Balinetizen.com, Denpasar
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali membidik Pulau Dewata sebagai target utama pengembangan transaksi pembayaran digital antarnegara atau QRIS Cross-Border. Hal ini didukung tingginya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) serta pesatnya adopsi QRIS di tingkat lokal.
​Kepala KPwBI Provinsi Bali, Achris Sarwani, mengungkapkan bahwa potensi transaksi QRIS Cross-Border di Bali sangat besar, terutama setelah adanya perluasan kerja sama pembayaran internasional.
​”Bali menjadi salah satu target utama untuk QRIS Cross-Border. Lonjakan transaksinya sangat tinggi karena ini masih terbilang baru dikenalkan, khususnya dengan hadirnya tambahan pemanduan sistem dari Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang, menyusul negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura,” ujar Achris, Sabtu (8/8).
​Hingga semester pertama (enam bulan pertama) tahun ini, total nilai transaksi QRIS Cross-Border di Bali telah menembus angka lebih dari Rp14 miliar hingga Rp15 miliar.
​Achris mencontohkan respons positif wisman saat sosialisasi di Desa Wisata Penglipuran. Turis asal Tiongkok antusias mengetahui bahwa aplikasi pembayaran lokal mereka, seperti Alipay, dapat langsung dipindai ke kode QRIS pedagang lokal tanpa perlu menukarkan uang ke Rupiah.
​Selain membidik wisman melalui QRIS Cross-Border, BI Bali juga terus memacu sosialisasi penggunaan QRIS bagi penduduk lokal ber-KTP Bali.
​Target Pengguna Lokal: BI Bali menetapkan target 1,4 juta pengguna baru tahun ini. Saat ini, realisasinya telah mendekati 90%.
​Potensi Jangka Panjang: Dengan total populasi Bali sekitar 4,5 juta jiwa, BI memproyeksikan target pengguna dapat ditingkatkan hingga 1,5 juta orang pada tahun mendatang.
​Tantangan Sosialisasi: Edukasi berkelanjutan masih diperlukan agar masyarakat lokal yang belum menggunakan QRIS dapat mengadopsinya secara menyeluruh dalam transaksi harian.
(Jurnalis : Tri Widiyanti)

