Balinetizen.com, Jembrana
Banjar kini tidak lagi hanya menjadi tempat urusan adat. Lewat inovasi Banjar Smart Hub, Banjar Warnasari Kelod, Desa Warnasari, Kecamatan Melaya kini dapat menjadi pusat pelayanan publik digital. Melalui satu aplikasi di smartphone, warga kini bisa dengan mudah mengurus administrasi, mengakses layanan publik, hingga melakukan transaksi keuangan harian.
Kemudahan ini, tidak lepas dari ide inovatif Kelian Banjar Warnasari Kelod, Desa Warnasari I Kadek Sri Rama Usmantara, dalam memberikan sentuhan digital dalam pengelolaan layanan ditingkat banjar. Inovasi teknologi ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan administrasi, layanan publik, hingga transaksi finansial harian warga hanya dalam satu genggaman smartphone.
Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan dalam sambutanya memberikan apresiasi kepada Kelihan Banjar Warnasari Kelod beserta seluruh tokoh dan masyarakat yang telah menggagas, mendukung dan mempersiapkan lahirnya inovasi Banjar Smart Hub (BSH).
“Saya meyakini Banjar Smart Hub bukan sekedar inovasi. Ini adalah simbol keberanian untuk berubah, simbol kreativitas masyarakat bahwa kemajuan dapat lahir dari banjar dan hari ini kita menyaksikan bahwa perubahan itu benar benar dimulai dari bawah dari masyarakat, oleh masyarakat dan untukasyarakat,” ucap Bupati Kembang saat meluncurkan Banjar Smart Hub di Balai Banjar Warnasari Kelod, Desa Warnasari, Jumat (29/5).
Kedepan Bupati Kembang menginginkan Inovasi Banjar Smart Hub Warnasari Kelod ini agar menjadi contoh, menjadi inspirasi diseluruh banjar dan lingkungan di Kabupaten Jembrana.
“Yang tadinya sampah jadi masalah, di tempat ini sampah jadi berkah. Di banyak tempat sampah jadi masalah, Maka dari itu saya ingin mengetuk Bapak Ibu sekalian, warga masyarakat, pimpinan-pimpinan di desa, pimpinan-pimpinan di Banjar, ayo! Mari kita tiru apa yang ada di Warnasari Kelod,” tegasnya.
Sementara Kelian Banjar Warnasari Kelod, I Kadek Sri Rama Usmantara, menjelaskan bahwa peluncuran aplikasi ini lahir dari evaluasi terhadap kendala nyata yang dihadapi masyarakatnya sehari-hari.
“Peluncuran Banjar Smart Hub ini berawal dari permasalahan masyarakat. Warga kami kebanyakan berprofesi sebagai buruh, tukang, dan juga petani. Selama ini, saat warga mengakses layanan, jaraknya jauh karena harus ke kota, sehingga terkendala jarak, biaya, dan waktu,” ungkap I Kadek Sri Rama Usmantara.
Selain masalah akses birokrasi, inovasi ini juga hadir untuk menanggulangi isu lingkungan. “Permasalahan sampah di banjar kami itu cukup tinggi. Walaupun Banjar kami berlokasi di pedesaan, sampah ini sudah menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Untuk itu kami berupaya menjadikan Banjar ini sebagai pusat layanan terpadu,” tambahnya.
Melalui Banjar Smart Hub, warga yang membawa sampah yang telah dipilah ke banjar dapat sekaligus mengakses layanan kependudukan hingga membayar pajak. Program ini menerapkan sistem insentif dan disinsentif agar pengelolaan sampah menjadi adil, mendidik, dan memberikan manfaat nyata.
Insentif bagi Warga yang Memilah Sampah: Warga akan mendapatkan akses ke berbagai fasilitas bernilai ekonomi, seperti tabungan emas, tabungan hari tua, pembayaran listrik, air, Samsat, tagihan lainnya, serta akses ke Jaminan Sosial Ketenagakerjaan. Disinsentif bagi yang Tidak Memilah Sampah: Warga yang tidak memilah sampahnya dari rumah akan dikenakan iuran residu.
“Lewat aplikasi Banjar Smart Hub ini, masyarakat kini bisa lebih sadar menjaga lingkungan sekaligus mendapatkan nilai ekonomi dari sampah yang dikelola dengan baik. Semuanya dirancang untuk memudahkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukan sekadar aplikasi, tapi solusi nyata untuk menjawab kebutuhan warga,” tegas Usmantara. (Prokopim Jembrana)

