KAJIAN AKUNTANSI GLOBAL,  Fintech Sebagai Pilar Keuangan Masyarakat China

0
27

 

Oleh. Luh Gede Kusuma Dewi

Mahasiswa Program Doktor Ilmu Akuntansi Universitas Pendidikan Ganesha

 

Perkembangan digitalisasi sektor keuangan (yang sering disebut dengan istilah Fintech atau Internet Finance) di China mulai berkembang secara sangat pesat sejak tahun 2013. Meskipun fondasinya sudah diletakkan sejak tahun 2004 ketika Alipay pertama kali meluncur, tahun 2013 diakui secara luas oleh para ekonom sebagai “Tahun Pertama Keuangan Internet” (The First Year of Internet Finance) di China karena pada tahun inilah terjadi ledakan adopsi massal. Ada beberapa momentum krusial yang membuat digitalisasi keuangan di China langsung melesat tajam pada periode tersebut.

Awal tahun 2010-an, Bank Sentral China (PBoC) sengaja memberikan ruang bagi perusahaan teknologi untuk berinovasi tanpa dikekang aturan yang ketat terlebih dahulu. Pendekatan “izinkan tumbuh dulu, baru diatur” ini membuat iklim inovasi berjalan sangat cepat. Peluncuran Yu’ebao di tahun 2013 adalah titik balik terbesar. Alibaba meluncurkan Yu’ebao, sebuah produk reksadana pasar uang yang terintegrasi langsung dengan saldo Alipay. Pengguna bisa menyimpan uang receh mereka di sana dan mendapatkan bunga yang jauh lebih tinggi daripada bank tradisional, namun tetap bisa dibelanjakan kapan saja. Dalam waktu singkat, Yu’ebao menjadi salah satu dana pasar uang terbesar di dunia. Pada tahun 2014 Tencent meluncurkan fitur pembayaran di aplikasi pesan WeChat dan memperkenalkan “Angpao Digital” (Red Packet) saat Imlek 2014. Fitur ini menjadi viral secara masif dan berhasil memaksa ratusan juta orang untuk menghubungkan kartu bank mereka ke WeChat. Sejak saat itu, duopoli Alipay dan WeChat Pay resmi menguasai pasar. Dalam rentang tahun 2017 hingga 2020, Pemerintah China mulai memperketat aturan demi stabilitas makro. Ribuan platform P2P lending ilegal ditutup dan monopoli perusahaan teknologi raksasa mulai diawasi ketat. Sejak tahun 2021 hingga saat ini China menjadi pionir global dalam mata uang digital bank sentral (CBDC) dengan menguji coba dan mengintegrasikan e-CNY secara luas ke dalam sistem ekonomi harian masyarakat.

Selama perkembangan Fintech di China, mayoritas masyarakat China saat itu belum tersentuh oleh kartu kredit atau layanan bank tradisional (underbanked). Begitu era smartphone murah dan internet seluler masuk, mereka langsung melompat dari transaksi tunai konvensional ke pembayaran digital via QR Code, tanpa pernah melewati fase kejayaan kartu kredit seperti di negara-negara Barat. Hal ini merupakan fenomena unik yang bisa disebut sebagai sebuah anomali dalam dunia keuangan. Keberhasilan China menciptakan ekosistem ini melahirkan tren Super Apps. Hanya dengan satu aplikasi (seperti WeChat atau Alipay), seorang warga di China bisa mengobrol, memesan makanan, membayar taksi, membayar tagihan listrik, hingga mengajukan pinjaman dan berinvestasi secara instan.

Penulis telah merangkum 10 artikel ilmiah dari jurnal internasional bereputasi dengan topik utama yang dibahas adalah hubungan antara keuangan digital (digital finance), kecerdasan buatan (AI), dan kesejahteraan ekonomi rumah tangga, dengan fokus khusus pada wilayah pedesaan di China. Berikut adalah rincian topik-topik spesifik yang sedang dibahas:

  1. Dampak Keuangan Digital terhadap Rumah Tangga Pedesaan
Baca Juga :  Bupati Tabanan Terima Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dari BPK RI

Sebagian besar sumber mengeksplorasi bagaimana keuangan digital inklusif (DIF) mengubah dinamika ekonomi di pedesaan:

