Balinetizen.com, Denpasar
Keyakinan konsumen di Bali kembali menguat pada Juli 20 2026. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali yang meningkat menjadi 126,3, dari 121,5 pada Juni 2026.
Angka tersebut menunjukkan tingkat optimisme konsumen Bali tetap berada di zona positif karena berada di atas level 100. Bahkan, IKK Bali pada Juli 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang berada di level 116,8. Hal ini diungkap Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali Achris Sarwani.
Achris menjelaskan, peningkatan keyakinan konsumen terjadi pada sejumlah kelompok masyarakat berdasarkan tingkat pengeluaran. Kelompok dengan pengeluaran lebih dari Rp8 juta mengalami peningkatan keyakinan paling tinggi, yakni 32,5 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).
Kenaikan juga terjadi pada kelompok pengeluaran Rp7-8 juta sebesar 12,5 persen, Rp6-7 juta sebesar 7,8 persen, Rp5-6 juta sebesar 11,4 persen, Rp4-5 juta sebesar 9 persen, serta kelompok Rp2-3 juta sebesar 7,2 persen.
Meski demikian, keyakinan konsumen pada kelompok pengeluaran Rp1-2 juta dan Rp3-4 juta mengalami moderasi masing-masing sebesar 2,6 persen dan 10,4 persen secara bulanan.
Optimisme masyarakat Bali juga terlihat dari kelompok pekerja. IKK pekerja sektor formal tercatat sebesar 127,3, sedangkan sektor informal berada pada level 124,8.
Peningkatan IKK Bali pada Juli 2026 didorong oleh membaiknya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK).
IKE meningkat dari 119,3 pada Juni menjadi 122,3 pada Juli 2026 atau tumbuh 2,5 persen secara bulanan.
Kenaikan tersebut bersumber dari sejumlah indikator, yakni ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan enam bulan sebelumnya yang mencapai 132,0, penghasilan saat ini dibandingkan enam bulan sebelumnya sebesar 128,5, serta konsumsi barang tahan lama saat ini dibandingkan enam bulan sebelumnya sebesar 106,5.
Sementara itu, IEK meningkat lebih signifikan, dari 123,7 pada Juni 2026 menjadi 130,3 pada Juli 2026 atau tumbuh 5,4 persen secara bulanan.
Peningkatan IEK terutama ditopang oleh perkiraan penghasilan yang mencapai 127,5, perkiraan ketersediaan lapangan kerja sebesar 133,0, dan perkiraan kegiatan usaha sebesar 130,5.
Menurutnya, kondisi tersebut sejalan dengan akselerasi pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 yang mencapai 5,78 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan Triwulan I 2026 yang berada di level 5,58 persen dan juga melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
Pertumbuhan ekonomi Bali tersebut didukung peningkatan aktivitas konstruksi, perdagangan, pertanian, serta berlanjutnya aktivitas pariwisata selama periode libur sekolah dan rangkaian Hari Raya Keagamaan.
“Optimisme konsumen juga tercermin dari meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat selama periode liburan sekolah dan masih kuatnya aktivitas sektor pariwisata dan perdagangan yang mendorong peluang usaha serta penyerapan tenaga kerja di Bali,” ujar Achris dalam keterangan resminya Rabu (19/8).
Menguatnya keyakinan konsumen dinilai menjadi sinyal positif bagi prospek konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekonomi Bali ke depan. Kondisi tersebut menunjukkan semakin baiknya persepsi masyarakat terhadap perekonomian.
Penguatan keyakinan konsumen Bali juga ditopang oleh daya beli masyarakat yang tetap terjaga di tengah perkembangan harga yang kondusif.
Inflasi Bali pada Juli 2026 berada pada level rendah dan masih dalam rentang sasaran inflasi nasional. Kondisi tersebut didukung oleh terjaganya pasokan serta penurunan harga sejumlah komoditas pangan strategis.
Stabilitas harga tersebut turut memperkuat persepsi masyarakat terhadap kemampuan konsumsi dan prospek perekonomian Bali ke depan.
Bank Indonesia Provinsi Bali bersama pemerintah daerah akan terus memperkuat sinergi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED), Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.
Pengendalian inflasi dilakukan antara lain melalui operasi pasar, pemantauan harga komoditas strategis, serta penguatan kelancaran distribusi pangan untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia menetapkan BI-Rate sebesar 5,75 persen, suku bunga Deposit Facilitysebesar 4,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50 persen.
Sinergi kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga inflasi tetap rendah dan stabil sekaligus menciptakan fondasi yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan.(rls)

