Kinerja Dunia Usaha Bali Melandai Awal 2026, Dampak Low Season dan Geopolitik Global

0
304

 

 

Balinetizen.com, Denpasar 

Kinerja dunia usaha di Provinsi Bali pada triwulan I 2026 masih mencatatkan pertumbuhan, meskipun mengalami perlambatan dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini tercermin dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang menunjukkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 17,91 persen, turun dari 35,46 persen pada triwulan IV 2025.
Perlambatan ini terutama dipengaruhi oleh penurunan kinerja sejumlah lapangan usaha utama, khususnya sektor Penyediaan Akomodasi Makanan dan Minuman (Akmamin) serta sektor konstruksi. Sektor Akmamin tercatat mengalami kontraksi dari minus 0,67 persen pada triwulan IV 2025 menjadi minus 8,32 persen pada triwulan I 2026. Sementara itu, sektor konstruksi juga berbalik melemah dari 8,88 persen menjadi minus 1,78 persen.

Kondisi ini tidak lepas dari faktor musiman, terutama penurunan jumlah kunjungan wisatawan setelah periode libur akhir tahun atau memasuki fase low season. Dampaknya turut dirasakan oleh sektor pariwisata, perdagangan, serta berbagai sektor pendukung lainnya yang berimbas pada melambatnya daya beli masyarakat.

Data dari Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) Bandara I Gusti Ngurah Rai menunjukkan adanya penurunan jumlah kedatangan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Pada triwulan I 2026, jumlah kunjungan tercatat sebanyak 2,62 juta orang, turun 10,85 persen dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 2,94 juta orang.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia
Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja menjelaskan selain faktor musiman, tekanan juga datang dari ketidakpastian ekonomi global. Konflik geopolitik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah berdampak pada perubahan jadwal penerbangan internasional, yang turut memengaruhi arus wisatawan ke Bali.
Tidak hanya itu, dampak geopolitik juga memicu kenaikan harga bahan baku plastik akibat terganggunya pasokan bijih plastik dari Timur Tengah. Kenaikan harga ini dirasakan pelaku usaha, termasuk pedagang di pasar tradisional di wilayah Denpasar, Buleleng, dan Badung.

Baca Juga :  Daftarkan Bacaleg, NasDem Jembrana Target Satu Fraksi

Pada April 2026, harga bijih plastik dilaporkan naik antara 30 hingga 60 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha, terutama karena sebagian besar masih berupaya menahan kenaikan harga jual guna menjaga daya beli konsumen.

Di tengah perlambatan tersebut, sektor jasa keuangan justru menunjukkan kinerja positif dan memberikan optimisme bagi dunia usaha. SBT sektor ini meningkat dari 0,27 persen pada triwulan IV 2025 menjadi 3,22 persen pada triwulan I 2026.

Peningkatan ini didorong oleh tetap terjaganya aktivitas ekonomi selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), seperti Nyepi dan Idulfitri, yang mendorong transaksi dan perputaran uang di masyarakat.

Sebagai informasi, SKDU merupakan survei triwulanan yang dilakukan Bank Indonesia untuk menggambarkan kondisi dunia usaha, arah perekonomian, serta ekspektasi pelaku usaha terhadap inflasi. Di Provinsi Bali, survei ini melibatkan 130 responden dari 17 kategori lapangan usaha.

Metode penghitungan SKDU menggunakan saldo bersih tertimbang, yaitu selisih antara persentase responden yang menyatakan peningkatan kegiatan usaha dengan yang menyatakan penurunan, dengan mempertimbangkan bobot masing-masing sektor usaha.
Ke depan, pelaku usaha di Bali diharapkan tetap waspada terhadap dinamika global dan faktor musiman, sembari memanfaatkan momentum pemulihan sektor keuangan untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan usaha.(rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here