  1. Peningkatan Konsumsi: Keuangan digital secara signifikan meningkatkan tingkat konsumsi penduduk pedesaan melalui kemudahan pembayaran, akses kredit, dan peningkatan pendapatan disposabel. Namun, beban utang rumah tangga yang berlebihan dapat menghambat potensi pertumbuhan konsumsi ini.
  2. Ketahanan terhadap Risiko: Pengembangan keuangan digital memperkuat kemampuan rumah tangga pedesaan untuk bertahan dari guncangan ekonomi atau “ketahanan risiko”. Hal ini juga berkaitan erat dengan pembangunan “desa digital” yang meningkatkan kemampuan adaptasi mata pencaharian petani.
  3. Investasi Pendidikan: Layanan keuangan digital mendorong rumah tangga untuk mengalokasikan lebih banyak sumber daya pada pendidikan, terutama dengan mempersempit kesenjangan pendapatan antara perkotaan dan pedesaan.
  4. Diversifikasi Portofolio: Teknologi digital membantu rumah tangga mengelola aset mereka dengan lebih rasional dan beragam melalui peningkatan literasi keuangan dan pengurangan kendala likuiditas.
  1. Kecerdasan Buatan (AI) dalam Sektor Keuangan

Sumber-sumber tersebut juga menyoroti peran AI sebagai alat transformatif dalam teori dan praktik keuangan:

  1. AI Generatif (seperti ChatGPT): Pembahasan mencakup bagaimana model bahasa besar (LLM) digunakan untuk riset keuangan, pengambilan keputusan investasi, dan sebagai alat bantu pengelolaan keuangan pribadi sehari-hari.
  2. Explainable AI (XAI): Terdapat fokus besar pada pentingnya transparansi dalam AI. Mengingat banyak model AI berfungsi sebagai “kotak hitam” yang buram, XAI dikembangkan untuk memberikan penjelasan yang dapat dipahami manusia dalam tugas berisiko tinggi seperti penilaian kredit (credit scoring) dan manajemen risiko.
  1. Faktor Pengaruh dan Mekanisme Transmisi

Sumber-sumber ini menjelaskan mekanisme di balik dampak keuangan digital:

  1. Pendorong Kewirausahaan: Keuangan digital mendorong terciptanya usaha mikro dan kecil di pedesaan dengan menyediakan modal awal dan menurunkan biaya informasi.
  2. Kondisi Geografis: Lokasi fisik dan bentuk medan (relief tanah) memengaruhi tingkat adopsi layanan keuangan digital, di mana daerah dengan kerumitan geografis menengah cenderung memiliki tingkat adopsi yang lebih tinggi dibandingkan daerah yang terlalu ekstrem.
  3. Literasi Keuangan dan Pendidikan: Tingkat pendidikan anggota keluarga memperkuat dampak positif keuangan digital terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga.

 

Secara keseluruhan, tulisan-tulisan ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana inovasi teknologi keuangan berfungsi sebagai pilar penting untuk mendukung revitalisasi pedesaan, kemakmuran bersama, dan modernisasi sistem keuangan yang lebih inklusif serta transparan. Di China, inovasi teknologi keuangan (keuangan digital) berfungsi sebagai pilar penting untuk mendukung revitalisasi pedesaan dan kemakmuran bersama karena kemampuannya mengatasi hambatan struktural yang sebelumnya tidak terjangkau oleh sistem keuangan tradisional. Berikut adalah alasan-alasan utama mengapa hal tersebut menjadi pilar penting menurut sumber-sumber tersebut:

 

  1. Mengatasi Eksklusi Keuangan dan Kendala Geografis

Dalam sistem keuangan tradisional yang didominasi bank, akses layanan sering kali bergantung pada kedekatan fisik dengan cabang bank, yang sangat jarang ditemukan di wilayah pedesaan atau pegunungan yang terpencil. Keuangan digital menggunakan internet, data besar, dan kecerdasan buatan untuk melampaui batasan ruang dan waktu, sehingga penduduk desa dapat mengakses layanan keuangan melalui perangkat seluler tanpa harus ke kota. Teknologi ini secara efektif mengurangi biaya transaksi dan biaya transportasi yang biasanya menjadi penghambat bagi masyarakat berpendapatan rendah.

