Jurnalis Diminta Edukatif, Bukan Sensasional, dalam Isu HIV/AIDS dan Narkoba

0
186

 

Balinetizen.com, Denpasar

Jurnalis media dinilai memiliki peran strategis dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS serta penyalahgunaan narkoba, khususnya di kalangan remaja.

Hal ini disampaikan Anggota Kelompok Kerja Pembangunan Provinsi Bali bidang Perempuan dan Anak, Dr. I Gusti Ayu Diah Werdhi Srikandi W.S, SE, MM, dalam pertemuan dengan Kelompok Jurnalis Peduli AIDS (KJPA) di Kantor Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali, Selasa (19/8/2025).
Menurut Diah Werdhi, remaja merupakan kelompok usia yang paling rentan terhadap penyalahgunaan narkoba dan penularan HIV/AIDS karena mudah terpapar informasi keliru serta pergaulan berisiko. Di sinilah media dan jurnalis berperan penting sebagai agen perubahan.

“Namun tantangannya, masih banyak pemberitaan soal HIV/AIDS dan narkoba yang sensasional, minim edukasi berbasis data, dan bahkan menimbulkan stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) maupun pengguna narkoba,” ujarnya.

Empat Peran Strategis Jurnalis

Diah Werdhi menegaskan ada empat peran utama jurnalis dalam isu HIV/AIDS dan narkoba, yaitu:

1. Menyajikan informasi akurat dan terverifikasi berdasarkan data medis maupun ilmiah.

2. Menjadi edukator publik dengan framing positif, misalnya menghindari pemberitaan yang menyudutkan ODHA atau remaja korban narkoba.

3. Memberi ruang bagi suara penyintas, seperti kisah remaja hidup dengan HIV atau mantan pengguna narkoba.

4. Menjadi agen kampanye dan advokasi dengan mendukung program pemerintah maupun NGO, termasuk promosi layanan tes HIV, rehabilitasi narkoba, hingga hotline remaja.

Dalam liputan, jurnalis juga diingatkan memegang teguh etika. Antara lain melindungi identitas korban dan anak di bawah umur, menghindari istilah diskriminatif seperti “pecandu” atau “aib”, serta menggunakan bahasa yang inklusif dan ramah remaja.

Meski peran jurnalis sangat besar, tantangan yang dihadapi juga tidak ringan. Tekanan industri media untuk menciptakan konten viral, minimnya pelatihan khusus terkait HIV/AIDS dan narkoba, serta keterbatasan akses data menjadi hambatan utama.

Baca Juga :  Paguyuban Social Project Bali Gandeng Berbagai Komunitas Gelar  Aksi Donor Darah

Karena itu, strategi komunikasi yang tepat sangat dibutuhkan untuk menjangkau remaja. Antara lain dengan menggunakan bahasa ringan, visual yang menarik, memanfaatkan platform populer seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, serta berkolaborasi dengan sekolah, komunitas remaja, maupun influencer muda.

Sebagai tindak lanjut, Diah merekomendasikan pelatihan berkala untuk jurnalis, penerbitan panduan liputan ramah HIV/AIDS dan narkoba, serta penyelenggaraan kompetisi penulisan bertema remaja sehat bebas narkoba dan HIV.

“Jurnalis bukan sekadar pencatat peristiwa, tetapi agen perubahan. Edukasi yang benar hari ini adalah investasi untuk generasi sehat dan produktif,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Sekretariat KPA Provinsi Bali, A.A. Ngurah Patria Nugraha, menambahkan bahwa masih banyak tantangan di lapangan, terutama stigma masyarakat.
Ia mencontohkan, masih ada pasien yang enggan jujur kepada tenaga medis karena takut mendapat diskriminasi. Padahal keterbukaan sangat penting agar penanganan medis bisa tepat.

“Di luar negeri penggunaan kondom atau tes HIV adalah hal yang biasa. Tapi di masyarakat kita, masih dianggap tabu. Edukasi publik harus terus dilakukan agar masyarakat tidak lagi malu dan salah paham,” jelasnya.

Menurutnya, masyarakat juga perlu memahami cara penularan HIV yang sebenarnya agar tidak menimbulkan ketakutan berlebihan, termasuk dalam kasus pasien meninggal.

“Yang penting ada proteksi, seperti sarung tangan. Jadi keluarga pun bisa tetap tenang,” ujarnya.

(Jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here