Balinetizen.com, Jembrana
Banjir bandang Sungai Bilukpoh di Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali menyisakan material lumpur dan kayu gelondongan.
Tumpukan kayu gelondongan dengan ukuran besar nampak memenuhi halaman rumah warga korban banjir disisi selatan dan barat Jembatan Bilukpoh.
Keberadaan kayu menjadi perhatian. Dan dari informasi sempat dipotong-potong oknum warga. Namun aktivitas tersebut kemudian dihentikan petugas.
Korban banjir ingin supaya kayu gelondongan sisa material banjir bandang Sungai Bilukpoh itu diberikan kepada mereka. Namun keinginan tersebut belum disampaikan karena warga tidak tahu harus melapor kemana.
“Keinginan saya, kayu-kayu itu buat kami yang terkena musibah. Ini baru ide, juga kalau dibolehkan” ujar I Gusti Komang Putra (47), salah seorang korban banjir bandang ditemui di posko pengungsian di Balai Tempek 5 Kertasari, Rabu (20/10/2022).
Jika dibolehkan sambungnya, kayu-kayu tersebut akan dijual dan hasil dari penjualan akan dibagikan kepada warga korban banjir bandang lainnya. “Kalau boleh nanti saya jual ke pengepul, berapa berani. Uangnya kita bagi sama yang lainnya” ujarnya.
Menurutnya, Selasa kemarin kayu yang menumpuk di selatan Jembatan Bikukpoh sempat dipotong-potong dengan menggunakan gergaji mesin. Namun setelah ditegur dan di foto serta ditanyakan siapa yang bertanggungjawab, akhirnya yang motong kayu pergi. “Dulu banjir tahun 2018 juga begitu. Kayunya diambil, sampahnya dibiarkan. Jadi yang dapat sampah saya. Jangan kayunya tok diambil, sampahnya juga diangkut” jelasnya.
Banjir bandang Sungai Bilukpoh tahun 2022 ini disebutnya yang ketiga kalinya. Banjir bandang pertama terjadi tahun 1998 tetapi kecil. Kemudian yang kedua tahun 2018 membuat pondasi rumahnya rata dengan halaman karena halaman rumahnya dipenuhi lumpur.
Dan banjir bandang ketiga (2022) lanjutnya, hanya atap rumahnya saja yang kelihatan. “Rumah saya masih berdiri, tapi yang kelihatan atapnya saja. Rumah saya ditutup kayu sama lumpur.” terang Putra mantan sopir truk material.
Selain rumahnya, banjir juga menghancurkan Merajan tempat sembahyang yang baru ia bangun menghabiskan dana Rp.150 juta dari hasil meminjam Bank. “Sertifikat rumah, saya sekolahkan (sebagai jaminan). Dapat uang Rp 150 juta, sekarang hancur” imbuhnya.
Banjir bandang kata dia, hanya menyisakan celana pendek yang ia pakai. Karena saat kejadian ia lari mengungsi tanpa memakai baju. “Pertama saya bersama keluarga mengungsi kesini (Posko Balai Tempek 5). Dari rumah kesini ada sekitar 500 meter. Karena disini (Balai Tempek 5) dikepung air, saya lalu mengungsi ke Polsek Mendoyo” ungkapnya.
Bapak dua putri ini kini mengaku kebingungan harus tinggal dimana karena sudah tidak memiliki tempat tinggal. Dan jika benar pemerintah akan memberikan tempat tinggal, ia menyatakan setuju asalkan tetap di wilayah ini dan tanah serta rumah yang tempati selama ini tetap menjadi miliknya.
“Saya tidak kepikiran tukar guling. Kalau masih disekitar sini, saya mau. Nyicil juga mau. Saya sama teman-teman sudah bisik-bisik, teman saya juga mau” imbuhnya.
Rumah yang ia tempati bersama keluarga dan kakaknya itu menurutnya memiliki luas 5 are. “Saya trauma. Sudah tiga kali saya kena banjir bandang” pungkasnya. (Komang Tole)