  1. Mendorong Kewirausahaan dan Investasi di Pedesaan
Baca Juga :  Pusat Serahkan Penghargaan TPID Berprestasi Tahun 2020 Untuk Badung, Diharapkan Prestasi Ini Ditularkan ke Daerah Lain

Inovasi keuangan digital menyediakan jalur pendanaan baru bagi rumah tangga pedesaan untuk memulai usaha mikro atau kecil melalui platform pinjaman daring.

  1. Akses Modal: Algoritma digital dapat menggantikan agunan fisik tradisional dengan menggunakan data transaksi sebagai dasar penilaian kredit, sehingga petani tanpa riwayat kredit tetap bisa mendapatkan pinjaman untuk modal awal usaha.
  2. Diversifikasi Pendapatan: Dengan dukungan dana ini, rumah tangga pedesaan dapat beralih dari sekadar pertanian tradisional ke sektor non-pertanian seperti e-commerce, pariwisata pedesaan, atau retail spesialis, yang pada akhirnya meningkatkan kemandirian ekonomi mereka.
  3. Investasi Aset: Keuangan digital juga memfasilitasi investasi pada aset tetap (seperti alat produksi atau perbaikan rumah) yang memperkuat fondasi ekonomi rumah tangga.
  1. Memperkuat Ketahanan Risiko dan Kesejahteraan

Revitalisasi pedesaan sangat bergantung pada kemampuan masyarakat untuk bertahan dari guncangan ekonomi. Keuangan digital meningkatkan “ketahanan risiko” dengan memberikan akses cepat ke dana darurat atau asuransi digital saat terjadi bencana alam atau masalah kesehatan. Selain itu, kemudahan pembayaran digital melepaskan potensi konsumsi rumah tangga pedesaan, yang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi lokal yang lebih stabil.

  1. Mendukung Kemakmuran Bersama melalui Investasi Pendidikan

Salah satu pilar kemakmuran bersama adalah mobilitas sosial antargenerasi. Keuangan digital terbukti secara signifikan mendorong rumah tangga untuk berinvestasi lebih besar dalam pendidikan anak-anak mereka. Hal ini terjadi melalui dua mekanisme:

  1. Pelonggaran Likuiditas: Layanan cicilan pendidikan dan pembayaran sekolah secara instan membantu rumah tangga mengelola biaya sekolah yang besar.
  2. Pemerataan Pendapatan: Dengan mempersempit kesenjangan pendapatan antara perkotaan dan pedesaan, keluarga di desa memiliki lebih banyak sumber daya yang dapat dialokasikan untuk pengembangan modal manusia (pendidikan), yang krusial untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
  1. Efek Transformasi Digital Desa

Pembangunan “desa digital” dan integrasi teknologi keuangan menciptakan ekosistem di mana aliran informasi menjadi lebih transparan. Hal ini membantu petani membuat keputusan produksi yang lebih cerdas berdasarkan data pasar terbaru (seperti harga dan prakiraan cuaca), yang pada akhirnya meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya di wilayah pedesaan. Secara keseluruhan, inovasi ini berfungsi sebagai alat inklusi yang memberdayakan masyarakat pedesaan untuk berpartisipasi lebih aktif dalam ekonomi modern, sekaligus secara sistematis mengurangi ketimpangan regional di China.

 

Topik-topik ini sangat relevan untuk dikaji di negara lain, termasuk Indonesia, mengingat kemiripan karakteristik ekonomi digital dan tantangan inklusi keuangan di wilayah pedesaan. Berikut adalah rincian celah penelitian dan peluang pengkajiannya di Indonesia:

