Balinetizen.com, Denpasar –
Merayakan Raina Kuningan, pada Saat Umat Hindu Bali dalam Posisi “Kalah”: Alam Rusak Parah, Sistem Subak Terpinggirkan, Taksu Budaya yang Memudar. Merayakan Kuningan, Merayakan “Kekalahan”?
Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, intelektual, penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali, Jumat 28 Nopember 2025.
Dikatakan, perayaan Raina Kuningan bermakna filosofi kemenangan, kemenangan melawan musuh di dalam diri kemudian terekpresikan sebagai sosok pemenang (the winner) dalam kehidupan. Realitas personalnya tidak seperti ini, sebagian masyarakat adalah “pecundang” – the losser- tidak mampu mengendalikan musuh dalam diri, menjadi budak keinginan dan bahkan keserakahan.
Menurut Jro Gde Sudibya, dalam realitas sosial, alam Bali “benyah latig”, nyaris tidak mampu dipulihkan, sistem Subak yang melegenda antara ada dan tidak ada dalam proses keterpinggiran masyarakat petani.
“Timbul pertanyaan reflektif, tanpa Sistem Subak dan bentangan sawahnya apakah budaya Bali otentik akan mampu bertahan dengan keunikan dan keunggulannya,” tanya Jro Gde Sudibya.
Dikatakan, penggerusan budaya otentik berlangsung deras, semakin kehilangan elan vitalitas sikap jengah, proses karya bermutu yang “metaksu”, tidak sekadar komoditas yang diperjualbelikan tanpa kebanggaan dan harga diri.
“Hidup ini sekadar menjadi “parekan”, peminta-minta “nekor” kepada penguasa sumber daya: penguasa-pengusaha,” kata Jro Gde.
Menurutnya, biaya budaya (cultural cost) menjadi sangat mahal, anomali kehidupan yang berpangkal dari anomali kepemimpinan. Kehidupan sosial tanpa rujukan nilai, “tilar ring sesana”, hanya terdiri dari para kerumunan “suryak siu”, sekadar “milu-milu tuung” , nyaris tanpa kecerdasan apalagi sikap bijak dalam kehidupan.
Menurut Jro Gde Sudibya, mawas diri, introspeksi diri, perenungan, “mulat sarira”, proses menuju “Jagra” sadar diri yang menjadi ciri dari orang Bali terhormat di masa lalu, sekarang nyaris sirna, berganti dengan sikap pragmatis jangka pendek, yang penting “menang” dan “kebagian” dan bila perlu dicarikan nalar pembenaran terhadap prilaku lancung tsb.
Dikatakan, dalam realitas personal dan sosial di atas umat Hindu di Bali merayakan Kuningan.
“Barangkali sebuah ironi, orang-orang yang kalah kok merayakan hari kemenangan?,” katanya.
Menurut Jro Gde Sudibya, jangan-jangan ini prilaku yang rada “nyaplir”, atau sekadar perayaan dangkal dari tradisi agama sosial?
Jurnalis Nyoman Sutiawan

