Megawati Soekarnoputri, Mengukir Sejarah Kemanusiaan di Timur Tengah

0
161

Jro Gde Sudibya, anggota Badan Pekerja MPR RI Fraksi PDI Perjuangan 1999 – 2004.

 

 

Diberitakan di media sosial, Presiden kelima Megawati Soekarnoputri diberikan penghargaan doktor kehormatan (DC.HC) oleh universitas perempuan terbesar di dunia, Princess Nourah bint Abdulrahman University (PNU), Riyadh Arab Saudi Senin, (9/2/2026).

Dalam sambutannya Pelaksana Tugas (Plt) Rektor PNU Fawziyah bint Suliman Al Amoro mengatakan Megawati sebagai tokoh global dan sebagai pioner kepemimpinan perempuan. Menjadi surprise, pemberian penghargaan diberikan di sebuah negara dengan tradisi patriakhi yang sangat kuat.

Pemberian doktor kehormatan ini, sebagai dinyatakan Megawati dalam kata sambutannya merupakan pemberian yang ke 11, memberikan penggambaran apresiasi dunia terhadap prestasi dan rekam jejak kepemimpinan Megawati.
Sudah tentu pemberian gelar kehormatan ini karena prestasinya dan rekam jejaknya sebagai negarawan, tetapi tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan sosoknya sebagai anak biologis dan ideologis Soekarno. Relasi biologis dan historis ini, bukanlah “take it for granted”, “karpet emas” menuju kekuasaan, diperlukan perjuangan super keras lahir batin dalam menghadapi “cengkeraman ” partiarkhi dalam dunia personal terlebih-lebih di dunia “super keras” politik. Megawati mampu melewatinya, dalam bahasa filosofis-motivasional, merubah tantangan menjadi peluang, dan memperkokoh daya tahan diri (resilensi) diri di tengah disrupsi perubahan.

Timbul pertanyaan reflektif, kenapa Adies, panggilan akrab Soekarno ke dia begitu tahan banting di tengah “deru campur debunya” kehidupan yang begitu keras.
Secara spekulatif, mungkin saja kekuatan “inner power” dari Megawati besar akibat dari:

Pertama, sebuah “moment of truth” sebagai gadis remaja mendampingi sang ayah di akhir masa kekuasaan dan di menjelang wafatnyq sang ayah. Pengalaman hidup yang “mematri” komitmen, cita-cita dan batin.

Baca Juga :  Ketua DPRD Badung Putu Parwata Nilai Beras C-PAR Solusi di Saat Pandemi

Kedua, bagi Megawati, ketidak-adilan bukanlah sebuah wacana dan kajian filosofis, tetapi menusuk jantung dan relung kehidupannya, sehingga fenomena ketidak-adilan merupakan bagian dari perjalanan dirinya. Mungkin karena pengalaman hidup ini, di bawah sadarnya yang kuat, tersimpan upaya keras untuk menegakkan keadilan sebagai pemaknaan kehidupan.

Ketiga, pengalaman panjang sebagai pemimpin partai yang dianggap sebelah mata, dengan teror dan kekerasan yang menyertainya, dan partai yang dipimpinnya memenangkan Pemilu 1999 pasca reformasi, memberikan tidak saja curve belajar, juga kearifan kehidupan, bagaimana semestinya memegang amanah publik seperti ditelandan dan diajarkan sang Ayah.

Selamat Bu atas prestasinya, tetap sehat menuju usia ke 80 tahun.
Rahayu.

 

 

link gacor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here