Balinetizen.com, JembranaÂ
Kasus positif rabies kembali ditemukan di Kabupaten Jembrana. Teranyar, kasus anjing positif rabies ditemukan di Desa Baluk Kecamatan Negara pada awal Juni 2024.
Data pada Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, di tahun 2024 ini sedikitnya ada 11 desa/kelurahan yang masuk zona merah rabies. Jumlah tersebut tersebar di empat kecamatan dari lima kecamatan yang ada di Jembrana, kecuali Kecamatan Pekutatan. Sementara kasus positif rabies terbanyak tercatat di Kecamatan Mendoyo dengan 9 kasus.
“Hanya di Kecamatan Pekutatan saja yang nihil kasus. Sampai sekarang memang belum ditemukan kasus (positif rabies),” terang Kabid Keswan-Kesmavet, Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Wayan Widarsa.
Menurutnya awal Juni 2024 ini ditemukan satu kasus di Desa Baluk. Sehingga total pada periode Januari sampai awal Juni 2024 ditemukan 21 kasus positif rabies.
Selain itu, sejumlah wilayah di Jembrana masuk dalam katagori kawasan zona merah rabies karena ditemukan kasus positif rabies. Dan wilayah terbanyak tercatat ada di Kecamatan Negara
“Awal Juni ini ada satu kasus baru. Total periode Januari sampai Juni ini ada 21 kasus positif rabies,” sebutnya.
Menurutnya kasus positif rabies terbanyak terjadi di Kecamatan Mendoyo dengan 9 kasus. Namun jika berdasarkan wilayah, terbanyak terjadi di wilayah Kecamatan Negara.
Dengan adanya temuan kasus terbaru itu, pihaknya telah melakukan beberapa upaya untuk penanganan diantaranya melakukan vaksinasi emergency dan massal hingga sterilisasi.
Vaksinasi emergency, kata dia, dilakukan di wilayah ditemukan kasus baru. Kemudian untuk vaksinasi massal dilaksanakan pada wilayah yang masuk zona merah atau yang sebelumnya ditemukan kasus positif.
Setelah zona merah selesai, vaksinasi rabies akan dilanjutkan ke wilayah zona kuning atau penyanding zona merah dengan menyasar HPR (Hewan Penular Rabies). Dan Terakhir dilakukan vaksinasi massal di zona hijau untuk membentuk kekebalan kelompok.
“Dalam penanganan rabies Kita juga bersinergi dengan sebuah yayasan untuk melakukan sterilisasi. Ini sebagai upaya untuk mengontrol populasi HPR yang kian hari semakin bertambah,” pungkasnya. (Komang Tole)

