Kebakaran Hutan di Taman Nasional Semeru – Bromo, Kajian Sejarah Spiritualitas Kekuasaan Bumi Nusantara

0
54

 

Balinetizen.com, Denpasar

Prediksi BMKG, bulan-bulan ini dan ke depan Elnino dengan intensitas tinggi akan berlangsung di Bumi Nusantara, puncaknya diperkirakan Oktober 2026 – Desember 2026, diperkirakan terus berlanjut tiga bulan pertama tahun 2027.

“Faktanya dalam satu bulan terakhir, suhu panas telah membakar hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan dengan skala massif, telah meng”ekspor” asap ke negara tetangga Malaysia dan Singapura,” kata Jro Gde Sudibya, intelektual Bumi Nusantara, pengamat kecenderungan masa depan Sabtu 22 Agustus 2026.

Dari laporan media arus utama, titik-titik api terus membesar mengikuti pola kebakaran dan pembakaran hutan di masa lalu, pembakaran untuk penyiapan lahan sawit yang beberapa tahun lalu pernah mencapai 2,3 juta ha dalam satu tahun.

Pembakaran terus berlangsung, penegakan aturan hukum lingkungan yang lemah, sehingga tidak memberikan dampak jera bagi korporasi yang melakukan pembakaran hutan untuk penyiapan lahan industri sawit.

Menurut Jro Gde Sudibya, dalam perspektif sejarah kekuasaan di Bumi Nusantara, berita kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Semeru – Bromo pantas untuk disimak, dan kemudian berefleksi terhadap tanda-tanda, sasmita alam ini.

” Taman Nasional Semeru – Bromo, Padang datar nan luas yang menghubungkan Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Dalam tradisi tua Bumi Nusantara yang dipengaruhi Agama Hindu, Gunung Bromo diyakini sebagai Lingha Tuhan Brahma, Gunung Semeru sebagai Lingha Tuhan Wisnu,” kata Jro Gde Sudibya.

Dikatakan, gabungan di antara keduanya AIR dan API pada tingkat yang ideal dan optimal, melahirkan suasana lingkungan Alam yang “metaksu”, ketenangan, kebeningan dan kedamaian, sehingga banyak penempuh jalan rokhani “jatuh hati” dengan bentang Taman Nasional Semeru – Bromo.

Baca Juga :  Gubernur Koster Harapkan Dukungan Wujudkan Pusat Kebudayaan Bali

Menurut Jro Gde Sudibya, kebakaran dashyat hutan di Kawasan Bromo, sasmitanya, kekuatan Tuhan Brahma menghabisi kawasan ini yang semestinya memberikan vibrasi ketenangan.

Dikatakan, dalam perspektif hubungan mikro – makro kosmos, Bhuwana Agung – Bhuwana Alit, Manugangling Kawulo lan Gusti (dalam filsafat tua budaya Jawa), kebakaran ini bisa merupakan sasmita, tanda dari “kebakaran” diri banyak manusia karena keserakahan pikirannya, gabungan dari “kebakaran” diri pada jutaan manusia membawa dampak menjalar (contagation effect) bagi kebakaran hutan dan lahan.

“Hutan dan Tanah terbakar karena keserakahan manusia. Dalam ungkapan bahasa Bali, “pertiwi, wana geseng olih kemomoan sang manusa”,” katanya.

Menurut Jro Gde Sudibya, kebakaran hutan dashyat yang menyambungkan Gunung Semeru – Gunung Bromo, relasi spiritual Tuhan Wisnu – Tuhan Brahma, dalam perspektif sejarah kekuasaan Bumi Nusantara, perlu diantisipasi dan diwaspadai akan kebakaran hutan, lahan dan kawasan pemukiman yang semakin dashyat di Bumi Nusantara dan kemudian diikuti dengan “goro-goro” pergantian kekuasaan.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here