oleh : Ngurah Karyadi, petani dan penulis lepas
“Kini kita tengah hidup di negara di mana dokter menghancurkan kesehatan, pengacara menghancurkan keadilan, universitas menghancurkan pengetahuan, pemerintah menghancurkan kebebasan, pers menghancurkan informasi, agama menghancurkan moral, dan bank kita menghancurkan ekonomi.”
-Chris Hedge.
Sebuah kutipan tajam dari Christopher Lynn Hedges, seorang jurnalis, penulis, komentator, dan pendeta di belahan Amerika. Ungkapan sinis yang menyoroti lembaga-lembaga utama Negeri Paman Trump parallel dengab situasi negeri kita hari ini.
“Kita tidak mau, tidak akan lagi selalu didikte oleh bangsa lain,” ujar Prabowo dalam Indonesian Economic Outlook 2026 pada Jumat (13/2) lalu. Seolah sikap tersebut merupakan bukti bahwa Indonesia adalah bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri. Padahal, sesungguhnya “jauh panggang dari api”.
“Ini gue bicara sama mereka-mereka itu. Please, dear friends, Indonesia, Indonesian are not stupid!” lanjutnya. Kurang lebih berarti, atau meyakinkan bahwa Indonesia tidak bodoh. Namun, seperti “kerbau dicocok hidungnya”, saat disodomi Board of Peace-nya Paman Trump .
Bagi masyarakat Indonesia, yang lelah berhadapan dengan tingkah pemerintah pusat di Jakarta, tentu akan buang muka, mendengar Pidato Presiden, dan para pembantunya, yang biasa numpang panggunh.
Terlebih, jika kita mundur melihat pidatonya dalam World Economic Forum pada akhir Januari 2026 lalu, akan menemukan bahwa sang presiden berbicara dengan bahasa yang “di awang-awang”. Dalam bahasa nitizen bulan lalu, seperti melihat orang yang berbicara politik melalui konten di YouTube Kids, yang: Mem-bebek-kan!
Bebek adalah hewan unggas (itik) yang suka berenang dan bunyi kwak-kwek-kwok. Adapun, Bebek-an (Bali) bermakna kelelep, atau kemasukan air. Sementara, “Membebek” merupakan kata kerja, yang artinya mengikuti orang lain secara membabi buta, sekadar ikut-ikutan, atau tanpa punya pendirian sendiri.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencatatnya sebagai kiasan untuk orang yang hanya bisa mengekor. Sehingga,
mem-bebek-kan dapat diartikan sebagai tindakan menirukan (suara) bebek, atau membuat sesuatu menjadi seperti bebek. Metafora ini penulis gunakan secara formal, biasanya lebih ke bahasa percakapan atau konteks spesifik, terkait dinanika kekuasaan hari ini, yang boleh kritik asal sopan.
Mengapa sang presiden memilih kondisi seperti ini? Mengikuti Maleeha Lodhi dalam artikel “The Politics of Delusion” (2020), Presiden tampak menggunakan “Newspeak”. Sebuah istilah yang pertama kali digunakan George Orwell dalam novel “1984,” dimana ketika penguasa pidato garang, rakyat/publik menganggap angin lalu.
Secara umum, seperti Newspeak, Mem-bebek-kan merupakan strategi bahasa yang ditujukan penguasa untuk membatasi pikiran, membuat mereka yang berada dalam batasan tersebut hidup dalam imaji sebuah dunia otoriter, atau bahkan totalitarian. Tunduk dibawah garis komando, atau arahan penguasa, seperti Pengembala bebek.
Newspeak, atau Membebekan membuat berita palsu menjadi “senjata untuk memengaruhi emosi serta pilihan politik publik, atau membuat mereka mengesampingkan data, bukti dan fakta senyatanya.
Di tangah seorang Presiden yang berkuasa, seperti sosok Bung Besar dalam “1984,” Newspeak dapat menciptakan realitas baru bagi seluruh rakyat yang dipimpin. Namun, penguasa tampak tak berdaya menggunakan strategi itu di zaman medsos kini. Ada Rocky yang gerung-goreng-garong, atau Panji, yang Standup Komedi, dan atau Tiyo Ardiyanto, yang Ketua BEM-UGM, dan siapa lagi yang siap: #UtakUtikGatuk.
Sepertinya, Presiden Prabowo tengah terjebak sendiri, atau pun pembantunya terjebak senjata makan cuan. “Menyuapi ego Presiden dengan pesan yang salah adalah hal terakhir yang Indonesia perlukan. Dan itu yang tampaknya terjadi saat ini,” tulis editorial sejumlah media massa.
Sulit untuk tidak geram melihat seorang pemimpin masih betah hidup di dunia mimpi, ditemani si Bobby, yang kucing Kertanegara, sebagai pengiring tidurnya. Pilihan yang tersisa bagi kita saat ini, adalah menunggu sang pemimpin bangun, dan/ atau berakhir dibangunkan: Revolusi!, seperti peringatan Wiji Tukul, sang penyair.

