026).
Peningkatan IKE terutama disebabkan oleh meningkatnya konsumsi barang tahan lama. Indeks konsumsi barang kebutuhan tahan lama naik dari 114,0 menjadi 117,0 atau tumbuh 2,6% (mtm).
Hal ini menunjukkan bahwa meski ada tekanan cuaca, optimisme ekonomi masyarakat Bali masih terjaga, baik dalam aspek kondisi sekarang maupun harapan ke depan.
Erwin mengatakan, pihaknya bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi dan kabupaten/kota terus menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Dan pada saat HBKN Natal dan Tahun Baru, TPID memastikan ketersediaan pasokan pangan melalui operasi pasar murah, pengawasan harga komoditas pangan utama dan koordinasi distribusi rutin agar jalur pasok tetap lancar.
Sementara itu, berdasarkan data BPS, inflasi tahunan Bali pada Desember 2025 tercatat 2,91% (yoy) dan masih berada dalam rentang target inflasi 2025 sebesar 2,5±1%.
Inflasi yang terkendali diyakini akan mendorong:peningkatan konsumsi rumah tangga naiknya minat investor dan penguatan aktivitas ekonomi regional.
Disatu sisi, di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global, Bank Indonesia pada 16–17 Desember 2025 memutuskan mempertahankan BI Rate 4,75%. Sementara itu deposit Facility: 3,75% dan lending Facility: 5,50%.
Terakhir kata Erwin, sebagai langkah menjaga daya beli masyarakat dan mendorong konsumsi, Pemerintah Provinsi Bali menetapkan kebijakan pengurangan pokok PKB dan BBNKB mulai 5 Januari 2026.
Langkah-langkah ini ditujukan menjaga stabilitas harga (pro stability) sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi (pro growth).(rls)