  1. Celah Penelitian dari Sumber-Sumber Tersebut
  1. Keterbatasan Data Jangka Panjang dan Skala Global: Banyak penelitian saat ini masih terfokus pada data satu negara (terutama China) dan rentang waktu yang terbatas (misalnya hingga 2019). Peneliti menyarankan penggunaan kumpulan data multi-periode yang lebih baru untuk menangkap dampak jangka panjang, terutama setelah pandemi COVID-19.
  2. Analisis Kedalaman Perilaku dan Motivasi: Pada studi penggunaan AI generatif, penelitian masih bersifat deskriptif dan menggunakan ukuran biner (ya/tidak). Terdapat celah untuk meneliti frekuensi penggunaan, durasi, dan motivasi psikologis pengguna dalam mengadopsi AI untuk keuangan pribadi.
  3. Integrasi Teoritis dan Standarisasi AI: Dalam bidang AI Keuangan dan Explainable AI (XAI), masih ada kekurangan kerangka kerja terpadu yang menggabungkan teori keuangan tradisional (seperti CAPM atau behavioral finance) dengan model AI. Selain itu, belum ada metrik evaluasi standar untuk menilai transparansi dan kepercayaan pada sistem keuangan berbasis AI.
  4. Dimensi Layanan Digital yang Belum Lengkap: Sebagian besar studi berfokus pada pembayaran digital dan kredit mikro. Terdapat celah besar untuk meneliti dampak asuransi digital (insurtech) dan investasi digital terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga.
  5. Pengaruh Geografis dan Infrastruktur secara Dinamis: Meskipun ada studi tentang pengaruh relief tanah, masih sedikit penelitian yang menganalisis bagaimana sinergi kebijakan digitalisasi pedesaan dan layanan keuangan bekerja secara dinamis di berbagai dimensi temporal dan spasial.
Baca Juga :  Wawali Arya Wibawa Hadiri Parade Ogoh-ogoh Sanur Metangi

 

  1. Apakah Bisa Dikaji di Indonesia?

Indonesia memiliki karakteristik yang sangat mirip dengan China dalam konteks “Revitalisasi Pedesaan” dan “Ekonomi Digital”. Berikut adalah alasan mengapa topik ini relevan bagi Indonesia:

  1. Kondisi Geografis yang Kompleks: Seperti penelitian tentang pengaruh relief tanah di China, Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan banyak wilayah pegunungan dapat menjadi laboratorium penelitian yang menarik untuk melihat bagaimana tantangan geografis memengaruhi adopsi fintech dan pembangunan “Desa Digital”.
  2. Ketimpangan Regional dan Inklusi: Fokus sumber-sumber tersebut pada memitigasi kesenjangan pendapatan perkotaan-pedesaan melalui keuangan digital sangat relevan dengan agenda pemerintah Indonesia dalam mendorong inklusi keuangan bagi UMKM dan petani di pelosok.
  3. Pertumbuhan Pengguna AI: Seperti studi di Korea Selatan, perilaku masyarakat Indonesia dalam menggunakan AI generatif (seperti ChatGPT) sebagai tutor keuangan atau alat bantu keputusan investasi adalah area penelitian yang segar, terutama mengingat beragamnya tingkat literasi keuangan di Indonesia.
  4. Ketahanan Livelihood Petani: Penelitian tentang bagaimana keuangan digital meningkatkan “risk resistance” (ketahanan risiko) rumah tangga pedesaan menghadapi guncangan ekonomi atau bencana alam dapat langsung diaplikasikan pada konteks petani dan nelayan di Indonesia yang sering terpapar risiko iklim.

 

Peluang Penelitian Spesifik untuk Konteks Indonesia:

  1. Analisis Komparatif: Membandingkan dampak keuangan digital di pulau yang infrastrukturnya maju (Jawa) dengan wilayah terluar (3T).
  2. Dampak “Digital Village” Indonesia: Mengevaluasi efektivitas program Desa Digital terhadap pendapatan asli desa dan ketahanan ekonomi warga.
  3. XAI dan Regulasi Lokal: Meneliti bagaimana transparansi algoritma credit scoring pada fintech lending di Indonesia dapat memenuhi ekspektasi regulasi OJK dan meningkatkan kepercayaan konsumen.

 

Kemajuan teknologi China sangat bisa terjadi di Indonesia, tetapi hasilnya tidak akan menjadi salinan identik. Jika China mengandalkan kontrol negara yang kuat dan konglomerasi teknologi raksasa untuk mendorong digitalisasi pedesaan, Indonesia bergerak melalui kolaborasi multipihak: sinergi antara bank-bank BUMN (seperti integrasi BRI dengan Pegadaian dan PNM dalam Holding Ultra Mikro), regulasi BI/OJK, serta penetrasi perusahaan fintech swasta. Pedesaan di Indonesia secara bertahap mulai merasakan dampak keuangan digital ini melalui digitalisasi UMKM, penyaluran bantuan sosial nontunai, dan akses pendanaan produktif.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here