Balinetizen.com, Bandung
Kepemimpinan Kang Dedi Mulyadi (KDM) yang berbasis nilai kultural masyarakatnya, spirit kepemimpinan lokal yang menyejarah, penghormatan, respek pada alam, melalui langkah dan tindakan nyata untuk penyelamatan alam dan lingkungannya.
“Tidak mengenal kata kompromi untuk penyelamatan lingkungan dari tindakan tercela, berupa prilaku: komersialisasi dan “pat gulipat” kekuasaan,” kata Jro Gde Sudibya, pengamat kebijakan publik dan kebudayaan, Senin 5 Mei 2025 menanggapi fenomena kepemimpinan KDM di Jawa Barat.
Dikatakan, pemimpin yang berempati pada rakyat, terlebih-lebih ke kelompok masyarakat pinggiran yang selama ini nyaris terabaikan, menyediakan waktu 24 jaman dalam satu hari dalam mengemban tugas kepemimpinan.
Menurutnya, menggunakan gaya kepemimpinan yang dalam tradisi kepemimpinan di Jepang disebut “Genchi Genbutsu”, berada di lapangan, melihat inti persoalan di lapangan dengan mata kepala sendiri, dan kemudian memutuskan solusinya di tempat.
Dikatakan cerdas, tajam, mengetahui inti persoalan dalam kebijakan anggaran yang pro rakyat, dalam semua kasus yang ditemukan di lapangan yang berhubungan pembenahan sistematik serius terhadap karut marut dalam pembenahan infrastruktur jalan di Jawa Barat.
“Rela berkorban terhadap privilege yang dimiliki Gubernur seperti: pemotongan anggaran pakaian dinas 100 persen, biaya perjalanan Gubernur sekitar 90 persen, yang merupakan penggambaran empatinya pada rakyat, di samping jabatan adalah amanah, bukan “aji mumpung” untuk berbuat yang bukan- bukan,” kata Jro Gde Sudibya.
Menurutnya, berani menghadapi teror dan ancaman, melalui sikap tenang, dengan tetap fokus pada prioritas tugas -ambreg parama artha-.
“Kecerdasan dalam komunikasi sosial, dengan seluruh lapisan masyarakat, terutama lapisan di akar rumput, untuk disadarkan, dididik dan dimotivasi dalam kerasnya kehidupan, dengan implisit pesan Gubernur, pemimpin bersama dengan mereka,” kata Jro Gde Sudibya, pengamat kebijakan publik dan kebudayaan.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

