Ket foto : Ida Pedanda Gede Sadhawa Jelantik Putra (86) dari Geriya Sedawa, Desa Adat Tegal Tugu.
Diberitakan di media sosial, mantan Ketua DPRD Bali 2 periode pasca reformasi IB.Putu Wesnawa telah “berpulang”.
Setelah purna tugas dari DPRD Bali, melinggih sebagai rokhaniwan dengan ” pesengan” Ida Pedanda Sadhawa Jelantik Putra.
Sebagai politisi, pejabat publik, Pak Wis demikian rekan-rekan dekat menyebutnya, lebih dikenal sebagai menyebut beberapa, guru, pendidik pemberi teladan, dengan latar belakang sebagai guru dan pejuang nasionalis yang tidak mengenal kata menyerah. Di Gianyar dengan begitu mudah kita menemukan mantan muridnya, yang menjadikan Pak Wis panutan lahir batin. Sebagai politisi yang makan “asam garam” dunia politik, terlebih-lebih dalam masa penuh tekanan, Pak Wis adalah politisi tenang, tidak meledak-ledak, menggunakan rasa dan intuisi dalam pengambilan keputusan politik penting.
Politisi yang sangat rendah hati, sering memberikan tempat yang lebih khusus kepada politisi yang lebih muda, yang menurut rasa beliau sangat berbobot dan sangat pantas untuk didengar.
Dalam banyak pertemuan, dalam moment sebagai Ketua DPD Perjuangan Bali dan juga Ketua DPRD Bali, banyak kesempatan untuk memanfaatkan peluang kekuasaan, tetapi dari nada kalimatnya yang tenang, teratur, gesture, terpancar politik adalah jalan pengabdian bagi upaya mencapai cita-cita Republik. Sebagai sebut saja anak ideologis Soekarno, Pak Wis paham betul akan makna ucapan Soekarno, politik adalah kesempatan emas mengabdi Republik, meminjam retorika Soekarno, memihak Si Marhaen, “Wong Cilik”. Spirit ajaran Bung Karno yang sampai hari ini tetap relevan.
Selamat jalan Ida Pedanda, semoga bertemu dengan Ida Pedanda Istri di Sorga sana, yang telah lebih dulu “berpulang” di masa pandemi yang berat itu.
Penulis: Jro Gde Sudibya, anggota MPR RI Utusan Daerah Bali, Anggota Badan Pekerja MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan 1999 – 2004, ekonom, pengamat ekonomi politik.

