Balinetizen.com, Denpasar
Media sosial belakangan ini diramaikan oleh sorotan warganet terkait gaya berbusana (outfit) mewah milik Bimanata, putra Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta seorang pejabat publik yang memicu perbincangan hangat mengenai fenomena flexing di kalangan pejabat.
Menanggapi hal tersebut, Wagub Giri Prasta yang ditemui usai rapat Paripurna menyatakan bahwa dirinya tidak mengikuti perkembangan informasi tersebut di media sosial.
”Enggak, enggak tahu. Tidak mengikuti,” ujarnya singkat saat dimintai keterangan oleh awak media, Selasa (14/7).
Disatu sisi, informasi terbaru yang didapat akun yang bersangkutan sudah hilang dan dikabarkan di-take down (diturunkan).
Selain isu flexing, perhatian media juga tertuju pada aksi sang Wakil Gubernur yang kerap membagikan uang kepada masyarakat dan penari dalam beberapa kesempatan. Mengingat situasi yang mulai mendekati atmosfer tahun politik, tindakan ini juga menuai reaksi publik mengenai potensi pelanggaran aturan gratifikasi.
Menjawab kekhawatiran tersebut, ia memberikan penjelasan runtut mengenai perbedaan aturan hibah dan aksi personal yang dilakukannya. Menurutnya, jika berbicara mengenai mekanisme formal atau hibah instansi, aturan undang-undang memang sudah mengatur ketat prosedurnya, baik dalam bentuk barang maupun uang. Namun, aksi bagi-bagi uang yang ia lakukan murni menggunakan dana pribadi sebagai bentuk motivasi atau punia.
”Punia itu adalah uang pribadi. Kalau kita di umat Muslim kan bersedekah. Nah, ketika kita memiliki gaji, mungkin hanya 3 juta atau 5 juta kita berikan kepada masyarakat, saya kira itu wajar sekali. Kalau emang ada uang. Kalau emang enggak ada, ya mohon maaf,” jelasnya.
Ia juga menegaskan batas tegas bahwa tindakan tersebut menjadi terlarang apabila dana yang digunakan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Ketika awak media menyebut aksi spontan tersebut sudah menjadi ciri khas atau “gaya” kepemimpinannya, ia berseloroh merasa sedang “divonis” oleh media, meski ia mengakui hal itu terjadi karena kebetulan ada rezeki lebih. Bagi dirinya, berbagi adalah implementasi nyata dari prinsip hidup dan ajaran keagamaan yang diyakininya.
”Saya punya prinsip, kekuatan kita adalah ketika kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Itu boleh dikatakan kalau di Bali namanya yadnya. Yadnya yang tertinggi adalah ketika kita bermanfaat bagi orang lain,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa konsep yadnya atau pengorbanan suci ini memiliki banyak bentuk. Memberikan nasihat atau wejangan yang baik sudah termasuk yadnya. Begitu pula memberikan bantuan fasilitas, seperti meminjamkan kendaraan pribadi untuk warga yang harus segera ke rumah sakit agar mereka tidak perlu menyewa. Namun bagi dirinya, puncaknya adalah ketika bantuan tersebut dilengkapi dengan kerelaan berbagi rezeki secara langsung dari kantong sendiri.
Di akhir sesi wawancara, ia kembali menepis anggapan bahwa aksi sosialnya ini ditunggangi oleh kepentingan politik praktis menjelang pemilu, dan menyatakan sama sekali tidak mempermasalahkan penilaian-penilaian miring tersebut.
(Jurnalis : Tri Widiyanti)

