Foto: Pemerhati perempuan dan anak yang juga Anggota Komisi IV DPRD Kota Denpasar Emiliana Sri Wahjuni S.E., mengucapkan selamat Hari Ibu 2019.
Balinetizen.com, Denpasar
Menjadi ibu atau orang tua dari anak berkebutuhan khusus ini atau “anak istimewa” memang bukan perkara mudah. Terlebih kondisi lingkungan dan masyarakat yang belum mampu sepenuhnya mereka keberadaan “anak istimewa” ini dan kerap juga mendapatkan stigma dan label negatif.
Namun menurut pemerhati perempuan dan anak yang juga Anggota Komisi IV DPRD Kota Denpasar Emiliana Sri Wahjuni S.E., sebenarnya para orang tua atau para ibu dari “anak istimewa” ini adalah orang tua dan ibu yang hebat dan dipilih Tuhan.
Ia pun mengapresiasi para orang tua atau para ibu dari “anak istimewa” ini yang telah dengan tegar, kekuatan hati dan kasih sayang penuh membesarkan anak-anaknya, bahkan mampu mengalahkan tekanan penolakan dan respon negatif dari lingkungan.
“Bagi saya merekalah wonder women sesungguhnya. Para ibu dan perempuan hebat yang dipilih Tuhan untuk membesarkan para anak-anak istimewa,” kata Emiliana Sri Wahjuni, Minggu (22/12/2019) serangkaian memperingati Hari Ibu Tahun 2019.
Emiliana Sri Wahjuni yang juga Sekretaris Fraksi NasDem-PSI DPRD Kota Denpasar menambahkan orang tua yang sukses membesarkan anak normal atau anak pada umumnya tentu hal itu sudah biasa dan bisa saja tidak terlalu sulit dilakukan.
“Namun orang tua, para ibu yang mampu membesarkan anak berkebutuhan khusus atau anak istimewa itu baru luar biasa. Orang tua bisa jadi belajar dengan anak,” kata tokoh perempuan yang dikenal konsern pada isu-isu perempuan dan anak ini.

Anggota DPRD Kota Denpasar Dapil Denpasar Selatan dari PSI (Partai Solidaritas Indonesia) inipun mampu memahami dan merasakan betapa beratnya perjuangan seorang ibu dengan “anak istimewa” yang mempunyai kemampuan berbeda dari anak lainnya.
Ia juga bisa memahami jika di masa-masa awal kelahiran “anak-anak istimewa” ini mungkin ada juga orang tua atau para ibu yang merasa mereka tidak beruntung. Bahkan bisa jadi ada rasa penolakan terhadap kehadiran sang anak di dunia yang dianggap berbeda dari anak pada umumnya.
“Mungkin ada ibu yang merasa ‘kok Tuhan tidak adil ya. Kok anak saya begini ya’. Saya rasa itu wajar. Tapi harus disadari bahwa Tuhan pasti punya rencana lain, Tuhan punya rencana yang indah bagi orang tua seperti itu,” kata Emiliana Sri Wahjuni, ibu dari dua orang putri ini.
Karenanya kata kuncinya adalah penerimaan terhadap takdir Tuhan. Karena setiap orang tua, setiap ibu tidak bisa memilih anaknya lahir seperti apa, apakah laki, ataukah perempuan, anak dengan fisik lengkap atau kurang maupun kondisi-kondisi lainnya.
“Kita tidak bisa memilih punya anak cantik, ganteng, atau yang seperti artis. Satu-satunya cara kita menerima apapun kondisinya, karena anak itu titipan Tuhan. Kita juga harus percaya kalau Tuhan punya rencana yang indah,” imbuh Emiliana Sri Wahjuni.
Menurutnya cara pandang terhadap “anak istimewa” ini harus diubah. “Tuhan punya rencana bukan menguji tapi ingin menunjukkan agar hati kita berubah dalam menjalani sesuatu,” ujar Emiliana Sri Wahjuni.

Tidak hanya cara pandang orang tua tapi juga cara pandang dan penerimaan lingkungan baik dari lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah, lingkungan kerja, pemerintah dan lainnya harus juga berubah.
Tidak boleh lagi ada stigma dan label negatif apalagi diskriminasi terhadap “anak-anak istimewa ini. “Selain penerimaan orang tua, penerimaan dan dukungan sosial dari lingkungan sangat penting. Dengan lingkungan yang positif dan menerima, potensi kecerdasan anak-anak istimewa ini bisa digali dan dimaksimalkan,” kata Emiliana Sri Wahjuni
“Jadi cara pandang kita diubah. Mereka itu anak istimewa. Karena kita tidak bisa memilih punya anak cantik, ganteng, atau yang seperti artis. Satu-satunya cara kita menerima apapun kondisinya, karena anak itu titipan Tuhan. Kita juga harus percaya kalau Tuhan punya rencana yang indah,” imbuh Emiliana Sri Wahjuni.
Ia juga menegaskan bakat-bakat terpendam dan kecerdasan “anak-anak istimewa” ini harus terus digali. Mereka harus diberikan semangat, dukungan penuh agar rasa percaya dirinya bangkit.
Menurutnya “anak-anak istimewa” ini sebenarnya juga punya potensi terhadap sembilan jenis kecerdasan. Yakni kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan naturalis, kecerdasan musikal, kecerdasan logika matematika, kecerdasan eksistensial, kecerdasan interpersonal, kecerdasan kinestetik jasmani, kecerdasan linguistik dan kecerdasan interpersonal.
“Tapi bagi orang tua anak istimewa tidaklah mudah. Mereka kadang harus mempunyai pola pikir di atas rata-rata. Hati yang istimewa. Iman dan doa yang dipanjatkan harus double porsi. Karena anak mereka istimewa, pasti Tuhan siapkan juga orang tua yang istimewa,” imbuh tokoh perempuan yang pernah bekerja di perusahaan Jerman ini.
Emiliana Sri Wahjuni memang konsisten menunjukkan empati dan memberikan perhatian besar kepada orang tua dari anak-anak yang berkebutuhan khusus atau “anak istimewa.”
Misalnya sebelumnya ia bekerjasama dengan progam Womenwill Gapura Digital (program pelatihan digital dari Google untuk kalangan perempuan) memberikan pelatihan digital marketing atau pemasaran digital dalam menjalankan bisnis online.
“Kami ingin orang tua anak istimewa ini bisa mandiri. Walau punya anak istimewa, merka sambil jaga anak tetap bisa cari uang. Misalnya bisa jugalan dari rumah secara online,” ungkap Emiliana Sri Wahjuni
Ia juga akan mengusulkan ke DPRD Kota Denpasar agar ada Ranperda Inisiatif mengenai Anak Istimewa ini. Hal ini penting untuk memberikan perlindungan kepada para anak-anak ini. (wid)

